Beberapa Faktor Orang Terpapar Radikalisme, dari Ekonomi & Minimnya Pendidikan

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 21 November 2019 14:54 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 21 337 2132716 beberapa-faktor-orang-terpapar-radikalisme-dari-ekononi-minimnya-pendidikan-7lChBaGieq.jpg Menag Fachrul Razi di Malang (Foto : Okezone.com/Avirista)

MALANG - Seseorang yang terindikasi terpapar radikalisme karena sejumlah hal, salah satunya motif ekonomi. Hal tersebut disampaikan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi memberikan kuliah tamu di Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang dengan tema Meneguhkan Nilai-Nilai Keagamaan dan Nasionalisme untuk Menangkal Radikalisme Menuju Indonesia Maju, pada Kamis (21/11/2019).

Selain motif ekonomi, pendidikan yang minim dan kurangnya pemahaman agama secara menyeluruh membuat seseorang bisa terpapar paham radikal.

"Pendidikan yang minim juga bisa, karena kurangnya referensi baca. Dari segi agama, menafsirkan ayat Alquran dan guru yang memadai juga penting. Misalnya mereka menafsirkan ayat-ayat perang dibaca di Alquran, ditafsirkan sendiri," ujarnya.

Ilustrasi

Fachrul Razi menyebut bila seseorang terindikasi terpapar paham radikal perlu didekati secara persuasif dan mendapat perlakuan khusus lingkungan sekitar.

"Kalau terindikasi terpapar paham radikal, perlu dinasihati dulu baik-baik dan sabar. Ajak ngobrol dulu," ujar Menag Fachrul Razi

Ia menambahkan, mengajak dialog orang yang terindikasi terpapar paham radikal juga dirasa penting, supaya bisa menggiring secara persuasif. Namun bila tak juga berhasil, maka cara preventif terakhir berupa penegakan hukum bisa dilakukan.

"Ajak dialog dengan baik dan diskusi. Kalau tidak mempan ada kerangka hukum misalkan undang-undang pidana atau terorisme," lanjutnya.

Baca Juga : Anggaran Defisit Rp10 Triliun, Sekda DKI Bilang Perlu Skala Prioritas

Pihak Kemenag kini tengah mengidentifikasi kurikulum pendidikan yang ada di Indonesia guna meminimalisir bibit-bibit radikal dari sekolah dan akademisi.

"Kurikulum pendidikan harus bersih dari intoleransi, kita di Kementerian Agama sedang menyeleksi ketat buku pelajaran yang berbahaya. Masih kita temukan beberapa buku pelajaran yang berbahaya," pungkasnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini