Panglima: Operasi TNI Tak Hanya Andalkan Metode Perang Konvensional

Erha Aprili Ramadhoni, Okezone · Kamis 07 November 2019 14:33 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 07 337 2126912 panglima-operasi-tni-tak-hanya-andalkan-metode-perang-konvensional-tLEAAGW8AT.jpg Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Jalan Gatot Subroto No 96, Bandung, Jabar, Kamis (7/11/2019). (Foto : Dok Puspen TNI)

JAKARTA – Konsep operasi masa kini yang sedang dikembangkan adalah operasi multidimensi, yang berbasis teknologi Network Centric Warfare. Operasi TNI tak hanya mengandalkan metode peperangan konvensional semata, tetapi pada saat yang sama dibarengi pelibatan Siber TNI, Puspen TNI, intelijen, teritorial, Satgas Dukungan, dan upaya diplomasi.

Hal itu disampaikan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto di hadapan 566 perwira siswa Seskoad, Seskoal, dan Seskoau 2019, bertempat di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Jalan Gatot Subroto No 96, Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/11/2019).

Panglima TNI mengatakan, Network Centric Warfare adalah metode peperangan yang berbasis pada konektivitas jaringan komunikasi dan data secara real time dari markas ke unit-unit tempur dan sebaliknya, untuk mempercepat proses pengambilan keputusan komando, didasarkan pada data-data dan informasi terkini.

“Oleh karenanya dibutuhkan dukungan teknologi tinggi untuk memiliki kemampuan Network Centric Warfare, salah satunya adalah melalui program Interoperability Kodal yang sudah diajukan ke Kemhan melalui mekanisme pengadaan alutsista luar negeri,” katanya, dalam keterangan tertulis.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Jalan Gatot Subroto No 96, Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/11/2019). (Foto : Puspen TNI)

Panglima TNI menegaskan, dalam konteks kekinian, Puspen TNI tidak lagi hanya sebagai institusi penerangan masyarakat, tetapi sudah harus berubah menjadi media warrior yang melaksanakan media warfare untuk memenangkan opini publik. Demikian juga dengan Siber TNI, Psikologi TNI, dan Koopssus TNI yang melaksanakan operasi-operasi khusus.

“Upaya mencapai keberhasilan operasi TNI harus dicapai melalui segala lini, dan dilaksanakan secara terintegrasi, dengan tujuan akhir adalah untuk keberhasilan pelaksanaan tugas pokok,” katanya.

Panglima TNI menyampaikan spektrum ancaman yang sangat kompleks membutuhkan organisasi yang adaptif. Organisasi yang tidak responsif atau tidak adaptif dengan tantangan dan ancaman yang baru akan tenggelam dan digilas perubahan. “Untuk menjadi organisasi yang adaptif, TNI membutuhkan perwira-perwira yang adaptif pula. Perwira yang tidak alergi dengan perubahan, mampu melihat trend, bersinergi, dan tidak berpikiran sempit,” tuturnya.

Lebih lanjut Hadi mengatakan, perlu ada perubahan mind set para perwira bahwa situasi saat ini sangat dinamis, cepat berubah, dan membutuhkan respons tinggi.

“Tidak ada lagi zamannya para komandan santai-santai dan berleha-leha di kursi komandan. Komandan harus turun ke lapangan, melihat fenomena dan tren perubahan ancaman, kondisi masyarakat, anak buah, dan berpikir antisipatif,” tuturnya.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Jalan Gatot Subroto No 96, Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/11/2019). (Foto : Puspen TNI)

Di akhir pembekalannya, Panglima TNI mengingatkan pendidikan semacam Sesko TNI dan Sesko Angkatan harus dapat mencetak sumber daya manusia unggulan berupa perwira-perwira yang berkualitas.


Baca Juga : TNI Bakal Punya Wakil Panglima

“Pembinaan para personel tersebut harus berdasar pada merit system, the right man on the right place, serta memperhatikan kemampuan dan prestasi,” katanya.


Baca Juga : Panglima TNI Bahas Pertahanan Ibu Kota Baru saat Rapat Dengan Komisi I

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini