nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Irna Riza, Srikandi Penyelamat Para Disabilitas

Demon Fajri, Jurnalis · Sabtu 09 November 2019 11:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 08 337 2127596 kisah-irna-riza-srikandi-penyelamat-para-disabilitas-YLnuMvq4Bb.jpg Irna Riza, penyelamat para penyandang disabilitas (Foto: Okezone/Ist)

BENGKULU - Bagi penyandang disabilitas di provinsi Bengkulu, sudah tak asing dengan sosok Irna Riza Yuliastuty. Di mata mereka perempuan kelahiran Palembang, 7 Juli 1977 itu bak pahlawan.

Layaknya sosok ibu negara pertama, Fatmawati. Irna menjadi sosok yang konsisten memperjuangkan hak disabilitas di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''.

Di provinsi yang dihuni tidak kurang dari 1,9 juta, Fatmawati dikenal sebagai penjahit bendera sang saka merah putih untuk dikibarkan ketika proklamasi kemerdekaan RI, pada 17 Agustus 1945.

Di era generasi millennial ada sosok Fatmawati, bagi penyandang disabilitas di ''Bumi Rafflesia''. Perempuan jebolan SD Negeri 6 Kasala Lampung, tahun 1989 itu layak mendapatkan julukan 'Fatmawati'.

Infografis Lipsus Wanita Hebat (Foto: Okezone)

Perempuan berusia 42 tahun itu merupakan pendiri Mitra Masyarakat Inklusif (MMI) Bengkulu. Lulusan SMPN 4 Tanjung Karang, Bandar Lampung ini terus berjuang untuk penyandang disabilitas.

Alumnus SMAN 3 Tanjung Karang, Bandar Lampung ini mulai memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas ketika ada korban kekerasan di kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu, yang menimpa perempuan penyandang disabilitas.

Kala itu, korban kurang mendapatkan hak advokasi. Sehingga jebolan Universitas Bengkulu, 2001, prihatin. Berangkat dari keprihatinan itu hak-hak penyandang disabilitas mulai gencar diperjuangkan.

''Waktu ada korban kekerasan perempuan. Korban kekerasan itu penyandang disabilitas. Dari kondisi itu saya tergerak memperjuangkan hak-hak disabilitas,'' kata Tim Penelitian, Pendidikan dan Advokasi, Cahaya Perempuan- Women’s Crisis Centre Bengkulu, periode 2000, kepada okezone, Selasa 5 November 2019.

Aktivitas Jaringan Peduli Perempuan Bengkulu periode 2005 itu sangat prihatin dengan perlakukan dan hak-hak yang belum sepenuhnya diperoleh penyandang disabilitas di tanah ''Bumi Rafflesia''.

Keprihatinan itu membuat aktivis Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) periode 2007 ini bersama rekan-rekannya mendirikan, Perkumpulan Mitra Masyarakat Inklusif (MMI) Bengkulu, pada tahun 2016.

Tidak hanya itu sosok aktivis Centra Citra Remaja Rafflesia, Bengkulu ini juga berjuang melalui mendampingi lima organisasi berbasis disabilitas di Bengkulu.

Seperti, mendampingi organisasi Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Bengkulu, Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang Disabilitas (PIK PPD) Bengkulu.

Irna Riza

Lalu, Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Bengkulu, Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Bengkulu, Kelompok Kepentingan Disabilitas Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bengkulu.

''yang tergabung dalam organisasi berbasis disabilitas ada sekira 200 orang penyandang disabilitas. Saya mendampingi dalam rangka memperjuangkan hak-hak mereka, serta pengembangan potensi yang dimiliki penyandang disabilitas,'' jelas aktivis Women’s Crisis Centre, Cahaya Perempuan Bengkulu, periode 1999 hingga 2009.

Pentingnya Membangun Masyarakat Inklusif

Keterbatasan tidak menghalangi penyandang disabilitas dalam menjalani aktivitas. Sebab mereka tetap menyuguhkan karya. Bahkan, prestasi pada masyarakat.

Mereka memiliki berbagai keterampilan. Kelebihan tersebut tentu musti diperjuangkan dan dipertahankan agar mereka dapat mengembangkan potensi dalam diri mereka.

Tim Peneliti Remaja CCRR–PKBI Bengkulu periode 1997 ini, berjuang dengan cara memfasilitasi penyandang disabilitas yang menjadi pelaku UKM guna mendapatkan hak atas informasi, terkait akses permodalan untuk peningkatan usaha kecil yang mereka lakoni.

Irna Riza

Ibu dari dua orang anak ini, juga memperjuangkan dengan merekomendasikan penyandang disabilitas mengikuti kegiatan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) RI.

Lalu, sosok perempuan yang menjadi Tim Peneliti CCRR-PKBI Bengkulu periode 1999, ikut andil dalam memfasilitasi kelompok disabilitas di event-event yang diselenggarakan komunitas non difabel. Event ini sharing seiring menjadi ajang promosi karya-karya disabilitas.

Perjuangan lainnya, dari sosok perempuan Peneliti Daerah KPI-MAMPU periode 2013 itu juga berupaya dengan mengadvokasi yang ramah dan menyenangkan. Di mana Irna mengajak kelompok disabilitas ke layanan publik.

Berangkat dari advokasi ramah dan menyenangkan itu kelompok disabikitas banyak belajar. Bahkan, dari pelayan publik juga banyak belajar untuk pembenahan kualitas layanan.

Peneliti daerah 'pengalaman hidup perempuan miskin', KPI-MAMPU periode 2014 ini bersama ketua lintas organisasi disabilitas beraudiensi dengan Kapolda Bengkulu guna menyampaikan persoalan hukum yang bisa melindungi hak-hak disabilitas.

''Membangun masyarakat yang inklusif, penting. Masyarakat yang tanpa ada perbedaan perlakuan dan saling menghormati,'' ujar tim peneliti 'pengaruh media penyiaran terhadap prilaku remaja di provinsi Bengkulu, komisi penyiaran Indonesia daerah (KPID) Bengkulu, periode 2015.

Pengembangan potensi diri penyandang disabilitas tidak hanya sebatas UKM. Namun, sosok tim peneliti nasional, KPI-MAMPU, periode 2016 ini mengembangkan jati diri mereka juga membentuk kelas menulis dengan melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu dan Genik.

Penyandang disabilitas dalam pengembang jati diri juga dilibatkan secara langsung. Mereka ikut andil ketika berdiskusi tentang kolaborasi pendataan penyandang disabilitas dan upaya pemberdayaan utk penyandang disabilitas.

Mereka juga diberikan pengetahuan tentang media. Hal tersebut ditandai dengan mendampingi kelompok belajar menulis berkunjung ke salah satu stasiun televisi lokal Bengkulu, difasilitasi AJI Bengkulu.

''Penyandang disabilitas juga menyampaikan aspirasi ke Komisi 1 DPRD Kota Bengkulu, secara langsung. Hanya saja penyampaian aspirasi itu saya bersama rekan-rekan pengurus lintas organisasi disabilitas didampingi,'' terang Irna.

Kerja Tanpa Digaji, Irna Dibilang Macam-macam

Perjuangan hak-hak disabiltas, perempuan yang ikut terlibat dalam Pokja Pengarusutamaan Gender provinsi Bengkulu periode 2012 ini, tidak berjalan mulus.

Sebab, mantan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bengkulu ini sempat mendapat cibiran dan hinaan dari rekan-rekannya. Lebih menyakitkan, jika Irna terjun mendampingi penyandang disabilitas dituding macam-macam.

Cibiran, hinaan dan tudingan itu tidak mematahkan semangat perempuan yang tinggal di jalan Adam Malik I No.6 RT/RW.04/02, Kelurahan Pagar Dewa Kecamatan Selebar kota Bengkulu.

Irna terus berjalan dalam memperjuangkan apa yang menjadi hak-hak penyandang disabilitas. Meskipun berbagai tanggapan negatif menghampiri sosok ibu dari dua anak ini.

Tanggapan miring itu dijadikan semangat untuk terus berjuang bersama penyandang disabilitas. Meskipun dalam mendampingi penyandang disabilitas tidak menerima honor atau gaji.

''Di luar sana saya di bilang macam-macam. Saya berjuang ini karena ada kepedulian terhadap penyandang disabilitas. Saya sama sekali tidak ada honor,'' terang Irna.

''Saya sempat dibilang ngapain ngurus disabilitas seperti tidak ada kerjaan,'' ingat Irna, atas sindiran yang diterima kepada dirinya.

Penyandang disabilitas di Bengkulu yang tergabung dalam organisasi berbasis disabilitas, kata Irna, tidak kurang dari 200 orang. Dari ratusan orang itu mereka berusia produktif dari usia 20 tahun hingga 40 tahun.

''Penyandang yang tergabung dalam organisasi berbasis disabilitas berasal dari berbagai daerah di Bengkulu,'' sampai Irna.

Sulit Berkomunikasi Hingga 'Tangkap' Penyandang Disabilitas

Berkecimpung secara langsung dengan penyandang disabilitas bukan hal mudah. Irna mengakui, jika karakter penyandang berbeda-beda. Bahkan, berkomunikasi pun cukup kesulitan.

Irna musti mensiasati komunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat. Bahkan, melalui melalui menulis secara langsung di selembar kertas. Namun, cara komunitasi itu tidak langsung bisa dipahami.

Mulanya cara berkomunikasi tersebut kesulitan. Seiring perjalanan waktu. Cara komunikasi itu dapat dipahami. Pekerjaan mendampingi penyandang disabilitas memiliki tantangan tersendiri.

''Pertama-tama saya kesulitan dalam berkomunukasi dengan penyandang disabilitas,'' jelas Irna.

Tantangan tidak hanya cara berkomunikasi. Irna juga memiliki tantangan untuk ''menangkap'' penyandang disabilitas yang belum tergabung dalam organisasi berbasis disabilitas.

Di mana dalam pendampingan yang telah dilakoni tidak kurang dari tiga tahun terakhir, Irna sudah 'menangkap' sekira 20 penyandang disabilitas. Mereka 'ditangkap' lantaran untuk diberikan pembelajaran.

Baik peningkatan ekonomi kerakyatan serta pelatihan-pelatihan lainnya. Hal tersebut salah satu langkah untuk memberikan hak dari penyandang disabilitas dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki.

''Setelah saya 'tangkap' lalu, saya menawarkan apakah mau diberikan pembelajaran berbagai hal,'' terang Irna.

Kedepannya, harap Irna, mendapatkan perhatian khusus dari berbagai segi. Sehingga mereka tidak merasa adanya perbedaan. Sebab hak-hak mereka juga musti terpenuhi.

''Setidaknya kawan-kawan disabilitas harus dijadikan pengusaha dalam pengembangan keterampilan yang dimiliki,'' pungkas Irna.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini