Soal Reuni Akbar, PA 212 : Kecurigaan Wamenag Tak Beralasan

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 28 November 2019 07:47 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 28 337 2135352 soal-reuni-akbar-pa-212-kecurigaan-wamenag-tak-beralasan-Trvu4Hr08r.jpg Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif. (Foto : Okezone.com)

JAKARTA – Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Ma'arif, angkat suara menanggapi pernyataan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa'adi terkait gelaran reuni akbar 212 yang akan dilaksanakan pada 2 Desember 2019.

Menurut Slamet Ma'arif, secara konstitusional, Kemenag tidak berhak melarang ataupun mengizinkan acara keagamaan‎. Bahkan, kata Slamet, bukan kewenangan Kemenag mempermasalahkan perizinan untuk menyatakan pendapat di muka umum.

"Secara konstitusional bukan Kemenag yang membolehkan atau tidak mengizinkan acara keagamaan dan menyatakan pendapat di depan umum," kata‎ Slamet kepada Okezone, Kamis (28/11/2019).

Slamet menegaskan, kecurigaan ‎Zainut terkait isu yang akan dibawa dalam gelaran reuni akbar 212 tidak beralasan. Sebab, katanya, selama tiga tahun berturut-turut, acara reuni 212 selalu tertib, aman, dan damai.

"3 tahun berturut-turut kita menggelar pergelaran akbar 212 aman, damai tertib, bersih, penuh toleransi, bahkan diakui dunia. Kecurigaan Wamenag tak beralasan," ucapnya.

Reuni Akbar 212 Berjalan Tertib dan Damai

Slamet menjelaskan, ‎pada reuni akbar 212 kali ini justru pihaknya akan membawa isu yang merekatkan kembali persaudaraan antarumat Islam.

"Bahkan, acara reuni 212 kita akan merekatkan kembali persaudaraan umat Islam, bangun ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathoniyyah," ujarnya.

‎Sebelumnya, Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi mempersilakan digelarnya reuni akbar 212 pada Senin, 2 Desember 2019. ‎. Tetapi, kata Zainut, acara tersebut tidak boleh membawa isu provokasi serta menebarkan kebencian dan adu domba.


Baca Juga : Soal Reuni 212, Mahfud MD: Itu Hak Warga, yang Penting Tertib

"Jika reuni tersebut diisi kegiatan yang tidak baik, misalnya melakukan provokasi, memfitnah, menebarkan ketakutan, kebencian, dan mengadu domba maka reuni tersebut bisa menimbulkan dosa," kata Zainut.

Menurut Zainut, reuni 212‎ hukumnya mubah atau tidak dilarang. Namun juga, tidak ada unsur yang mewajibkan umat Islam untuk datang ke acara tersebut.

"Reuni 212 hukumnya mubah atau boleh-boleh saja, tidak ada anjuran juga tidak ada larangan. Dilaksanakan tidak apa-apa, tidak dilaksanakan juga tidak berdosa. Namanya juga berkumpul dan bersilaturahmi," ujarnya.


Baca Juga : Kemenag Persilakan Reuni 212 Asal Tidak Membawa Isu Provokasi

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini