KPK Periksa Mantan Kadiv Waskita Karya Terkait Korupsi Proyek Fiktif

Arie Dwi Satrio, Okezone · Selasa 03 Desember 2019 15:10 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 03 337 2137415 kpk-periksa-mantan-kadiv-waskita-karya-terkait-korupsi-proyek-fiktif-GXaZeWCCmb.JPG Juru Bicara KPK, Febri Diansyah (Foto: Okezone.com/Arie Dwi Satrio)

JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap mantan Kepala Divisi II PT Waskita Karya (Persero), Fathor Rachman. Ia akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan korupsi pekerjaan subkontraktor fiktif dalam proyek-proyek yang digarap PT Waskita Karya.

Fathor Rachman sendiri merupakan salah satu tersangka dalam kasus ini. Kesaksian Fathor dibutuhkan untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka lainnya, yakni mantan Kabag Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya, Yuly Ariandi Siregar (YD).

"Yang bersangkutan diperiksa untuk tersangka YD," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah melalui pesan singkatnya, Selasa (3/12/2019).

Belakangan, penyidik KPK memang sedang fokus mengusut kasus dugaan korupsi yang ditaksir merugikan keuangan negara hingga Rp186 miliar tersebut‎. Fokus pengusutan perkara ini ditandai dengan intensnya pemeriksaan terhadap sejumlah saksi.

Salah satu saksi yang pernah diperiksa KPK yakni mantan Kepala Divisi III Waskita Karya yang kini menjabat Dirut PT Jasa Marga, Desi Arryani. Dalam pemeriksaan tersebut, tim penyidik mencecar Desi mengenai peran dan pengetahuannya terkait pekerjaan-pekerjaan subkontrak fiktif di 14 proyek yang digarap Waskita Karya. Diduga,terdapat pekerjaan fiktif dalam proyek yang digarap Divisi III Waskita Karya saat dipimpin Desi.

Sejauh ini, KPK baru menetapkan mantan Kepala Divisi (Kadiv) II PT Waskita Karya, Fathor Rachman (FR) serta mantan Kepala Bagian (Kabag) Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya, Yuly Ariandi Siregar (YAS) sebagai tersangka.

Kedua pejabat Waskita Karya tersebut diduga telah memperkaya diri sendiri, orang lain, ataupun korporasi, terkait proyek fiktif pada BUMN. Sedikitnya, ada 14 proyek infrastruktur yang diduga dikorupsi oleh pejabat Waskita Karya. Proyek tersebut tersebar di Sumatera Utara, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Timur, dan Papua.

Fathor dan Ariandi diduga telah menunjuk empat perusahaan sub kontraktor untuk mengerjakan pekerjaan fiktif pada sejumlah proyek konstruksi yang dikerjakan Waskita Karya.

Empat perusahaan sub kontraktor yang telah ditunjuk Ariandi dan Fathor tidak mengerjakan pekerjaan sebagaimana yang tertuang dalam kontrak. Namun, PT Waskita Karya tetap melakukan pembayaran terhadap empat perusahaan sub kontraktor tersebut.

Selanjutnya, perusahaan-perusahan sub-kontraktor tersebut menyerahkan kembali uang pembayaran dari PT Waskita Karya kepada sejumlah pihak termasuk yang kemudian diduga digunakan untuk kepentingan pribadi Fathor dan Ariandi.

Diduga, telah terjadi kerugian keuangan negara sekira Rp186 miliar. Perhitungan kerugian keuangan menurut Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tersebut merupakan jumlah pembayaran dari PT Waskita Karya kepada perusahaan-perusahaan sub kontraktor pekerjaan fiktif.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini