nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dukungan 367 DPD II ke Bamsoet Dianggap Pilihan Objektif Kader

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Selasa 19 November 2019 21:10 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 19 337 2131955 dukungan-367-dpd-ii-ke-bamsoet-dianggap-pilihan-objektif-kader-8pYvrdXTKE.jpg Bambang Soesatyo (Foto: Okezone)

JAKARTA - Dukungan 367 DPD tingkat II terhadap Bambang Soesatyo (Bamsoet) untuk menjadi ketua umum Partai Golkar merupakan pilihan yang objektif kader. Hal itu dilatari melihat kondisi terkini Golkar.

"Partai ini milik kader, mereka adanya di DPD I dan DPD II. Mereka objektif melihat partai, apa yang mereka rasakan selama ini, nyaman atau tidak. Kalau tidak nyaman, mereka berhak mengatur rumahnya sendiri," kata Ketua Bidang Kebudayaan Daerah DPP Golkar Ulla Nurahmawaty, Selasa (19/11/2019).

Menurut Ulla, konsolidasi akan tetap dilakukan hingga pemilihan ketua umum digelar di Musyawarah Nasional (Munas) Desember nanti. Meski, dukungan DPD II kepada Bamsoet cukup kuat.

"Kami optimis karena jumlah yang mendukung Pak Bambang sudah 50 persen plus satu, itu berarti cukup kuat," kata Ulla.

Baca Juga: Bamsoet Klaim Didukung 367 DPD, Ahmad Doli: Yang Menentukan Munas 

Bamsoet, Aburizal Bakrie dan Airlangga Foto iNews

Sementara dukungan terhadap Airlangga Hartarto oleh DPD I, kata Ulla, sah saja. Kendati, diharapkan mereka juga objektif melihat kondisi Golakr di bawah kepemimpinan Airlangga. Di mana, banyak kader tak merasakan perkembangan positif untuk Golkar.

"Jumlah suara turun. Apa yang bisa dikatakan berhasil? Kalau dalam politik kan ukuran sukses itu suara. Kalau Pak Airlangga sukses di kementerian, itu berbeda," ujarnya.

Bisa dilihat pada Pileg 2019, Golkar memperoleh suara 17.229.789 suara atau 12,31% di bawah PDIP dan Gerindra. Padahal, Pileg 2014, partai berlambang pohon beringin ini mampu meraih 18.432.312 suara atau 14,75%.

Baca Juga: Bamsoet Klaim Dapat Dukungan dari 367 DPD untuk Jadi Ketum Golkar

Faktor yang membuat suara Golkar merosot, internal yang tidak kondusif lantaran Airlangga tak mampu merangku kader hingga ke akar rumput.

Pengamat Politik Ujang Komarudin mengatakan, pergaulan Airlangga terbatas hanya di tingkat elite. Berbeda dengan Bamsoet yang sangat dinamis, lebih adaptif dan mengakar hingga ke akar rumput.

Sebanyak 141 pengurus DPP Golkar bahkan menyatakan mosi tak percaya ke Airlangga. Sebab, gagal mengelola kebesaran Golkar. Jauh dari itu, Airlangga dianggap tak mampu menjaga moral dan etika kepartaian.

Pengurus Pleno DPP Partai Golkar, Sirajuddin Abdul Wahab, menuturkan, sejak 2018 hingga kini, tidak ada inisiatif dari Ketua Umum untuk melaksanakan Rapimnas.

"Ini bertentangan dengan Anggaran Dasar Pasal 32 Ayat 4 C yang menyatakan Rapimnas dilaksanakan sekurang-kurangnya dalam waktu setahun oleh DPP," ujarnya, Jumat 30 Agustus lalu.

Bamsoet menjadi sebuah harapan bagi kader Golkar untuk melakukan konsolidasi membawa partai menuju kemenangan di Pemilu 2024.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini