nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sepenggal Kisah "Kuncen" Katulampa, Ujung Tombak Informasi Banjir Jakarta

Putra Ramadhani Astyawan, Jurnalis · Sabtu 16 November 2019 13:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 16 337 2130621 sepenggal-kisah-kuncen-katulampa-ujung-tombak-informasi-banjir-jakarta-SWjpjm8TAP.jpg Ilustrasi Bendung Katulampa (foto: Okezone)

BOGOR - Bendung Katulampa yang berada di Kota Bogor, Jawa Barat, merupakan 'benteng' pertama mengenai informasi tinggi muka air (TMA) dari kawasan hulu (Puncak) di aliran Sungai Ciliwung.

Pasalnya, informasi dari Bendung Katulampa menjadi krusial bagi masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung khususnya di Ibu Kota Jakarta.

Memasuki awal musim penghujan seperti sekarang, berbagai persiapan mulai dari kesiapan personel hingga operasional di bendung peninggalan zaman penjajahan Belanda ini terus ditingkatkan untuk menghadapi berbagai kemungkinan bencana terjadi.

Lipsus Banjir Jakarta (Foto: Okezone)	 

Kepala Jaga Bendung Katulampa Andi Sudirman mengatakan ada sebanyak 10 personel yang disiapkan untuk memantau TMA Sungai Ciliwung selama 24 jam menghadapi musim penghujan.

"Mereka akan mencatat dan memantau ketinggian air di Bendung Katulampa setiap kenaikan debit air. Juga ada personel yang memantau menyusuri sungai," kata Andi, kepada Okezone, Jumat (15/11/2019).

Secara singkat, teknis laporan TMA pertama kali disampaikan para relawan Ciliwung yang berada di kawasan hulu (Puncak) seperti di Ciawi, Cisarua dan Megamendung ke Posko Bendung Katulampa.

Setelah mendapat laporan tersebut, pihaknya sesegera mungkin melakukan pencatatan dan meneruskannya ke seluruh petugas di sepanjang Sungai Ciliwung hingga kawasan hilir (Jakarta).

"Kita akan terus koordinasi dengan BMKG terkait curah hujan di Puncak. Nanti relawan di sana akan melaporkan jika ada hujan dan memantau debit air. Setelah lapor ke posko, kita akan membuat laporan dan peringatan dini ke petugas-petugas lain termasuk instasi tanggap bencana di Jakarta," jelasnya.

Aksi Sosial Komunitas Pecinta Alam Besihkan Sampah di Aliran Sungai Ciliwung Bendung Katulampa  

Sementara itu, lanjut Andi, puncak musim penghujan di wilayah Bogor dan sekitarnya diprediksi akan terjadi pada awal Januari-Februari 2020 mendatang.

"Kalau puncak musim hujan perkiraan awal tahun nanti. Tapi itu bisa berubah tergantung cuacanya nanti bagaimana. Tapi kami secara keseluruhan selalu siap siaga dalam kebencanaan," ungkapnya.

32 Tahun Jadi 'Kuncen' Bendung Katulampa

Sejak tahun 1987, Andi mengaku sudah mengabdikan dirinya untuk mengontrol dan memantau debit air yang mengalir Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa Tak heran, ia sudah banyak makan asam garam selama menjadi 'kuncen' puluhan tahun.

Pria berusia 52 tahun itu pun kerap menjadi selebriti di berbagai media untuk menginformasikan ketinggian air Sungai Ciliwung sebagai peringatan dini bencana banjir di Ibu Kota Jakarta saat musim hujan.

"Saya sudah 32 tahun bertugas di sini. Dulu saya masih honorer belum seperti sekarang," beber Andi.

Profesinya sekarang menjadi petugas bendungan sama sekali tidak pernah terpikirkan karena usai lulus SMA, ia bercita-cita ingin menjadi anggota TNI.

"Waktu pas lulus sekolah, saya itu ingin sekali menjadi menjadi marinir. Tapi nasib berkata lain, saya tidak lolos tes masuk TNI pada saat itu," tuturnya.

Barawal dari tawaran temannya yang bekerja di Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Kota Bogor, Andi mencoba melamar ke tempat tersebut. Akhirnya diterima bekerja sebagai petugas jaga Bendung Katulampa terhitung sejak 1 Oktober 1987 silam.

"Waktu itu saya enggak punya pekerjaan, terus ada temen saya nawarin kerja di Dinas Pekerjaan Umum ya sudah saya coba aja. Akhirnya diterima kerja jadi petugas Bendung Katulampa," terangnya.

Saat Warga Asyik Mengabadikan Bendung Katulampa yang Berstatus Level Siaga I 

Andi bercerita, menjadi petugas Bendung Katulampa merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah. Jika pada musim kemarau ia dapat bernafas lega karena pekerjaanya tidak terlalu berat.

Namun jika sudah memasuki musim penghujan, dirinya harus terus memonitor setiap detik selama 24 jam ketinggian air yang mengalir ke Sungai Ciliwung.

"Kalau masuk musim hujan, setiap detiknya ketinggian air harus dipantau karena merupakan tolak ukur warga Jakarta dalam mengantisipasi air kiriman yang kerap menimbulkan banjir," tutur Andi.

Banyak pengalaman yang ia rasakan selama menjadi petugas bendungan. Salah satunya menjadi saksi tingginya debit air yang mengalir di Bendung Katulampa yang sempat membuat Jakarta tenggelam di tahun 1996, 2007, 2010, 2013, dan 2014. Ketinggian debit air mencapai 250 sentimeter.

"Terparah terjadi pada tahun 2007. Waktu itu hujan merata terjadi di wilayah Bogor selama beberapa jam. Saat magrib, air tiba-tiba naik sampai masuk ke rumah warga sekitar Katulampa sampai Jakarta banjir parah. Kalau terakhir, titik yang sama (250 cm) itu tahun 2018 tapi gak separah dulu," kata dia.

Karena cinta dengan profesinya, Andi mengaku tak peduli harus bekerja siang dan malam memantau Bendung Katulampa yang menurutnya tugas mulia.

"Mau gimana pun kondisinya dan pekerjaannya, saya tetap mencintai pekerjaan saya saat ini. Menurut saya ini pekerjaan mulia yang juga menyangkut keselamatan banyak orang," pungkas Andi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini