nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tim Advokasi Bongkar Sisi Gelap Kasus Pengibaran Bintang Kejora

Fahreza Rizky, Jurnalis · Selasa 19 November 2019 14:27 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 19 337 2131740 tim-advokasi-bongkar-sisi-gelap-kasus-pengibaran-bintang-kejora-IgvMv1iEZ7.jpeg Tim Advokasi Surya Anta Cs terkait kasus pengibaran Bendera Bintang Kejora (Foto: Okezone/Fahreza Rizky)

Sisi gelap lainnya, Oky menambahkan, adanya penembakan selongsong peluru nyasar ke keluarga Surya Anta Cs yang sedang berkunjung ke rumah tahanan Mako Brimob. Tembakan asap 'salah sasaran' tersebut terjadi berkali-kali dan nyaris mengenai pihak keluarga.

"Kami meminta pihak kepolisian agar lebih profesional dan menggunakan jarak yang aman untuk berlatih sehingga tidak mengintimidasi apalagi mencelakai para tahanan dan keluarga," ujarnya.

Oky menduga telah terjadi diskriminasi terhadap penasihat hukum dan keluarga dalam berkunjung ke rutan Mako Brimob. Petugas memberi tahu bahwa Jumat 15 November 2019 jadwal kunjungan keluarga ditiadakan lantaran ada kegiatan pertemuan Kapolda seluruh Indonesia.

Namun, keluarga mendapat informasi bahwa pada tanggal tersebut Forum Kerjasama DPR dan DPD RI asal daerah pemilihan Papua dan Papua Barat justru bisa menemui Surya Anta Cs di Mako Brimob.

"Padahal, secara jelas pihak kepolisian menyatakan bahwa di hari tersebut waktu kunjungan tidak diadakan karena ada pertemuan Kapolda seluruh Indonesia," kata Oky.

Sisi gelap lainnya yakni, adanya dugaan hakim tunggal praperadilan sengaja memperlama proses persidangan, ditambah lagi ketidakhadiran pihak Polda Metro Jaya pada sidang perdana 11 November 2019 tanpa memberikan alasan apa pun.

Tim advokasi menganggap perilaku ini ialah bentuk mencemooh hukum negara serta hak tersangka yang dilindungi di dalamnya, serta itikad tidak baik kepolisian dengan sengaja mengulur-ulur waktu agar praperadilan gugur dengan sendirinya bersamaan dengan pembacaan dakwaan.

Terakhir, Oky menyoroti proses pelimpahan perkara ke Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat oleh polisi pada 18 November 2019 hanya diberitahukan melalui chat WhatsApp. Tindakan ini dinilai unprosedural dan cermin ketidakprofesionalan Polda Metro Jaya.

"Hal ini bertentangan dengan Pasal 75 Perkap Manajemen Penyidikan Tindak Pidana, yang mengatur proses penyerahan tersangka dan barang bukti," kata Oky.

Sekadar informasi, polisi menetapkan enam orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan pengibaran bendera Bintang Kejora di depan Istana Negara pada Rabu 28 Agustus 2019. Keenam tersangka itu antara lain Surya Anta, Charles Kossay, Dano Tabuni, Isay Wenda, Ambrosius Mulait dan Arina Elopere. Mereka sebelumnya ditahan di Mako Brimob dan sekarang sudah dipindahkan ke Rutan Salemba. (ari)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini