nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polisi dan Larangan Bergaya Hidup Mewah

Hantoro, Jurnalis · Selasa 19 November 2019 07:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 19 337 2131553 polisi-dan-larangan-bergaya-hidup-mewah-aAtrmpYjmH.jpg Ilustrasi anggota kepolisian. (Foto: Dok Okezone)

HEDONISME atau pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup makin merajalela di sebagian kalangan publik Tanah Air. Guna menghindari hal-hal negatif dari bergaya hidup mewah ini pun sejumlah pihak, termasuk lembaga negara, mengeluarkan imbauan agar jajarannya tidak turut melakukan.

Salah satu pihak yang melarang anggotanya bergaya hidup hedon adalah Polri. Mereka mengeluarkan instruksi larangan kepada seluruh anggota kepolisian memamerkan barang-barang mewah di media sosial. Hal itu tertuang dalam surat telegram dengan nomor ST/30/11/HUM/3.4/2019/DIVPROV yang ditandatangani Kadiv Propam Polri Irjen Listyo Sigit Prabowo pada 15 November.

"Tidak mengunggah foto atau video pada medsos yang menunjukkan gaya hidup yang hedonis karena dapat menimbulkan kecemburuan sosial," isi surat telegram tersebut.

Kemudian dalam surat itu tertuang pula anggota kepolisian dilarang menampilkan gaya hidup mewah di area publik. "Senantiasa menjaga diri menempatkan diri pola hidup sederhana di lingkungan internal institusi Polri maupun kehidupan bermasyarakat," lanjut kutipan surat telegram tersebut.

Para pimpinan Polri pun diharapkan dapat memberi contoh perilaku yang baik dengan tidak memperlihatkan gaya hidup hedonisme, terutama Bhayangkari dan keluarga besar kepolisian.

Ilustrasi Polri. (Foto: Ist)

Sanksi Tegas

Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) meminta seluruh anggota Polri mematuhi instruksi larangan bergaya hidup mewah di media sosial itu. Jika ada yang melanggar harus ditindak tegas.

"Kami setuju. Bila ada anggota Polri yang melanggar aturan ini harus diberikan sanksi tegas," kata Direktur Eksekutif Lemkapi Edi Hasibuan ketika berbincang dengan Okezone, Minggu 17 November 2019.

Dia mengatakan, Lemkapi mendukung instruksi yang melarang seluruh jajaran Polri memamerkan kemewahan, termasuk mengunggah foto dan video, yang menunjukkan gaya hidup hedon. "Kami melihat aturan ini bagus dan harus dipatuhi seluruh jajaran Polri," ujarnya.

Edi mengungkapkan, sesuai perintah Kapolri Jenderal Idham Azis kepada seluruh jajaran, polisi dan anggota keluarganya harus hidup sederhana jika ingin makin dicintai serta dipercaya masyarakat.

Menurut mantan anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) ini, anggota Polri dan koleganya harus memberi teladan kepada masyarakat.

"Hindari perilaku dan penampilan yang menimbulkan kecemburuan sosial dalam masyarakat, apalagi memamerkan barang mewah dan gaya hidup hedon. Kita mendukung seluruh jajaran Polri hidup sederhana dan apa adanya," tutur dia.

Gaji Minim tapi Bergaya Mewah

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai dengan gaji yang diterima anggota Polri dari negara, baik jajaran bawah maupun atas, seharusnya mereka tidak bisa hidup mewah.

"Sebab jika dilihat dari struktur penggajiannya masih banyak anggota Polri yang gajinya di bawah UMP (upah minimum provinsi) di Bekasi. Jika gajinya saja masih di bawah UMP, bagaimana para anggota polisi itu mau hidup mewah dan pamer kekayaan, terutama di medsos?" kata Neta kepada Okezone, Senin 18 November 2019.

Tetapi, lanjut dia, dengan gaji seminim itu kenyataannya banyak aparat kepolisian yang bergaya hidup mewah layaknya selebritas.

"Faktanya sangat banyak anggota Polri yang hidup mewah dengan gaya hidup bak selebritas, dengan menggunakan mobil, pakaian, sepatu, arloji bermerek. Dalam kasus bom di Thamrin misalnya, publik bisa melihat dengan jelas ada sejumlah polisi yang memakai sepatu merek branded saat tembak-menembak dengan teroris," ungkap Neta.

Ilustrasi media sosial. (Foto: Ist)

Ia menambahkan, hal-hal yang menjadi pertanyaan, apakah mereka bisa membeli sepatu bermerek itu, padahal gajinya di bawah UMP atau lebih rendah dari upah buruh pabrik?

Neta mengatakan, melihat kenyataan gaya hidup mewah sejumlah anggota Polri tersebut patut saja publik berpikiran negatif dan menduga hal-hal yang aneh terhadap anggota kepolisian.

"Dengan adanya TR (telegram) yang meminta semua anggota Polri harus hidup sederhana ini menunjukkan bahwa ada sebuah keresahan di internal kepolisian terhadap gaya hidup yang tidak wajar dari sebagian besar anggotanya. Selain itu, ada rasa malu yang berkembang di internal Polri terhadap sorotan dan kecaman masyarakat terhadap gaya hidup sebagai besar polisi di negeri ini," papar Neta.

Di sisi lain, ia berpandangan aturan tersebut suatu hal positif. Namun Neta menilai tidak cukup sampai di situ, pasalnya Propam harus berani pula mendata serta mengungkap siapa saja anggota Polri yang bergaya hidup hedonisme dan selalu memamerkan kekayaan.

Kemudian, tambah dia, ungkap juga anggota Polri yang memiliki kekayaan luar biasa hingga melebihi penghasilan. Sebab berdasarkan pantauan IPW, cukup banyak anggota Polri, terutama para istri jenderal, yang suka pamer kekayaan dengan barang bermerek dan supermahal.

"Pertanyaannya, jika TR hidup sederhana itu tidak dipatuhi, apa sanksinya? Beranikah TR itu menindak istri-istri jenderal yang kerap bergaya hidup glamor dengan barang-barang branded berharga supermahal," tutur Neta.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini