nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jerit Hati "Pelanggan" Banjir Jakarta

Muhamad Rizky, Jurnalis · Sabtu 16 November 2019 09:04 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 15 337 2130476 jerit-hati-pelanggan-banjir-jakarta-YMB49TSz5B.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Pagi itu sekira pukul 10.00 WIB di tahun 2004 Dika Rachmat mendapat telepon dari kakeknya. Ia diminta untuk segera pulang ke rumah untuk membantu sang kakek membereskan rumah.

Dika yang tengah duduk di bangku sekolah kelas 3 SMA itu tak pikir panjang, ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya di kawasan Kampumg Melayu Kecil RT 08 RW 11 Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.

Setibanya dirumah ia terkejut melihat air sudah memenuhi rumahnya. Tak heran sang kakek memintanya pulang untuk membantunya membersihkan banjir.

Dika menceritakan banjir yang paling besar melanda kawasan rumahnya terjadi pada 2004 dan 2012. Ribuan warga mengungsi namun masih ada diantara mereka yang memutuskan untuk tetap menunggu rumahnya meski banjir.

Lipsus Banjir Jakarta (Foto: Okezone)

"Saya paling ingat itu 2004 Februari itu besar banget. Terus besar lagi tahun 2012 itu hampir setara, itu kalau enggak salah Februari juga," tutur Dika saat dikonfirmasi Okezone beberapa waktu lalu.

Dika tidak tahu pasti sudah berapa lama keluarganya tinggal di kawasan itu. Namun sejak ia lahir atau pada tahun 1986 sudah menempati rumah tersebut. Banjir yang kerap mengancam rumahnya membuat Dika bersama keluarga pidah ke Jatiwaringin, Jakarta Timur.

Meski begitu rumah lamanya di Kampung Melayu tidak dijual hanya saja kini sudah ditempati oleh tantenya. "Kepikiran (pindah) saya akhirnya pindah rumah di Jatiwaringin, itu pasca banjir 2013 rumah saya enggak dijual tapi ditempati tante saya," ucapnya.

Dika menyebut kawasan rumahnya setiap tahun selalu menjadi langganan banjir. Setiap musim penghujan tiba, ia bersama keluarga harus bersiap diri menangani air yang datang dari Bogor tersebut. Bukan hanya dirinya meainkan juga warga yang satu lingkungan dengannya.

Dulu setiap banjir datang, ia bersama pemuda di kawasan Kampung Melayu Kecil V kerap kali menjaga posko darurat banjir hingga berbagi nasi bungkus kepada warga. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan warga yang memang lumpuh pasca banjir.

Meski demikian ia bersyukur tidak pernah ada korban dari keluarganya saat banjir datang. Hanya saja setiap banjir hal itu membuat kondisi wilayahnya memperihatinkan.

Ilustrasi

"Aktivitas berhenti. Yang disedihkan itu kita biasanya makan dengan menu yang luar biasa gitu ya ketika banjir kita dapet ala kadarnya aja, apalagi pas banjir surut listrik mati, PAM air mati, kita kewalahan bersihin lumpur itu. Kita gotong royong bersihin lumpur di jalan dan rumah warga," paparnya.

Namun kini Dika bersyukur pasca dibangunnya tanggul Sungai Ciliwung rumahnya sudah terbebas dari banjir. Meski di lokasi lain masih ada yang terkena. "Terakhir tahun 2015 masih banjir tapi enggak terlalu besar. Kalau enggak salah 2016-an lah pasca pembangunan tanggul Ciliwung itu, (sudah tidak banjir)," tambahnya.

Namun demikian, Dika berharap agar Pemrov DKI Jakarta selalu memerhatikan kawasan tanggul Sungai Ciliwung. Saat ini menurutnya kondisi tanggul kurang menarik lantaran kumuh. Disisi lain masih banyak orang yang memarkirkan kendaraan dengan sembarangan sehingga memyulitkan aktivitas warga.

"Saya lihat kemarin abis jalan di jalan inspeksi tanggul Ciliwung itu awalnya bagus sekarang dipenuhi kendaraan parkir jadi kurang terawat tanggulnya terlihat kusam jadi memperburuk citra Kampung Melayu. Harusnya Pemda DKI menegur orang-orang yang parkir disitu," tukasnya.

Selain Dika, salah seorang warga Malik Nuryadin meminta agar pemerintah memerhatikan kondisi lingkungannya di kawasan Kampung Rambutan, Jakarta Timur atau tepatnya di Komplek Departemen Sosial. Kawasan ini kerap kali dilanda banjir jika hujan datang.

Malik masih ingat betul banjir yang melanda rumahnya pada satu tahun lalu atau Februari 2018. Banyak warga yang tidak bisa beraktivitas lantaran air naik setinggi pinggang orang dewasa. "Tahun 2018 banjir rumahnya kan ada anak tangga ada 6, kalau hujan deras itu masuk ke dalem rumah itu bisa sepinggang," tuturnya.

Ilustrasi

Malik menceritakan waktu itu hujan turun dan air mulai naik pada saat subuh. Warga yang tengah tertidur pulas pun harus bangun dan membereskan rumahnya yang terendam banjir. Bahkan akibat banjir pula ada orang yang menjadi korban. "Dulu katanya pernah ada yang meninggal, lansia," ungkapnya.

Maski demikian, sebagian warga masih tetap setia untuk menempati rumahnya. Namun tak jarang diantara mereka nuga memutuskan untuk pindah rumah dan di kontrakkan. "Ada sih yang kepikiran ada beberapa yang udah pindah dikontrakan tapi saya tetap di sini," tukasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini