nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Munas Golkar Diharapkan Lahirkan Pemimpin yang Mendobrak Paradigma Masa Lalu

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Jum'at 15 November 2019 23:28 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 15 337 2130546 munas-golkar-diharapkan-lahirkan-pemimpin-yang-mendobrak-paradigma-masa-lalu-RwVavpA8c2.jpg Foto Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Musyawarah Nasional (Munas) Golkar tinggal menghitung hari. Beberapa nama santer diberitakan maju dalam pemilihan pucuk pimpinan partai berlogo beringin tersebut.

Nama Bambang Soesatyo, Airlangga Hartarto, Ridwan Hisjam hingga Bambang Utoyo disebut-sebut jadi calon terkuat dalam pemilihan Ketua Umum Partai Golkar.

Menanggapi hal itu, Pemuda Anti Korupsi Indonesia (PAKI) menegaskan, Munas Golkar dapat melahirkan ketua umum yang bisa membebaskan Golkar dari paradigma di orde baru yang korup. Partai Golkar disebut harus bisa menciptakan kader yang benar-benar bebas dari lingkup korupsi.

 Baca juga: Dedi Mulyadi Harap Tak Ada Kegaduhan di Munas Golkar

Koordinator PAKI, Ibnu Chaldun mengharapkan, Golkar bisa kembali berjaya seperti saat kepimpinan Akbar Tandjung yang membebaskan Partai Golkar dari paradigma korup di orde baru.

"Dua puluh tahun berlalu Partai Golkar tumbuh dengan segala dinamikanya, namun sayang hanya di era Akbar Tandjung partai ini mencapai puncak kejayaannya," jelas Ibnu.

Ia pun menyayangkan banyaknya kader Golkar yang terjerat korupsi di masa kini. Ibnu menambahkan, ketua umum harus bisa memberi contoh bagaimana kader bisa membawa nama baik partai.

"Puncak terpuruknya itu sepertinya di era sekarang. Hal itu ditandai dengan menurunnya perolehan kursi di tingkat pusat dan terjeratnya sejumlah kader partai oleh KPK,” tegas dia.

 Baca juga: Nasdem Bakal Konvensi Capres 2024, Golkar Pilih Fokus Bantu Pemerintahan Jokowi

Ibnu menambahkan, banyak kader di Partai Golkar yang terjerat kasus dugaan korupsi, salah satunya Ketua DPD I Yogyakarta yang juga Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti.

"Kita harapkan Munas Golkar bisa Lahirkan Pemimpin yang lebih baik," jelasnya.

Di lain pihak, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami informasi aliran dana ke kantong Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan penyidik mendalami informasi mengenai adanya penerimaan lain untuk Eka Safitra dan seorang Wali Kota.

"KPK mendalami informasi terkait dengan dugaan penerimaan lain tersangka EFS (Eka Safitri) dari Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Wali Kota," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah.

Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti pun mengakui jika dirinya telah diperiksa oleh KPK dalam kasus dugaan suap Proyek Rehabilitasi Saluran Air Hujan (SAH) di Kota Yogyakarta.

KPK sendiri sudah menetapkan tiga orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait lelang proyek pada Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Yogyakarta tahun anggaran 2019.

Ketiga orang tersebut yakni, Jaksa pada Kejaksaan Negeri (Kejari) Yogyakarta yang juga anggota Tim Pengawalan, Pengamanan Pemerintahan, dan Pembangunan Pusat-Daerah (TP4D), Eka Safitra (ESF), Jaksa pada Kejari Surakarta, Satriawan ‎Sulaksono (SSL), dan Direktur Utama (Dirut) PT Manira Arta Mandiri, Gabriella Yuan Ana (GYA).

Eka Safitri dan Satriawan Sulaksono diduga membantu memuluskan Gabriella agar kepentingannya mendapatkan proyek pengerjaan rehabilitasi saluran air hujan di Jalan Supomo Yogyakarta dengan pagu anggaran sebesar Rp10,89 miliar, berjalan lancar.

Proyek tersebut diawasi oleh TP4D.‎ Dalam hal ini, Eka Safitra merupakan anggota TP4D dari Kejari Yogyakarta. Satriawan merupakan Jaksa yang mengenalkan Gabriella ke Eka Safitra.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini