Andi Munawwarah, Wanita Hebat yang Selalu Dirindukan Anak-Anak Wamena

Edy Siswanto, Okezone · Sabtu 09 November 2019 11:02 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 08 337 2127593 andi-munawwarah-wanita-hebat-yang-selalu-dirindukan-anak-anak-wamena-LWj2WdFpmd.jpg Andi Munawwarah saat mengajar di Wamena (Foto: Okezone/Ist)

JAYAPURA - Deru suara ambulans terus berdatangan ke Base Ops Lanud Silas Papare, Papua sejak peristiwa kerusuhan 23 September lalu dari semua penjuru Rumah Sakit yang ada di Kota dan Kabupaten Jayapura.

Hilir mudik pesawat Hercules C-132 milik TNI AU berdatangan mengangkut para korban kerusuhan di Wamena Kabupaten Jayawijaya. Baik korban meninggal dunia, yang jumlahnya mencapai 30 orang, maupun korban luka-luka yang jumlahnya mencapai 43 orang, termasuk korban yang sakit atas peristiwa itu.

Kota Wamena porak poranda, ruko-ruko, lapak jualan, rumah warga dengan ratusan kendaraan berbagai jenis turut hangus dibakar masa yang bringas saat kejadian. Awal akibat berita hoax yang kemudian diduga dimanfaatkan kelompok sparatis ini sengaja diletupkan untuk mengacaukan kondisi Kota Wamena.

Wamena

Kota Wamena lumpuh hingga berminggu-minggu, hampir semua warga non-Papua yang berada di sekitar Kota Wamena memilih mengungsi ke Jayapura dan beberapa daerah lain untuk menyelamatkan diri dan keluarga.

Terbanyak, jumlah pengungsi ke Sentani Kabupaten Jayapura, yang tembus diangka 10 ribu lebih pengungsi. Mereka diangkut menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU, yang saban harinya mampu melakukan tiga kali sortie penerbangan mengangkut para pengungsi. Yang dalam sekali penerbangan bisa mengangkut sekitar 150 orang.

Ribuan pengungsi ini kemudian ditampung di sekitar tujuh lokasi pengingsian, mulai dari Gedung Serbaguna Megantara milik TNI AU, Gedung Serbaguna Batalyon 751/R, Rindam XVII/ Cenderawasih, Gedung Tongkonan, dan beberapa di titik pengungsi yang disiapkan Paguyuban.

Wajah-wajah trauma menyelimuti para pengungsi yang penulis temui di Base Ops Lanud Silas Papare. Tangis, lesu dan nampak trauma akut dari wajah mereka. Begitupula sanak saudara yang menjemput para pengungsi ini di Base Ops.

Kisah-kisah pilu mengalir terucap dari para pengungsi dan korban kerusuhan. Tak pandang bulu, medis dan tenaga guru yang harusnya tidak tersentuh, pun turut menjadi korban, dan harus juga mengungsi ke Jayapura. Salah satunya adalah ibu guru Andi Munawwarah, guru asli Makassar ini tergabung dalam program Guru Garis Depan (GGD) untuk daerah yang tergolong 3 T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) sejak 4 Tahun silam dan mendapat tugas pengabdian di Wamena Kabupaten Jayawijaya, tepatnya di sekolah SMA Negeri Kurulu, Distrik Kurulu Jayawijaya.

Sore itu, sekitar pukul 17.15 WIT, Pesawat Hercules kembali menurunkan ratusan Pengungsi, ini adalah penerbangan terakhir di hari Kamis 26 September, yang membawa serta ibu guru Andi Munawarah.

Kala itu, wajah lemah akibat lamanya mengatri di Bandara Wamena, ditambah trauma peristiwa pilu yang dialaminya itu, membuat ibu guru Andi nampak tak berdaya sembari bersandar di sofa yang berada di pojok ruang Base Ops Lanud.

Andi Munawwarah

Kala itu, saat ditanya peristiwa yang dialaminya itu oleh awak media dan Dan Lanud Silas Papare, Marsma TNI Tri Bowo Budi Santoso, raut sedih dengan tetes air mata tak mampu dibendungnya.

"Tidak ada keluarga saya di sini. Hanya tetangga di Kampung saja, tapi saya tidak tahu rumahnya," ucapnya mengawali cerita.

Dikatakannya, dia akan ke Manado Sulawesi Utara untuk bertemu dengan sang suami yang juga seprofesi dan sama sebagai guru program GGD. Sang suami bertugas di perbatasan negara Filipina.

Infografis Lipsus Wanita Hebat (Foto: Okezone)

"Saya mau ketemu dengan suami saya pak. Nanti besok di Manado," ucap dia saat itu.

Yang membuat publik terenyuh, adalah jiwa seorang guru yang memiliki tanggungjawab besar atas pendidikan anak murid seperti ibu Guru Andi. Kerusuhan yang terjadi di saat anak murid akan menjalani ujian semester ini, membuat dia bimbang untuk mengungsi. Antara ingat tanggungjawab untuk pendidikan anak murid, dan keselamatan jiwanya.

Kajadian yang disebutnya paling parah tersebut, membuat semua tenaga didik dan kesehatan memilih untuk mengungsi ke Jayapura.

"Ini yang paling parah pak. Sampai semua tenaga didik seperti kami sudah tidak rasa aman. Tenaga medis juga minta pergi dari Wamena. Semua yang bukan warga asli ke Jayapura. Di sana sudah tidak aman. Dokter saja dibunuh, bagaimana. Jadi tidak aman, mereka beringas," katanya.

"Kami bingung, kami kasihan dengan anak- anak kami, mereka mau ujian bulan 11 dan 12, baru ada kerusuhan seperti ini. Kami salah, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami manusia juga, yang punya keluarga dan harus menyelamatkan diri," ucapnya sedih.

Kini, dua bulan berselang pasca peristiwa tragis tersebut, kondisi Wamena telah kembali normal. Terlebih semua petinggi aparat TNI Polri, Mendagri dan Presiden Joko Widodo telah mengunjungi Wamena untuk memastikan keamanan diwilayah itu.

Andi Munawwarah

Pelayanan publik kini juga telah kembali normal, meski beberapa instansi yang bangunanya rusak belum sepenuhnya berjalan baik. Pesawat Hercules milik TNI AU juga tessu kembali membawa para eks pengungsi kembali ke Wamena. Beberap shorty penerbangan mengangkut ratusan warga kembali dilakukan atas perintah Panglima TNI.

Sementara ibu guru Andi Munawwarah, melaui pesan singkat ke media ini mengaku masih berada di Manado. Ibu guru Andi juga berencana akan segera kembali ke Wamena untuk melanjutkan tugas pentingnya itu membangun pendidikan anak-anak Wamena.

“Saya masih di Manado pak, kami guru-guru di distrik semua masih di kampung. Rencana akan segera balik ke Wamena karena kendala saya kapal laut di tempat suami yang belum ada. Saya di pulau Marore, perbatasan Filipina,” katanya saat dhiubungi, Selasa (5/11/2-019).

Ibu Guru menyebut jika di daerah itu, pelayaran Kapal tidak menentu, terlebih jika cuaca buruk. Perasaan gelisah itu, ingat akan anak didik membuat ibu guru Andi sangat ingin sekali kembali ke Wamena.

“Kapalnya tidak nentu jadwalnya, kadang sekali dalam dua minggu. Ataupun sekali sebulan bahkan kalau cuaca tidak baik dalam sebulan tidak ada kapal. Saya ingin segera kembali untuk anak-anak didik kami. Kasihan mereka menjadi korban atas kerusuhan itu,” ucapnya.

Dirinya pun berharap, kiranya kejadian tragis tidak terulang kembali. Dan semua aktivitas warga bisa berjalan dengan normal, termasuk pendidikan.

“Semoga tidak ada lagi seperti kemarin. Karena akan sangat merugikan semua. Kesehatan lumpuh, pendidikan lumpuh, dan sektor lain. Sangat disayangkan, anak-anak sekolah di sana, yang harusnya mendapatkan haknya untuk mengeyam pendidikan baik, namun akibat kerusuhan semua jadi berantakan. Anak-anak Wamena harus maju, harus bisa menjadi inspiratif bagi anak-anak Papua lain,” pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini