Perkara Babi di Sumut: Ternak Ilegal hingga Pencemaran Lingkungan

Erie Prasetyo, Okezone · Jum'at 08 November 2019 19:19 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 08 337 2127548 perkara-babi-di-sumut-ternak-ilegal-hingga-pencemaran-lingkungan-xMe071yZFh.jpg Bangkai Babi di Sungai Sumut (Foto: Okezone/Erie)

MEDAN - Belakangan ini isu terkait ratusan bangkai babi yang dibuang di sungai ramai di beritakan di media massa. Berdasarkan hasil penelitian, ratusan bangkai yang dibuang tersebut diduga terinfeksi virus berbahaya.

Lantas mengapa ratusan bangkai babi yang dibuang dengan sengaja tersebut luput dari pantuan pemerintah dan aparat setempat. Persoalan babi bukan hal baru di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), banyaknya ternak babi ilegal membuat pemerintah kewalahan menghadapinya.

Hingga kini, belum ada data akurat mengenai jumlah ternak babi yang beroperasi secara ilegal di Sumut. Salah satu dampak negatif dari ternak babi ilegal adalah pembuangan limbah yang mencemari lingkungan hingga membuang bangkai babi yang terindikasi virus Hog Cholera.

Bangkai Babi

Sejak bulan Oktober hingga saat ini, kasus kematian babi yang terdata terjadi di 11 kabupaten dan kota di Sumut. Saat ini, total babi yang mati mencapai 4.682 ekor lebih. Kepala Lingkungan IX, Kelurahan Terjun, Kota Medan, Syamsul Bahri mengatakan hingga hari ini bangkai babi masih ditemukan mengambang di sungai Bederah.

"Sampai pagi tadi masih banyak bangkai babi yang tersangkut di Sungai Bederah. Bau menyengat dari bangkai itu terus tercium oleh warga. Ada sekitar puluhan bangkai babi. Padahal, di daerah ini tidak ada peternak babi. Kami juga tidak tahu dari mana orang membuang bangkai babi ini," kata Syamsul, Jumat (8/11/2019).

Bangkai Babi

Kepala Balai Veteriner Medan, Agustia mengimbau para peternak mengubur atau membakar bangkai babi yang terindikasi terjangkit virus. Tujuannya, untuk mencegah penyebaran virus ke ternak babi lainnya.

"Mohon kepada peternak yang babinya mati untuk tidak membuang babinya ke sungai, ataupun semak-semak sekitar rumah. Karena dikhawatirkan babi-babi yang mati bisa menyebarkan kepada ternak warga lain yang masih sehat," imbau Agustia.

Pembuangan bangkai babi ke sungai diduga salah satu dampak dari peternakan babi ilegal di Sumut. Beberapa Pemerintah daerah sudah melakukan langkah tegas dengan menutup peternakan babi yang tidak memiliki izin beroperasi.

Sebelum melakukan penertiban, biasanya pemerintah telah menyurati peternak untuk mengosongkan kandang secara bertahap.

Namun, kerap kali petugas Satpol PP mendapat perlawanan dari peternak ilegal saat penertiban dilaksanakan.

Dampak negatif dari peternakan ilegal adalah pembuangan limbah babi ke sungai dan danau Toba. Salah satu limbah ternak babi yang dibuang sembarangan yakni kotoran.

Pada tahun 2014 silam, Anggota Komisi B DPRD Sumut, Jenny Lucia R Berutu mengatakan ternak babi yang dikelola salah satu peternakan mencapai ribuan ekor dan termasuk terbesar di Asia Tenggara. Ratusan ton limbah padat dan cair yang dihasilkan juga langsung mengalir ke Danau Toba.

"Tentunya ini membuat kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba terganggu dan enggan mandi ataupun berenang di danau karena sudah terbayang ada ternak diatas," katanya, Selasa (18/11/2014).

Menurut Politisi Partai Demokrat ini, dampak lain dari pencemaran lingkungan yang dihasilkan adalah keberadaan sejumlah bakteri yang dapat mengganggu kesehatan warga yang menggunakan air Danau Toba untuk keperluan sehari-hari.

Karena itu, pihaknya akan meninjau langsung peternakan tersebut dan meminta kepada BLH Sumut untuk memberikan langkah konkrit terhadap permasalah pencemaran lingkungan di Danau Toba.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini