Share

KPAI Sayangkan Keputusan SMP di Batam Mutasi Siswa karena Tolak Hormat Bendera

Erha Aprili Ramadhoni, Okezone · Kamis 28 November 2019 13:17 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 28 337 2135490 kpa-sayangkan-keputusan-smp-di-batam-mutasi-siswa-karena-tolak-hormat-bendera-Ua0FmwFyCQ.jpg Ilustrasi (Dok Okezone)

JAKARTA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan keputusan SMPN di Batam, Kepulauan Riau, yang memutasi kedua siswanya lantaran tak mau hormat bendera saat upacara.

"KPAI menyayangkan keputusan sekolah yang didukung oleh Dinas Pendidikan kota Batam yang memutuskan memutasi 2 siswa tersebut ke PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)," kata Komisioner KPAI, Retno Listyarti, dalam keterangannya, Kamis (28/11/2019).

Menurutnya, kemungkinan besar orangtua berkeberatan anaknya dipindahkan ke PKBM. Apalagi, kata Retno, sewaktu bersekolah di jenjang SD, kedua anak itu diperbolehkan upacara meskipun tidak melakukan hormat bendera.

"Demi kepentingan terbaik bagi anak, KPAI mendukung anak tetap bisa bersekolah, tetapi bukan di PKBM," ucap Retno.

Kecuali, lanjut dia, anak tersebut memang ingin pindah ke PKBM. Menurutnya, anak harus didengar pendapatnya sebelum keputusan mutasi diambil.

"Kedua anak seharusnya di-assessment psikologi terlebih dahulu agar keputusan dapat mempertimbangkan kondisi psikologis kedua anak yang bersangkutan," katanya.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti (Foto : Okezone.com)

Apalagi, Retno menjelaskan, suasana belajar antara sekolah awal dengan PKBM tentulah sangat berbeda, secara psikologis pasti berdampak pada anak, misalnya menjadi rendah diri dan kurang bersemangat belajar/berprestasi.

Menurut Retno, sekolah tidak bisa menghukum seorang siswa tanpa didasarkan pada aturan yang ada.

KPAI juga mendorong ada tindaklanjut dari keputusan yang sudah diambil pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Batam.

"Sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Batam harus lebih intensif dan maksimal lagi memberikan pengertian kepada keluarga dengan menggandeng Kementerian Agama, pemerintah daerah dan tokoh agama terkait," ucapnya.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Selain itu, kata Rento, pihaknya mendorong dimaksimalkannya upaya persuatif dan terencana antara Pemda bersama Kementerian Agama melakukan intervensi berbasis keluarga karena agama anak umumnya mengikuti orangtuanya.

"Hal ini untuk mencegah penyebaran keyakinan bahwa mengangkat tangan untuk hormat bendera berbeda dengan menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa. Upaya ini juga sekaligus mengedukasi orangtua dan masyarakat untuk menguatkan nilai-nilai kebangsaan," tuturnya.

Baca Juga : Siswa SMP Dikembalikan ke Orangtua karena Tolak Hormat Bendera dan Nyanyi Indonesia Raya

Sekadar diketahui, SMPN 21 Batam mengembalikan dua siswanya kepada orangtua karena tidak mau hormat bendera saat upacara. Diduga kedua siswa tersebut enggan hormat bendera lantaran keyakinannya melakukan hal tersebut.

Pihak SMPN 21 Batam sempat melakukan pendekatan persuasif untuk mencari solusi dari masalah tersebut dengan memanggil orangtua kedua siswa. Namun karena tidak kunjung menemukan mufakat, kedua siswa itu dikembalikan ke orangtuanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini