nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menapaki Jejak 21 Tahun Tragedi Semanggi I

Alifa Muthia Diningtyas, Jurnalis · Rabu 13 November 2019 22:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 13 337 2129507 menapaki-jejak-21-tahun-tragedi-semanggi-i-RjBFYjp0wA.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Hari ini tepat 21 tahun Tragedi Semanggi I yang terjadi pada 11-13 November 1998. Sebab, pada tanggal tersebut peristiwa berdarah terjadi di sekitar kampus Universitas Atma Jaya di Semanggi. Unjuk rasa besar-besaran menentang pemerintahan dan anggota DPR/MPR Orde Baru tersebut hingga kini dikenang dengan nama Tragedi Semanggi I.

Pada bulan November 1998 pemerintahan transisi Indonesia mengadakan Sidang Istimewa untuk menentukan Pemilu berikutnya dan membahas agenda-agenda pemerintahan yang akan dilakukan.

Sepanjang diadakannya Sidang Istimewa itu masyarakat bergabung dengan mahasiswa melakukan demonstrasi ke jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Mereka bergolak karena mereka tidak percaya dengan para anggota DPR/MPR Orde Baru. Mereka juga mendesak untuk menyingkirkan militer dari politik serta pembersihan pemerintahan dari orang-orang Orde Baru.

Tragedi Semanggi I (Foto: Ist)

Peristiwa ini mendapat perhatian sangat besar dari seluruh Indonesia dan dunia internasional. Hampir seluruh sekolah dan universitas di Jakarta diliburkan untuk mencegah mahasiswa berkumpul. Apapun yang dilakukan oleh mahasiswa mendapat perhatian ekstra ketat dari pimpinan universitas masing-masing karena mereka di bawah tekanan aparat yang tidak menghendaki aksi mahasiswa.

Puncak demonstrasi terjadi pada 13 November 1998. Saat itu ratusan ribu mahasiswa dan masyarakat berkumpul di kawasan Semanggi dan sekitarnya bergabung di Universitas Atma Jaya Jakarta. Gelombang aksi massa tersebut dihadang dari dua arah kendaraan lapis baja di sepanjang Jalan Sudirman guna menghadang laju mahasiswa dan masyarakat.

Kendaraan taktis itu bergerak untuk membubarkan massa sekira pada 15.00 WIB membuat masyarakat melarikan diri. Namun, mahasiswa mencoba bertahan dan saat itu juga terjadilah penembakan membabibuta oleh aparat ketika ribuan mahasiswa sedang duduk di jalan.

Akibatnya beberapa mahasiswa tertembak dan meninggal seketika di jalan. Salah satunya adalah Teddy Wardhani Kusuma, mahasiswa Institut Teknologi Indonesia yang merupakan korban meninggal pertama pada hari itu.

Mahasiswa terpaksa lari ke kampus Universitas Atma Jaya untuk berlindung dan merawat kawan-kawan sekaligus masyarakat yang terluka. Mahasiswa yang berkumpul di Kampus Atmajaya ditembaki secara membabi buta oleh aparat. Korban kedua penembakan oleh aparat adalah Bernardus Realino Norma Irmawan (Wawan), mahasiswa Fakultas Ekonomi Atma Jaya, Jakarta, tertembak di dadanya dari arah depan saat ingin menolong rekannya yang terluka di pelataran parkir kampus Universitas Atma Jaya, Jakarta.

Sampai dini hari, penembakan terhadap mahasiswa di kawasan Semanggi masih terus terjadi dan semakin banyak korban berjatuhan, baik yang meninggal tertembak maupun terluka. Gelombang mahasiswa dan masyarakat yang ingin bergabung terus berdatangan dan disambut dengan peluru serta gas air mata.

Tragedi Semanggi I (Foto: Okezone)

Dahsyatnya peristiwa itu membuat jumlah korban yang meninggal mencapai 17 korban yang terdiri dari 6 orang mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Jakarta, 2 orang pelajar SMA, 2 orang anggota aparat keamanan dari POLRI, seorang anggota Satpam Hero Swalayan, 4 orang anggota Pam Swakarsa dan 3 orang warga masyarakat.

Sementara 456 korban mengalami luka-luka, sebagian besar akibat tembakan senjata api dan pukulan benda keras, tajam/tumpul. Mereka ini terdiri dari mahasiswa, pelajar, wartawan, aparat keamanan dan anggota masyarakat lainnya.

Keluarga korban menilai kejadian tersebut belum menyentuh titik terang untuk menemukan dalang dibaliknya. Tragedi Semanggi I menjadi momen yang sakral bagi kalangan mahasiswa dalam memperjuangkan Reformasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini