Bomber Berjaket Ojol & Serangan "Kamikaze" di Kantor Polisi

Rizka Diputra, Okezone · Kamis 14 November 2019 07:30 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 13 337 2129436 bomber-berjaket-ojol-serangan-kamikaze-di-kantor-polisi-uLpZSTmeIB.JPG Aparat kepolisian berjaga di depan gerbang Mapolrestabes Medan, Sumut pasca ledakan bom bunuh diri (Foto: iNews.id/Stepanus Purba)

APARAT Kepolisian yang berkantor di Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara, dikejutkan oleh suara ledakan pada Rabu 13 November 2019 pagi, sekira pukul 08.35 WIB. Suara keras itu berasal tepat di halaman apel Mapolrestabes Medan. Sebanyak satu orang tewas dan enam lainnya dengan rincian lima anggota Polri dan seorang warga sipil terluka akibat insiden ledakan itu.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengungkapkan, tim dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri langsung terjun langsung menyelidiki ledakan tersebut.

Peristiwa bermula pada pukul 08.20 WIB, di mana pelaku masuk dari pintu depan penjagaan berjalan kaki dan ditanya oleh petugas jaga atas nama Bripda Kristian Simanjuntak.

Selanjutnya, pelaku disuruh membuka jaket bertulisan aplikasi ojek online, dan pelaku saat itu mengaku hendak membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Setelah dapat "lampu hijau" dari petugas piket untuk melintas, ia pun bergegas masuk ke halaman Mapolrestabes Medan.

Pelaku berjalan perlahan menuju depan kantor Bagian Operasional. Begitu sampai tepat di depan mobil dinas Kepala Bagian Operasional, ia pun meledakkan diri.

Pelaku rupanya memanfaatkan momen ramainya masyarakat yang hendak mengurus SKCK di Polrestabes Medan untuk kepentingan seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Karopenmas PolriKaropenmas Polri (Foto: Okezone/M Rizky)

"Yang kebetulan pada saat itu ada beberapa kegiatan kepolisian dan masyarakat yang akan buat SKCK, yang bersama-sama masuk, momen-momen seperti itu dimanfaatkan pelaku untuk menyusup," kata Dedi dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu 13 November 2019.

Dedi memastikan jika aparat kepolisian sudah melakukan penjagaan dan pemeriksaan ketat terhadap seluruh masyarakat yang hendak masuk ke markas polisi. Namun, kata dia, aksi pelaku lebih dulu terjadi. Bom yang dibawa tersangka, meledak "prematur" di area Mapolrestabes Medan.

Ilustrasi Police LineIlustrasi (Foto: Okezone/Arif)

"Jadi, hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh anggota kepolisian yang di sana semua sudah dilakukan pemeriksaan semuanya, termasuk barang-barang yang dibawa sudah dilakukan pengecekan semuanya. Kemudian sebelum dia melakukan (bom bunuh diri) mungkin sasaran ledakan di tempat lain sudah meledak di halaman parkir," tuturnya.

Di hari yang sama, Polri langsung merilis identitas pelaku aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan. Pelaku diketahui bernama Rabbial Muslim Nasution (RMN), seorang pemuda yang masih berstatus pelajar atau mahasiswa.

Masih kata Dedi, identitas tersebut terungkap seusai dilakukan pemeriksaan sidik jari oleh tim inafis Polri. "Sidik jari identifikasi pelaku. Atas nama RMN usia 24 tahun. Kemudian lahir di Medan statusnya pelajar atau mahasiswa," paparnya.

Pelaku diduga kuat tewas di lokasi pasca-melancarkan aksi "kamikaze". Saat ini, polisi masih terus melakukan pendalaman mengenai motif bom bunuh diri tersebut.

"Yang bersangkutan diidentifikasi akan dikembangkan dugaan sementara bahwa pelaku ini lakukan aksi lone wolf namun masih pengembangan," sebut Dedi.

Dedi menyebut bahwa pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan menggunakan bom pinggang saat melancarkan aksinya. "Bom-nya dililit di tubuh. Bom pinggang," ucapnya.

Setelah melakukan pengembangan, polisi bergerak cepat dengan mengamankan tiga orang dalam penggeledahan di sebuah rumah yang berlokasi di Jalan Jangka, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan.

Terduga Bomber di Polrestabes Medan

Terduga pelaku bom bunuh diri (Foto: Ist)

Ketiga orang tersebut terdiri dari dua perempuan dan seorang laki-laki. Mereka tak lain adalah kerabat pemuda berinisial RMN alias Dede (24), yang merupakan dalang peledakan itu.

Densus 88 Antiteror Polri juga turut mengamankan sejumlah barang bukti pasca-ledakan. Di antaranya baterai, plat besi metal, sejumlah paku, irisan kabel hingga potongan tombol switch on-off.

Pelaku Ternyata Remaja Masjid

RMN alias Dede (24), pemuda yang disebut-sebut sebagai terduga pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, dikenal sebagai pribadi yang tertutup. Hal itu diungkapkan Poetra, Kepala Lingkungan RW III, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah.

"Saya kenal anaknya. Dia orang lama di sini. Tapi sudah tidak tinggal di sini sejak 2018. Anaknya memang tertutup," kata Poetra.

Polisi Berjaga di Mapolrestabes MedanLokasi ledakan dipasangi garis polisi (Foto: iNews.id)

Meski menyebut Dede sebagai sosok yang tertutup, namun Poetra mengaku Dede kerap aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya. "Dia aktif di remaja masjid. Kalau ada kegiatan seperti Maulid Nabi atau Isra Mi'raj dia juga biasanya ikut," tuturnya.

Ia mengaku sama sekali tidak menyangka jika pemuda berusia 24 tahun itu terlibat aksi serangan teror bom bunuh diri. Diakui Poetra bahwa drinya memang sudah lama tidak berkomunikasi dengan Dede.

"Waktu dia pindah, bukan saya keplingnya (kepala lingkungan). Dia juga mengurus sendiri kepindahannya. Kita enggak tahu juga dia kemana. Tapi kabarnya ke Marelan," tandas dia.

Langkah Polri

Kepala Divisi Humas Humas Mabes Polri, Irjen Pol Muhammad Iqbal mengatakan bahwa sejauh ini pihaknya masih mendalami pelaku dan jenis bom yang diledakkan di Mapolrestabes Medan.

"Kita belum tahu rangkaian dari ledakan tersebut, apakah high explossive. Saat ini, tim sedang bekerja Inafis, laboratorium, forensik, semua gabungan sedang bekerja untuk melakukan pengolahan tempat kejadian perkara," ucap Iqbal saat ditemui wartawan di Sentul International Convention Center (SICC).

Menurutnya, aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan terjadi usai apel pagi. Pelaku meledakkan diri tepat di depan kantor bagian operasi. "Pukul 08.00 WIB lewat, setelah pelaksanaan apel pagi di Polrestabes Medan, diduga pelaku berjalan di halaman apel tersebut, jeda beberapa saat di depan kantor bagian operasi Polrestabes Medan pelaku meledakkan diri," tuturnya.

M IqbalIrjen Pol Muhammad Iqbal (Foto: Okezone)

Reaksi Pemerintah

Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Fadjroel Rachman meminta aparat kepolisian segera menciptakan rasa aman kepada warga, pasca-aksi teror bom bunuh diri di halaman dalam Mapolrestabes Medan. Pemerintah kata Fadjroel tidak akan memberi toleransi sedikitpun terhadap aksi terorisme.

"Para pelaku atau kelompok terorisme akan terus dikejar, ditangkap dan diadili oleh sistem hukum yang berlaku. Negara memiliki aparatur keamanan berkualitas secara pengorganisasian dan keterampilan yang selalu siap bekerja mengatasi aksi-aksi terorisme," ujar dia.

Fadjroel RahmanFadjroel Rahman (Foto: Okezone)

Pemerintah lanjut dia, tak akan membiarkan aksi teror mengganggu keamanan, ketenangan dan produktivitas sosial ekonomi masyarakat. Siapapun individu yang menjadi rakyat Indonesia akan mendapatkan perlindungan keamanan sebaik mungkin dari negara.

"Presiden memerintahkan penanganan, baik pencegahan dan penanggulangan, kejahatan terorisme dengan mengaktifkan kerjasama aktif seluruh pihak baik pemerintah dan masyarakat. Kerjasama aktif tersebut akan mengalahkan terorisme demi Indonesia Maju," tandasnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD membantah jika pemerintah kecolongan atas insiden bom bunuh diri ini. Sebab kata Mahfud, pemerintah sudah berupaya mencegah.

"Enggak lah (kecolongan), memang teroris itu selalu nyolong. Kalau istilah kecolongan nanti dipolitisir," ucap Mahfud di sela Rakornas pemerintah pusat dan Forkopimda 2019 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Rabu 13 November 2019.

Ia menyebut, pemerintah sudah mati-matian dalam berupaya pencegahan terhadap aksi teror sebelum jatuhnya korban. Ia pun mengklaim jika jumlah teror secara kuantitatif cenderung menurun.

Mahfud MDMahfud MD (Foto: Okezone/Arif Julianto)

"Kita sudah mati-matian (mencegah) agar tidak menunggu korban. Saya laporan kemarin dalam konferensi internasional di Australia, saya katakan dari sudut kuantitatif turun jumlah teror karena pencegahan sudah lebih baik,” tuturnya.

“Tapi kalau ada (teror) satu, dua sekali-sekali tidak bisa kita hindari. Tapi pencegahan itu berhasil menunjukan angka kuantitaifnya turun dibandingkan tahun 2017 dan 2018," tambah Mahfud.

Ia menyebut bahwa saat ini aparat kepolisian sedang berupaya mengungkap tabir peristiwa bom bunuh diri yang lagi-lagi menyasar polisi. Pengungkapan ini perlu didukung penuh guna membongkar jaringan pelaku.

"Tentu nanti akan diumumkan secara resmi oleh yang langsung di lapangan. Tetapi yang jelas kita menindak seperti itu kan langsung mencari jaringannya. Itu pintu masuk untuk membuka jaringan. Dan itu selalu tidak sulit untuk melakukan ini," tuturnya.

Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) ini berujar bahwa subyek dan kualitas pelaku teror kini semakin bertambah. Bila dahulu dilakukan oleh pelaku berusia tua atau dewasa, kini bisa dilakukan oleh anak muda. Kemudian pelakunya tidak hanya laki-laki, tetapi juga bisa melibatkan perempuan dan anak-anak.

"Teroris itu, saya kemarin bilang teroris sekarang kualitasnya dan subyeknya bertambah. Dulu orang tua-tua, dewasa. Sekarang ada perempuan, tiga kasus perempuan. Yang satu yang Sidoarjo, Sidoarjo kan meledakan diri dengan anaknya. Yang kedua yang nusuk Wiranto itu kan (isteri pelaku) perempuan," papar Mahfud.

"Yang di Sibolga itu yang ditangkap suaminya lalu dia mau ditangkap, meledakkan diri juga perempuan. Lalu ada anak-anak yang di Sidoarjo itu anak-anak, yang Pak Wiranto juga melibatkan anak-anak. Lalu sekarang anak muda. Pokoknya kita harus waspada," imbaunya.

Mahfud MDMahfud MD (Foto: Okezone/Arie Dwi Satrio)

Tanggapan DPR

Ledakan bom bunuh diri yang terjadi di area Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara pada Rabu pagi turut ditanggapi Ketua DPR RI, Puan Maharani. Ia menyatakan keprihatinannya atas serangan teror tersebut.

Menurut Puan, dalam melancarkan aksi terorisme, pelaku lebih banyak menjalankan secara individu dan tak lagi berkelompok. Atas dasar itulah, Puan mendorong pihak keamanan untuk melakukan antisipasi agar ke depannya tak terjadi kembali aksi teror melalui bom.

“Karenanya tentu saja ini kita harus sama-sama melakukan antisipasi bagaimana ke depannya ini tidak terjadi kembali, karena sudah berulang-ulang kali hal ini terjadi dan dilakukan untuk apa namanya, di tempat-tempat objek vital salah satunya kantor polisi,” tutur Puan.

Puan MaharaniPuan Maharani (Foto: Okezone/Harits)

“Ini kan (aksi bom bunuh diri-red) di Polrestabes Medan. Jadi, memang ada hal yang kemudian harus kita antisipasi bersama-sama. Ini tidak hanya tugas dari kepolisian saja, tapi juga seluruh elemen masyarakat bahwa ada hal yang memang harus kita antisipasi ke depannya untuk bangsa dan negara,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPR yang membidangi hukum, hak asasi dan keamanan, Herman Herry ikut mengecam aksi teror tersebut. “Tak ada sikap selain bahwa saya mengutuk keras terjadinya aksi bom bunuh diri ini,” tegas Herman.

Polisi Berjaga di Mapolrestabes MedanMapolrestabes Medan (Foto: iNews.id)

Dirinya mendorong, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk segera mengusut kejadian itu hingga tuntas. “Saya percaya bahwa Polri akan melakukan penegakan hukum secara profesional dalam rangka menjaga keamanan dan memberikan perlindungan kepada setiap warga negara,” tuturnya.

Herman pun meminta agar Polri dapat meningkatkan kewaspadaan agar tak ada lagi serangan seperti pagi tadi terulang kembali.

“Saya mendorong Polri untuk meningkatkan kewaspadaan di seluruh Indonesia demi memastikan kejadian seperti ini tak terulang lagi,” pungkasnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini