nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Meski Bersifat Defensif, Kemampuan Militer Indonesia Juga Harus Antisipasi Ancaman

Fiddy Anggriawan , Jurnalis · Selasa 12 November 2019 08:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 12 337 2128672 meski-bersifat-defensif-kemampuan-militer-indonesia-juga-harus-antisipasi-ancaman-NVHvBTJMsV.jpg Ilustrasi Kekuatan Militer Indonesia (foto: Okezone/Heru Haryono)

JAKARTA - Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menegaskan kekuatan militer indonesia bukan untuk menyerang negara lain, tapi lebih pada memperkuat pertahanan. Hal itu disampaikan, dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR RI, Senin 11 November 2019.

Mantan Danjen Kopassus itu mengatakan, akan percuma pembangunan infrastruktur yang semakin massif tak diiringi dengan pertahanan yang kuat. Wawasan pemikiran itulah yang akan diterapkan dalam sistem pertahanan bangsa Indonesia.

Baca Juga: Prabowo: Kemampuan Militer Indonesia Bersifat Defensif 

“Kemampuan militer Indonesia tentu tak bersifat ofensif tapi defensif, kami tak berniat mengganggu bangsa lain. Tapi tentu kita tak boleh juga kepentingan kita diganggu negara lain,” ujar Prabowo dalam rapat kerja dengan komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin.

Prabowo rapat dengan Komisi I DPR (Foto : Okezone.com/Harits)	 

Menurut Pengamat intelijen dan militer, Susaningtyas Kertopati, sistem pertahanan negara defensif aktif adalah doktrin pertahanan negara yang dianut sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

"Sistem pertahanan tersebut bersumber dari nilai-nilai kejuangan 1945 yang menyatakan Bangsa Indonesia Cinta Damai tetapi Lebih Cinta Kemerdekaan. Sistem pertahanan negara defensif aktif dijabarkan dalam bentuk Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) yang kemudian disebut Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta)," kata Susaningtyas kepada Okezone, Selasa (12/11/2019). 

Dia menambahkan, defensif aktif artinya kekuatan TNI dibangun untuk mempertahankan integritas wilayah NKRI. Tidak ditujukan untuk melakukan ofensif ke negara lain.

Meskipun defensif, kata Susaningtyas, TNI juga dituntut aktif untuk melakukan antisipasi perkembangan lingkungan strategis.

"TNI harus aktif menggelar operasi militer untuk mengatasi berbagai bentuk ancaman yang faktual dan potensial. TNI harus aktif menjalin kerjasama militer pada tataran regional dan internasional untuk menghadapi berbagai bentuk ancaman sesuai hukum nasional dan hukum internasional," urai dia.

Baca Juga: Jaga Pertahanan, Prabowo Berencana Gandeng Kemendikbud 

TNI Profesional Kebanggaan Rakyat Jadi Tema HUT TNI ke-74

Susaningtyas menerangkan, sistem pertahanan negara defensif aktif juga selaras dengan politik luar negeri bebas aktif. Politik luar negeri tersebut menjadi landasan yang kuat bagi TNI untuk bebas menjalin kerjasama internasional dengan semua negara (tidak bergantung pada blok tertentu). Hal itu, sesuai kepentingan nasional Indonesia dan perdamaian dunia.

"Untuk itulah postur pembangunan kekuatan TNI yang dikenal dengan Minimum Essential Force (MEF) merupakan jabaran dari sistem pertahanan negara defensif aktif. TNI juga lebih menonjolkan Alutsista yang memiliki dampak penangkalan yang tinggi," tutur mantan Anggota Komisi I DPR itu.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini