Ryamizard Minta Semua Pihak Antisipasi Terorisme

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Senin 25 November 2019 14:05 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 25 337 2134120 ryamizard-minta-semua-pihak-antisipasi-terorisme-OuZDcDaE1w.jpg Ryamizard Ryacudu. (Foto : Okezone.com/Harits Tryan Akhmad)

JAKARTA – Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengaku terorisme merupakan salah satu ancaman bagi bangsa Indonesia.

“Ancaman nyata itu teroris, bencana alam, pemberontakan, narkoba, masalah intelijen, masalah wabah penyakit. Itu berulang-ulang selama saya empat tahun (menjabat),” ujar Ryamizard dalam dialog kebangsaan bertema “Gelorakan Semangat Bela Begara dalam Menghadapi Ancaman Terorisme dan Liberalisme” di Senayan, Jakarta, Senin (25/11/2019).

Ryamizard berujar, terorisme merupakan masalah yang terus berulang. Karena itu, ia meminta semua pihak terlibat untuk mengantisipasi terorisme.

“Kita lakukan adalah dengan semua ikut berpartisipsi,” ucapnya.

Menurut dia, tipikal teroris dalam melancarkan aksi saat ini berbeda-beda. Seperti bom di Surabaya tahun lalu, seorang ibu nekat membawa anaknya saat menjadi jihadis.

Dialog kebangsaan bertema “Gelorakan Semangat Bela Begara dalam Menghadapi Ancaman Terorisme dan Liberalisme” di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (25/11/2019). (Foto : Okezone.com/Harits Tryan Akhmad)

Ryamizard pun heran dengan doktrin bahwa pelaku bom teror pria apabila berhasil menjalankan aksinya bakal mendapatkan 72 bidadari di surga.

“Pertanyaannya sama orang yang nyuruh itu, kalau tahunya saya masuk duluan surga. Ini nyuruh-nyuruh dia enggak mau masuk surga? Ini enggak masuk akal,” tuturnya.

Sementara, Kabag Pemantauan dan Analisa Ro Multimedia Divisi Humas Polri, Kombes Dirmanto mengakui apabila permasalahan terorisme dan radikalisme merupakan musuh bangsa dan bersama.

Jika merujuk pada data yang dimiliki Polri pada 2018, setidaknya 396 orang ditangkap lantaran terlibat dalam kasus terorisme. Dia berharap, pada tahun-tahun mendatang jumlah tersebut semakin berkurang.

“Sementara data petugas Polri yang meninggal ada 31 orang. Mudah-mudahan teror radikal di tahun berikut bisa kita tekan, semua sinergi bersama,” katanya.

Sementara penulis buku Teroris Kanan Indonesia yang juga Rektor Universitas Widyatama, Obsatar Sinaga menyatakan, bangsa Indonesia sejatinya mampu menangani permasalahan ancaman terorisme dan radikalisme.

“Saya kira kita mampu menangani,” kata Obsatar.

Seorang anggota polisi mengawal penggeledahan Densus 88 di sebuah rumah milik terduga teroris di Cirebon. (Foto: Fathnur Rahman/Okezone)Seorang anggota polisi mengawal penggeledahan Densus 88 di sebuah rumah milik terduga teroris di Cirebon. (Foto: Fathnur Rahman/Okezone)

Menurutnya para terorisme menggunakan cara dengan menakut-nakuti masyarakat melalui terornya. Jika terornya berhasil membuat masyarakat resah dan takut, tujuan mereka melakukan teror pun tersampaikan.

“Makin kita takut, makin reaksi kita besar dan kemudian kebijakan pemerintah mengarah ke situ maka semakin besar terorisme,” ujar Obsatar.


Baca Juga : BNPT Ungkap 10 Provinsi Jadi Target Serangan Teroris

Karena itu, untuk mencegah aksi terorisme di Indonesia, dia meminta semua unsur untuk saling bersinegi dengan aparat yang berwajib. Seperti melakukan laporan apabila menilai ada kelompok yang mencurigakan.

“Masyarakat melaporkan ke pihak berwajib. Jadi enggak ada celah untuk terorisme berkembang di mana pun kalau semua rakyat melaporkan,” tuturnya.


Baca Juga : Fadli Zon Minta Pemerintah Tak Dramatisir Isu Radikalisme-Terorisme

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini