nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nasib Guru Honorer, Susah Payah Menyambung Hidup karena Gaji Tak Layak

Avirista Midaada, Jurnalis · Sabtu 30 November 2019 10:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 30 337 2136305 nasib-guru-honorer-susah-payah-menyambung-hidup-karena-gaji-tak-layak-BRKZwJIQM3.jpg Guru saat mengajar di kelas. (Foto: Okezone.com/Avirista Midada)

BOJONEGORO – Gaji yang tak seberapa membuat para guru harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah kenaikan segala kebutuhan. Meski sejumlah provinsi telah mengetuk Upah Minimum Regional (UMR), ternyata masih banyak guru yang gajinya pendidik jauh dari UMR.

Jangankan untuk kebutuhan lainnya, gaji itu bahkan tak cukup untuk menanggung kebutuhan makan sehari-hari. Merekapun harus mencari alternatif pemasukan lain supaya dapur rumah tetap bisa mengepul.

Salah seorang guru Madrasah Ibtidaiyah di Bojonegoro bernama Ahmad Yunus, menyebut hanya digaji Rp175 ribu per bulannya.

"Saya guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah swasta, per bulannya Rp175 ribu. Itupun tidak rutin dibayar per bulannya," ujarnya kepada okezone.

Yunus sadar, sebagai seorang guru tanggung jawabnya tak kecil karena mengajar dan mendidik puluhan siswa bukan hal yang mudah. Terlebih ia juga harus menghidupi sang istri.

“Ibarat kata dapur harus terus mengebul, makanya harus mencari sampingan. Di luar mengajar di sekolah, saya punya lembaga bimbel (bimbingan belajar) di rumah,” jelasnya.

Menurutnya, lembaga bimbel inilah yang mampu ‘menyokong’ perekonomian keluarganya. “Di lembaga Bimbel ini kita ada tiga tentor, termasuk saya. Per orang mendapat tambahan Rp300 ribu. Ya lumayan untuk menghidupi keluarga,” ucapnya.

Infografis Okezone.

Mengajar bimbel ini dilakukan Yunus sepulang sekolah setiap hari Senin sampai Kamis pada malam hari. “Lesnya malam hari, yang ikut sekitar 25 siswa SD dan MI,” ungkap pria yang mengajar di salah satu Madrasah Ibtidaiyah swasta di Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro.

Mencari pemasukan tambahan bagi guru juga dirasakan Novia Fatimatun. Guru di tingkat Taman Kanak-Kanak di sebuah desa di Kecamatan Kalianyar, Bojonegoro ini per bulannya hanya mendapat gaji Rp200 ribu.

Demi menambah pemasukan keluarga, ia sempat berjualan pakaian secara online. “Berjualan online, tapi sama suami disuruh berhenti saja daripada tidak fokus,” kata dia.

Foto: Istimewa

Ia menambahkan, meski dirinya telah mendapat tunjangan bagi guru memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Pendidikan (NUPTK) sebagai data pokok guru di Indonesia, tunjangan itu hanya dicairkan setahun sekali dengan jumlah Rp2,4 juta.

“Ya dicukup-cukupkan, yang penting suami berpenghasilan meski tak banyak,” ucapnya.

Ia mengaku harus pintar mengatur keugangan agar bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Penghasilan jauh di bawah UMR juga dirasakan Dini, seorang guru asal Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Dini yang mengajar ratusan murid sebuah sekolah dasar di Kecamatan Durenan hanya digaji Rp150 ribu per bulan.

Namun ia sedikit beruntung lantaran mempunyai sampingan mengajar di SMK swasta di Panggul, Trenggalek.

“Kalau di rata-rata penghasilan per bulan sekitar Rp800 ribu (dua sekolah),” kata dia.

Penghasilan ini dirasa cukup sebagai penyokong tambahan bagi suami yang juga bekerja. Namun meski dirasa cukup, ia sepakat bila penghasilan yang didapatnya masih jauh dari layak.

“Ya memang risiko, dijalani dengan ikhlas,” imbuhnya.

Ketiga pengajar ini sepakat, pemerintah seharusnya lebih memperhatikan nasib tenaga pengajar di Indonesia.

“Ya semoga pemerintah itu bisa memperhatikan nasib kita,” harap Yunus.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini