nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Guru Honorer: Gaji Secukupnya yang Penting Ikhlas Mengabdi

Rus Akbar, Jurnalis · Sabtu 30 November 2019 12:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 30 337 2136318 guru-honorer-gaji-secukupnya-yang-penting-ikhlas-mengabdi-ZsAeFy20fs.jpg Guru Honorer, Ernawati (foto: Okezone.com/Rus Akbar)

PADANG - Perempuan setengah baya itu hanya menunduk memperhatikan kertas putih yang sudah bertuliskan kalimat Arab, dan tulisan Indonesia, dengan seksama ia memperhatikan tulisan itu kadang keningnya berkerut. Ada puluhan kertas yang tersusun di atas mejanya kadang dia terkejut ketika kertas tersebut beterbangan saat tertiup kipas angin, satu persatu juga dipungutnya di lantai.

Ernawati (52) seorang guru agama Islam di SDN 02 Ulak Karang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat, di sekolah tersebut sudah mengabdi sejak 2016.

“Saya mulai mengajar disini Januari empat tahun silam,” tuturnya pada Okezone.

 Lipsus Guru

Ia pun menceritakan menjadi guru honorer sudah 26 tahun silam, saat ia mengajar sebagai guru agama di Kabupaten Pesisir Selatan.

“Dulu saya mulai mengajar pada tahun 1993 di SD Kampung Tengah Kabupaten Pesisir Selatan,” terangnya.

Tujuh tahun mengajar di Pesisir Selatan kemudian pindah di SD Pembangunan Laboratorium Universitas Negeri Padang pada tahun 2010 sebagai guru agama dengan status sebagai guru honorer.

“Tahun 2016 saya baru pindah di SDN 02 Ulak Karang Selatan sampai hari ini,” terangnya.

Sebelum jadi guru, Ernawati ini sekolah di SPG (Sekolah Pendidikan Keguruan) sekolah ini dulu setingkat dengan SMA, kemudian dilanjutkan DII PGSD di Padang, kemudian disambung lagi ke S1 Sekolah Tinggi Agama Islam Yayasan Tarbiyah Islamiyah Padang.

“Tes masuk ASN sudah berkali-kali saya lakukan tapi gimana lagi tidak lulus-lulus, bahkan saya sendiri sudah lupa berapa kali saya ikut tes, sampai sekarang tidak mungkin karena usia sudah melewati, harapan hanya satu pengangkatan guru honor jadi PNS tapi tidak tahu kapan dilakukan,” ujarnya.

Meski pendapatan hasil minim jadi guru tapi ibu tiga orang anak ini suka menjadi guru.

“Memang sejak dulu saya bercita-cita jadi guru mengajar, kan bagus itu bisa menciptakan anak-anak yang hebat, sudah tidak terhitung lagi anak-anak dari sekolah ini jadi orang berguna,” katanya.

Jadi guru honor yang sudah menahun ini dihadapi dengan iklhas saja, kata Ernawati. Pada pukul 06.45 WIB sudah berada di sekolah dan pulang pukul pada pukul 16.00 WIB atau 17.00 WIB.

“Saya paling terakhir pulang dari sekolah dibanding guru, karena saya memeriksa hasil ujian, PR, UAS murid nanti diserahkan kepada kepala sekolah. Hasil tugas itu diperiksa dari kelas 1 sampai 6 itu ada sebanyak 150 orang, itu yang diperiksa,” terangnya.

Ernawati tinggal di Kelurahan Kurao Pagang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, dari rumah dia naik ojek begitu juga dia pulang.

“Kami tidak ada kendaraan jadi naik ojek saja dalam sehari dia mengeluarkan biaya ongkos pulang pergi itu Rp20 ribu dan makan Rp10 ribu, jadi dalam satu hari bisa mengeluarkan uang Rp30 hari, belum lagi biaya foto kopi tugas, soal kita juga yang menanggungnya pasalnya ada gaji guru yang ikut sertifikasi, itu khusus guru yang ikut sertifikasi dan saya ikut atas bantuan sekolah,” terangnya.

Satu bulan dia mendapat gaji senilai Rp1,8 juta, jadi kata Ernawati kalau dikalikan dengan pengeluaran untuk ongkos dan biaya makanan saja ada sekira Rp780 ribu itu diluar biaya foto kopi soal-soal ujian sekolah.

“Mungkin sudah sampai Rp900 ribu perbulan. Menerima gaji itu juga tidak tiap bulan, gaji biasanya sekali tiga bulan baru cari, kadang sudah masuk tiga bulan yang dibayar dua bulan, gimana lagi gaji kami yang khusus untuk honor ini didapat dari dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) itupun dibagi kedalam jumlah guru honor disini, ada empat orang honor jadi itu dibagi, kalau Bosda kecil maka kami akan mendapatkan hal yang kecil,” tuturnya.

Minimnya gaji tersebut Ernawati hanya sanggup menguliahkan anaknya sampai sarjana, anak paling sulung bernama Indah Permatasari, itupun lulus lewat bidik misi di Universitas Negeri Padang di Tata Boga, sehingga tidak lagi membayar uang kuliah.

“Sekarang dia sudah tamat kuliah, anak saya kedua dia tamat SMK kini kerja di bengkel adek saya, sementara anak paling bungsu masih sekolah di SMK,” katanya.

Ernawati bisa bernapas lega dari sesaknya kebutuhan rumah tangga, selain honor dari Bosda dia juga mendapatkan gaji guru khusus sertifikasi, satu bulan dia diganjar dengan gaji Rp1,5 juta. Tapi diterimanya gaji itu dia juga mendapatkan beban kerja yaitu membuat soal-soal siswa foto kopi soal-soal itu diambil dari gaji artinya semua kebutuhan siswa mengenai ujian dari gajinya.

“Itupun dibayar sekali tiga bulan dan sekali empat bulan,” ujarnya.

Kehidupan Ernawati terbantu setelah suami keduanya ini merupakan penasiunan dosen UNP.

“Suami pertama saya meninggal pada tahun 2014 dia menderita penyakit komplikasi, setelah meninggal pada tahun yang sama, saya menikah dengan pensiunan dosen UNP saat itu anak saya kelas enam SD,” tuturnya.

Sementera itu, berbeda Ernawati beda juga yang dialami Erkulesman (54), honor sekitar Rp500 ribu/bulan, hasil mengajar di dua sekolah berbeda selama enam hari dalam sepekan.

“Saya memang senang mengajar. Senang dengan profesi sebagai guru. Bayangkan saja, murid-murid saya ada yang sudah jadi polisi, dokter, pegawai negeri dan tentara. Semoga mereka masih mengingat saya. Jujur saja, menjadi guru honor memang harus banyak bersabar,” kata Erkulesmen.

 Guru Honorer

Ia pun sudah banyak pindah-pindah sekolah, mulai SDN 57 Aia Dingin, SDN 42 Sungai Lareh, SDN 36 Aia Pacah, SDN 02 Timbalun Bungus, SDN 20 Labuhan Tarok, SMPN 37 Sungai Pisang, Pondok Pesantren Borong Balantai, SDN 28 Rawang Timur, SMPN 19 Bungus.

Deretan sekolah itu jadi saksi bisu pengabdian Erkulesman dari satu tempat ke tempat lain. Dua sekolah yang disebutkan terakhir jadi tempatnya mengabdi saat ini. Dari dua sekolah tempat ia mengajar sekarang, Pak guru yang periang itu menerima honor sebesar Rp40.000x12 jam/bulan di SMPN 19, ditambah Rp200 ribu/bulan dari SDN 28 Rawang Timur.

Tentu saja, jumlah itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ditambah lagi ia harus naik ojek setiap hari ke sekolah, sehari ia membayar Rp4.000 untuk sewa ojek. Artinya, Rp104 ribu/bulan ia habiskan untuk transportasi.

“Memang tidak cukup. Tapi, ya, dicukup-cukupkan. Tuhan selalu memberikan pertolongannya. Jalan rezeki ada-ada saja. Kadang saya diundang member pengajian di mushala-mushala,” jelas lulusan angkatan pertama sarjana agama (S.Ag) di STAI/Yastis Bukittinggi (sekarang Padang) tersebut.

Selama berkarir sebagai pendidik, kerap kali Erkulesman merasakan kegetiran meninggalkan sekolah karena tergusur guru PNS baru yang baru diangkat. Katanya, di beberapa sekolah ia diberhentikan secara sepihak, tanpa diberitahu, apalagi diajak bermusyawarah. Bahkan, istrinya yang juga seorang guru honorer, sudah berhenti mengajar karena terus tergusur.

“Buya sudah tidak bisa mengajar lagi. Sudah ada guru PNS yang masuk,” katannya sambil menirukan pesan seorang guru tentang pemberhentiannya di salah satu sekolah beberapa tahun lalu.

Erkulesman ingin memperbaiki kehidupannya, tak terhitung berapa kali ia mengikuti ujian penerimaan CPNS, bahkan hingga ke luar Sumbar dan berani menyeberangi lautan. Kepulauan Mentawai, Jambi, Padang, Solok, Sawahlunto, Padang Panjang, semua tempat itu sudah dijajakinya untuk ikut seleksi penerimaan pegawai negeri. Tapi, nasib mujur tak pernah berpihak, ia tak pernah lulus tes hingga usianya terus bertambah dan tak bisa lagi ikut seleksi jalur umum.

“Saya tak pernah lulus tes PNS. Sekarang, sedikit harapan bergantung pada janji pemerintah yang akan mengangkat secara bertahap guru honorer K-2. Namun, jika terlalu berharap saya takut tambah kecewa. Jika sudah tiba waktunya dan tak juga diangkat, mungkin saya mengabdi di pesantren saja, ditambah mengajar ngaji di rumah,” ujarnya.

Tahun lalu, Erkulesman nyaris mengikuti ujian untuk memperoleh sertifikasi. Namun, lagi-lagi ia harus mengurut dada karena pemerintah lebih memprioritaskan PNS, sehingga datanya harus tergiling lagi oleh nama-nama guru PNS.

Sekarang, di usianya yang sudah setengah abad, Erkulesman masih berharap pada janji pemerintah untuk mengangkatnya menjadi pegawai negeri. Padahal, kalaupun diangkat tahun depan, ia hanya bisa menikmati status tersebut hingga usia 60 tahun. (wal)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini