nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Manuver Surya Paloh, dari Rangkulan hingga Disindir Jokowi

Erha Aprili Ramadhoni, Jurnalis · Selasa 12 November 2019 07:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 11 337 2128374 manuver-surya-paloh-dari-rangkulan-hingga-disindir-jokowi-aYDrYOQJhR.jpg Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, berpelukan erat dengan Presiden PKS, Sohibul Iman. (Foto : Dok PKS)

KETUA Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, disebut-sebut tengah melakukan manuver politik, dengan melakukan pertemuan dengan petinggi PKS, beberapa waktu lalu.

Dalam pertemuan itu, Surya Paloh tampak akrab dengan Presiden PKS, Sohibul Iman. Bahkan, keduanya terlihat berpelukan akrab saat pertemuan yang dilangsungkan di Kantor DPP PKS tersebut pada 30 Oktober 2019.

Pertemuan Nasdem-PKS memancing reaksi sejumlah pihak, termasuk PDIP. Nasdem sendiri sejak 2014 sudah berada dalam gerbong pendukung Jokowi.

Wakil Sekretaris Jenderal PDIP, Arif Wibowo, mengatakan, semua parpol koalisi pemerintah diminta menjaga sikap dan tindakannya.

"Kami meminta kepada semua partai koalisi untuk taat asas untuk menjaga sikap dan tindakan yang etis sebagai partai koalisi pemerintahan," kata Arif Wibowo, beberapa waktu lalu.

Menurut Arif, sebagai partai koalisi tidak seharusnya berseberangan dengan pemerintah apalagi melakukan politik dua kaki.

Sementara Direktur Eksekutif Parameter Politik, Adi Prayitno, menilai pertemuan Nasdem-PKS sebagai sindiran halus terhadap Partai Gerindra. Diketahui, dalam Pilpres 2019, Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno merupakan rival Koalisi Indonesia Kerja, yang mengusung Jokowi-Ma'ruf Amin. Namun, usai gelaran Pilpres, Gerindra merapat ke koalisi pemerintah dan mendapat 2 jatah kursi menteri.

Pertemuan petinggi Nasdem dengan PKS. (Foto : Okezone.com/Sarah Hutagaol)

"Bisa ditafsirkan sikap Nasdem datang ke PKS sebagai bentuk sindiran halus ke parpol oposisi yang (ingin) merapat ke Jokowi, padahal dulunya berseberangan ekstrem,” ucap Adi Prayitno, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin, menilai manuver Surya Paloh sebagai bentuk kekecewaan terhadap Jokowi dan PDIP terkait penyusunan kabinet, terlebih dengan penunjukan Jaksa Agung.

"Nasdem kecewa ke Jokowi dan PDIP. Kekecewaan itu yang menjadikan Nasdem bermanuver. Jokowi dianggap Nasdem tak konsisten. Katanya Jaksa Agung akan diisi oleh profesional, tapi faktanya Jaksa Agung yang tadinya kader Nasem diambil alih dan diberikan ke PDIP. Kita tahu Jaksa Agung saat ini adiknya TB Hasanudin, politikus PDIP," kata Ujang, Senin (11/11/2019).

Sadar pertemuannya menjadi polemik, Surya Paloh pun menegaskan hubungannya dengan pemerintah berjalan dengan baik.

”Nasdem mau jadi oposisi? Untuk apa jadi oposisi? Pertama, hubungan baiknya dengan presiden terpilih ini," katanya mengutip iNews.id.

Ia juga menegaskan, "Tidak ada sedikitpun gap antara political gagasan yang dimiliki partai ini ketika ini didiskusikan, didialogkan dengan kepala pemerintahan yang bernama Jokowi.”

Sindiran Jokowi

Presiden Jokowi menanggapi pertemuan Nasdem-PKS sebagai hal yang biasa. Ia pun menepis isu keretakan dalam parpol koalisi pemerintah terkait hal itu.

Meski begitu, setidaknya dalam 2 kesempatan Jokowi sempat menyindir Surya Paloh. Pertama, Jokowi menyindir pelukan erat Surya Paloh-Sohibul Iman. Jokowi berkelakar Surya Paloh rindu dengan Presiden PKS tersebut sehingga berpelukan, sedangkan dengan dirinya tidak.

"Mungkin Pak Surya Paloh sudah lama enggak bertemu Pak Sohibul Iman. Mungkin dengan saya enggak begitu kangen," ucapnya, saat tatap muka dengan wartawan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat 1 November 2019.

Di lain kesempatan, tepatnya saat menghadiri HUT Ke-55 Partai Golkar, Jokowi yang memberikan sambutan kembali menyinggung Surya Paloh. Kali ini, ia mengatakan Ketua Nasdem tersebut terlihat lebih cerah usai bertemu parpol oposisi tersebut.

Presiden Jokowi saat menghadiri HUT Golkar. (Foto : Okezone.com/Fakhrizal Fakhri)

"Yang saya hormati Ketua Umum Nasdem Surya Paloh yang (wajahnya-red) lebih cerah dari biasanya sehabis pertemuan beliau dengan Pak Sohibul Iman Presiden PKS," kata Jokowi, 6 November 2019.

Menanggapi hal itu, pengusaha media tersebut menilai Jokowi hanya bercanda. "Pak Jokowi itu punya sense of humor tinggi. Kita tetap gembira menerima respons humoris dari Pak Jokowi," katanya, di lokasi yang sama, 6 November 2019.

Pidato Tuai Kritik

Selain pertemuan dengan PKS serta rencana pertemuan dengan parpol di luar pemerintahan lainnya, Surya Paloh kembali membuat gerah parpol koalisi Jokowi. Itu karena dalam pidatonya pada pembukaan Kongres pada 8 November 2019, ia sempat menyindir partai yang merasa paling pancasilais.

"Pancasila sebagai pegangan, way of life, tapi ngakunya partai nasionalis, partai yang pancasilais. Ya buktikan saja," katanya.

Ia mengatakan hal itu lantaran pertemuan Nasdem-PKS yang menuai kecurigaan. Menurutnya, partai pancasilais seharusnya merangkul semua parpol, termasuk yang memiliki pandangan politik berbeda. Ia pun merasa lelah dengan intrik yang mengundang sinisme satu sama lain.

Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, saat memberikan sambutan dalam Kongres II Nasdem di Jakarta, Jumat (8/11/2019). (Foto : Okezone.com/Muhamad Rizky)

"Bangsa ini sudah capek dengan segala intrik yang mengundang sinisme satu sama lain, kecurigaan satu sama lain, hingga kita berkunjung ke kawan, ini bangsa model apa seperti ini," tuturnya.

Ia pun menyinggung soal rangkulannya dengan Presiden PKS Sohibul Iman yang menimbulkan kecurigaan.

"Hubungan rangkulan dan tali silaturahmi politik dimaknai dengan berbagai macam tafsir dan kecurigaan," tuturnya.

Menanggapi hal itu, politikus PDIP Andreas Hugo Pareira mengatakan Surya Paloh terlalu emosional menanggapi sindiran Jokowi.

“Reaksi SP (Surya Paloh) terhadap sindiran Presiden (Jokowi) pun menurut saya terlalu emosional, membawa diskursus seolah persoalan pelukan ini masuk dalam wilayah ideologis partai-partai pendukung Jokowi-Ma’ruf,” katanya.

Menurutnya, tuduhan Surya Paloh soal partai pancasilais pun menjadi terlalu emosional dan sama sekali tidak bermakna ideologis.

Restoran Politik

Tindak-tanduk Surya Paloh yang kembali terpilih menjadi Ketum Nasdem periode 2019-2024 itu menuai rekasi salah satu pendiri partai, Patrice Rio Capella. Mantan napi korupsi itu mengatakan, Nasdem saat ini sudah melenceng jauh dari semangat awal pendiriannya. Bahkan, ia menyebut saat ini Nasdem sudah menjadi restoran politik.

Mantan Sekjen Partai Nasdem Rio Patrice Capella. (Foto : Okezone.com/Sarah Hutagaol)

"Nasdem kini menjadi restoran politik tempatnya masak-memasak dan goreng-menggoreng kepentingan politik yang bukan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan untuk memperjuangkan kepentingan partai, tapi hanya demi keuntungan elite tertentu, kelompok tertentu di internal Partai Nasdem," ujarnya saat konferensi pers seorang diri di kawasan Cikini, Jakarta, Minggu (10/11/2019).

Ia pun menganggap manuver Surya Paloh dengan menemui petinggi PKS dan mengundang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam kongres partai telah melanggar norma dan etika berpolitik.

Pilpres 2024

Langkah Nasdem yang mengundang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ke kongres partai disebut terkait Pilpres 2024. Nama Anies sendiri diisukan masuk bursa Pilpres 2024.

Anies enggan berspekulasi terlalu jauh, mengingat saat masih 2019. Kehadirannya dalam kongres pun hanya untuk memenuhi undangan yang ditujukan kepadanya.

"Sekarang tahun berapa? Sekarang ini kan 2019 kan. Saya diundang dalam pertemuan undangan partai," kata mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut, beberapa waktu lalu.

Anies jadi irup Hari Pahlawan 2019. (Foto: Achmad Fardiansyah/Okezone)

Begitu pun dengan Nasdem. Ketua DPP Nasdem Irma Suryani meminta publik tidak berspekulasi terkait kehadiran Anies, meski menyatakan politik bersifat dinamis.

"Politik itu dinamis, selalu berubah sesuai dengan kepentingan. 2024 masih 5 tahun lagi, masih banyak yang akan terjadi ke depan," kata Irma kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini