nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Selain Terorisme, Gegana Brimob Lakukan Pengawasan Bahan Kimia Berbahaya

Wahyu Muntinanto, Jurnalis · Selasa 19 November 2019 05:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 19 337 2131513 selain-terorisme-gegana-brimob-lakukan-pengawasan-bahan-kimia-berbahaya-NASvBCD10l.jpg Foto Ilustrasi shutterstock

DEPOK - Satuan Kimia Biologi Radioaktif (KBR) Gegana Brimob Polri bersama steakholder terkait melakukan sinergitas inter -organisasi dalam penanggulangan kejahatan bahan berbahaya kimia.

Komandan Pasukan Gegana Korbrimob Polri, Brigjen Edi Mardianto mengatakan, pengembangan bahan kimia dalam industri yang begitu besar sangat berdampak positif untuk perkembangan ekonomi. Namun jika tidak dilakukan pengawasan dan pengendalian secara baik maka akan menjadi sebuah ancaman.

"Ancaman bahan kimia berbahaya dapat merusak lingkungan maupun masyarakat sekitar, selain itu bahan kimia juga dapat digunakan oleh teroris untuk membuat bom konvensional dan bom kimia," kata Brigjen Edi.

 Terorisme

Sesuai dengan Perpres Nomor 2 tahun 2018, Edi menjelaskan bahwa perkembangan industri prioritas yang sangat pesat di Indonesia menjadi salah satu target pemerintah di tahun 2015-2035. Maka dari itu perlu kerjasama dari steakholder TNI/Polri, Kementrian Lembaga dalam pengawasan pembinaan dan penegakan hukum dikalangan produsen, konsumen dan dijalur distribusi seperti pelabuhan, bandara, pebatasan wilayah NKRI.

"Karena masih banyak celah yang dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggungjawab dalam penyalahgunaan dan penyelundupan bahan kimia. Indonesia merupakan negara maritim dengan banyak pulau, itu juga menjadi celah bagi penyelundup melalui pelabuhan kecil," jelasnya.

Sementara itu, Dansat KBR Gegana Brimob, Kombes Desman S. Tarigan berharap hasil kerjasama ini dapat meningkatkan layanan publik dan memetakan bahan-bahan Kimia berbahaya dalam pendistribusian.

"Perizinan itu sudah jelas diantur dalam Undang-undang ya, bagaimana pengawasan bahan kimia yang masuk. Dari sisi regulasi sudah bagus yang bahaya ini tinggal yang legal -legal itu," imbunya.

Desman mengaku saat ini tak menampik soal minimnya pengawasan penjualan bahan kimia berbahaya yang dilakukan oleh segelintir oknum penjual di toko kimia, padahal untuk memperoleh bahan kima tidak sembarangan. Ada aturan mekanismenya tersendiri.

"Ini kan penjualannya ada aturan, harus jelas dijual ke pada siapa. Contohnya, beli potassium dalam jumlah besar. Kan ada mekanisme dan prosedurnya. Buat apa tidak sembarangan," kata Desman.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini