nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dr Sardjito, Pahlawan Nasional yang Temukan Vaksin Cacar saat Peristiwa Bandung Lautan Api

Debrinata Rizky, Jurnalis · Sabtu 09 November 2019 16:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 09 337 2127770 dr-sardjito-pahlawan-nasional-yang-temukan-vaksin-cacar-saat-peristiwa-bandung-lautan-api-KdrmSygR0x.jpg Prof Dr M Sardjito, Mendapat Gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo, pada Jumat (8/11/2019). (foto: Ist)

JAKARTA - Nama Prof Dr Sardjito disematkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai pahlawan nasional pada Jumat 8 November 2019 di Istana Negara, Jakarta, bersama kelima tokoh lainnya.

Ada lima tokoh lain yang juga mendapat gelar pahlawan nasional di antaranya Abdul Kahar Mudzakkir, AA Maramis, dan KH Masykur, tiga tokoh yang belum menerima gelar pahlawan dari anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Kemudian ada, Rohana Kudus yang merupakan jurnalis dan Sultan Himayatuddin dari Kesultanan Buton, Sulawesi Tenggara.

Baca Juga: Sultan Buton, Pimpinan Perang Gerilya Diberi Gelar Pahlawan Nasional 

Dr Sardjito merupakan sosok yang paling berjasa bagi bidang pendidikan khususnya kedokteran dan bidang kesehatan.

Pria kelahiran 13 Agustus 1889 di Purwodadi, Magelang, Jawa Barat itu menyelesaikan pendidikan formalnya di Sekolah Belanda Lumajang pada tahun 1907. Setelah itu, melanjutkan pendidikan di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), Jakarta dan lulus pada tahun 1915.

Prof Dr M Sardjito, yang Kini Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi ( Wikipedia))	 

Usai lulus dari STOVIA, ia bekerja di Rumah Sakit Jakarta sebagai dokter selama kurang dari satu tahun dan memutuskan pindah ke Institut Pasteur Bandung hingga tahun 1920 sebagai peneliti.

Sebagai seorang peneliti, Sardjito telah menemukan penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi masyarakat di antaranya obat penyakit batu ginjal dan obat penurun kolesterol yang tidak dijual mahal karena obat itu dibuat untuk masyarakat.

Ia juga menciptakan vaksin penyakit infeksi untuk typus, kolera, disentri, staflokoken dan streptokoken di Institut Pasteur. Saat itu vaksin menjadi aset penting dalam revolusi fisik, Dr. Sardjito yang berusaha menyelamatkan vaksin cacar dari peristiwa Bandung Lautan Api.

Sardjito memasukkan vaksin cacar ke dalam tubuh kerbau dan hewan itu digiring dari Bandung hingga ke Klaten. Sesampainya di tempat tujuan, kerbau disembelih dan limpanya diambil untuk mendapatkan vaksin cacar. Vaksin itu menyelamatkan para tentara dan masyarakat dari berbagai penyakit.

Selain itu pada masa revolusi, Sardjito menciptakan makanan ransum bernama Biskuit Sardjito untuk para tentara pelajar di medan perang.

Sardjito merupakan perintis serta rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1950-1961, lalu menjabat sebagai rektor Universitas Islam Indonesia (UII) pada tahun 1961-1970.

Ia menjadi salah satu pelopor Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan menetapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Baca Juga: Abdul Kahar Mudzakkir, Pejuang dan Cendekiawan yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional 

Selain ilmuwan dan pejuang, Sardjito juga budayawan. Penelitiannya tentang Borobudur yang dipresentasikan pada Pacific Science Congress di Filipina 16-28 November 1953. Ia berbicara tentang perkembangan seni pahat di Indonesia dan membuka mata dunia tentang tingginya peradaban bangsa Indonesia.

Sardjito wafat pada 5 Mei 1970, atas penghargaan untuk jasa-jasanya, ia dimakamkan di Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta dengan upacara militer. Namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit di Yogyakarta, yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini