nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BSSN: Ekstremisme Tak Lepas dari Kemajuan Teknologi

Muhamad Rizky, Jurnalis · Sabtu 23 November 2019 16:33 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 23 337 2133582 bssn-ekstremisme-tak-lepas-dari-kemajuan-teknologi-mbBfP9PAeL.jpg Dharma Pongrekun. (Foto: Okezone.com/M Rizky)

JAKARTA - Wakil Ketua Badan Siber Sandi Nasional (BSSN) Komjen Pol Dharma Pongrekun menyebutkan, bangsa Indonesia menjadi negara yang sangat dirugikan lantaran aksi ektremisme yang ada di berbagai dunia. Hal itu disampaikan Dharma di acara ‘Indonesia Islamic Young Leaders Summit’ 2019 di DPR, Sabtu (23/11/2019).

Menurut dia, dampak dari pada maraknya aksi ektremisme di dunia menyebabkan hubungan antarumat beragama di Indonesia terganggu.

"Bangsa kami sejak dahulu kala dikenal sebagai bangsa yang menjunjung semangat Bhinneka Tunggal lka, bersatu dalam keragaman. Tapi semangat ini mulai terkoyak sejak arus globalisasi menyerbu negeri ini dalam dua dekade terakhir," ucapnya.

Dharma menyebut bahwa aksi ektremisme yang dilakukan oleh kelompok tertentu tidak terlepas dari kemajuan teknologi. Bahkan teknologi membuat pemikiran seseorang termanipulasi, contohnye kecanduan gadget.

"Informasi dan komunikasi ini akan mengalami delusion (delusi) dan cenderung melakukan tindakan-tindakan di luar akal sehat," ungkapnya.

Dharma Pongrekun.

Berdasarkan penelitiannya, kata Dharma, smartphone mampu memancarkan gelombang hypno electromagnetic yang dapat merusak DNA dan akhirnya merusak hormon dopamin (pengendali emosi) dan hormon kortisol (pengedali stres).

"Siapa pun yang sudah terpapar akan terdorong membuat dan menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian melalui media sosial yang pada akhirnya memicu aksi radikalisme dan terorisme," tambahnya.

Karena itu pula Dharma meyakini bahwa maraknya kasus hoaks dan ujaran kebencian hingga memicu aksi-aksi terorisme. Hal itu sendiri muncul dari hasil rekayasa ketakutan yang diciptakan oleh rezim globalisasi.

"Melalui teknologi informasi dan komunikasi inilah rezim globalisasi malancarkan rekayasa-rekayasa ketakutan (fear engineering) sehingga pola pikir manusia dipenuhi rasa takut dan akhirnya mencari perlindungan kepada yang kuat," kata dia.

Dharma menambahkan bahwa, globalisasi merupakan sistem dari suatu suprasistem yang bertujuan merekayasa kehidupan dengan cara memanipulasi pola pikir manusia melalui berbagai rekayasa ketakutan. Mulai dsri rekayasa kecerdasan, rekayasa konflik, dan penyerangan rekayasa. Sehingga, manusia dipenuhi oleh rasa takut dan menjauh dari rasa keimanan kepada kemahakuasaan Tuhan.

"Globalisasi telah membawa kerusakan fatal bagi kehidupan umat manusia antara lain runtuhnya nilai-nilai sakral dalam kehidupan, raibnya keintiman hubungan sesama manusia, pudarnya integrasi sosial yang murni, serta perubahan gaya hidup yang meninggalkan moralitas dan agama," ucapnya.

"Tujuan akhir dari rekayasa kehidupan adalah menjauhkan manusia dari fitrahnya makhluk ber Tuhan atau atheis," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini