Hadiri Syukuran KAHMI, Mahfud MD Curhat Batal Jadi Wapres

Achmad Fardiansyah , Okezone · Jum'at 22 November 2019 00:15 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 21 337 2132949 hadiri-syukuran-kahmi-mahfud-md-curhat-batal-jadi-wapres-pYG0ygBCFE.jpg Menko Polhukam, Mahfud MD (Foto: Okezone.com/Heru Haryono)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD menghadiri acara syukuran pelantikan menteri yang diprakarsai oleh Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di rumah kediaman Penasihat Majelis Nasional KAHMI, Akbar Tanjung.

Tasyakuran ini digelar sebagai wujud rasa syukur atas terpilihnya kader KAHMI menjadi menteri dalam Kabinet Indonesia Maju, Jokowi-Ma'ruf Amin.

Pada kesempatan itu, Mahfud menyinggung soal dirinya yang nyaris saja menjadi cawapres Joko Widodo (Jokowi) pada gelaran Pemilihan Presiden 2019 lalu.

"Terus terang ketika saya enggak jadi wakil presiden, ketika sudah banyak berharap, saya juga berharap, kita juga berharap karena sudah buat baju," ujarnya disambut tawa para tamu undangan yang hadir, Kamis (21/11/2019).

Ketika partai koalisi pendukung Jokowi tidak menghendaki Mahfud menjadi pendamping petahana dalam kontestasi Pilpres 2019, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itupun mengaku pasrah dan legowo.

"Ketika enggak jadi, inilah mengalir. Nanti akan ada aliran lain, karena itu dari Allah. Cerita manusia mengalir sesuai kehendak Allah," kata Mahfud.

Mahfud juga bercerita pengalamannya saat menjadi anggota DPR. Kala itu ia pernah diminta untuk menjadi salah satu menteri di kabinet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mahfud mengaku dirinya pernah dipanggil sampai empat kali, namun takdir lagi-lagi berkata lain.

Mahfud MDMahfud MD (Foto: Okezone/Arif Julianto)

"Waktu itu, Tuhan menentukan saya mengalir sampai sini dulu. Ketika saya menjadi anggota DPR waktu Pak SBY jadi presiden, saya sudah dipanggil mau dijadikan menteri waktu itu, waktu periode pertama. 'Nanti Pak Mahfud ikut saya lagi, kalau saya menang'. Dan memang betul, dan dipanggil 4 kali. Tapi enggak jadi (menteri). Dan Tuhan, kira-kira memberi hikmah. Kamu jangan jadi menteri, jadi DPR dulu. Sudah itu nanti kamu mengalir ke suatu tempat yang namanya mahkamah konsitusi, yang lebih bagus dari kabinet," tuturnya.

Ia pun tersadar bahwa segala sesuatu harus melalui proses panjang, dan tidak instan terjadi begitu saja. "Jadi, disebut air mengalir, waktu enggak jadi enggak apa-apa. Saya berpikir tidak sakit hati itu untuk bersabar, berjuang hebat, akhirnya jatuh juga. Kalau saya tidak jatuh cuma enggak jadi masuk. Untuk apa sedih," ucap Mahfud.

Pada akhirnya, Mahfud yakin betul jika Jokowi tidak mempermainkannya. "Saya ingin membangun Pak Jokowi itu sungguh-sungguh. Tapi pada waktu itu isu politik. Dan saya ingin membangun, waktu itu saya tidak marah. Saya baik dengan beliau. Saya ikut mendukung meskipun tidak vulgar-vulgar amat. Sehingga pada akhirnya, saya mengalir ke tempat yang namanya kabinet," kata dia.

"Sekarang ini di kabinet ada enam alumni HMI. Ada yang menyebut delapan, tapi yang pasti enam. Ada saya, ada Muhadjir Effendy, ada Sofyan Djalil, Siti Nurbaya dan Zainuddin Amali," tandasnya.

Sekadar diketahui, terdapat sembilan menteri Kabinet Indonesia Maju yang berasal dari kader HMI dan KAHMI. Mereka yaitu Menko Polhukam Mahfud MD, Menko PMK Muhajir Effendy, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri PPN/ Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil, Menpora Zainudin Amali, dan Mentan Syahrul Yasin Limpo.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini