Dinilai Over Dosis, Muhammadiyah Minta Pembicaraan soal Radikalisme Dikurangi

Fahreza Rizky, Okezone · Kamis 07 November 2019 11:07 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 07 337 2126810 dinilai-over-dosis-muhammadiyah-minta-pembicaraan-soal-radikalisme-dikurangi-dd7x8VHfSj.JPG Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas (Foto: suaramuhammadiyah.id)

JAKARTA - Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas mengimbau pemerintah dan media massa mengurangi pembicaraan tentang radikalisme. Menurut dia, dosis pembicaraan tentang itu saat ini sudah melebihi batas. Menurutnya, masih banyak masalah bangsa lain yang perlu disoroti.

"Mengingat masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini sangat banyak maka kita mengharap kepada pihak pemerintah dan media agar mengurangi dosis pembicaraan tentang radikalisme karena apa yang ada selama ini terasa sudah melebihi dosis dan proporsinya," kata Anwar kepada Okezone di Jakarta, Kamis (7/11/2019).

"Oleh karena itu kita meminta supaya dosis pembicaraan tentang radikalisme ini dikurangi dan atau dikempiskan," sambung dia.

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu berujar bahwa bukan berarti masalah radikalisme tidak penting dan tidak berbahaya. Tetapi, menurut dia masih banyak persoalan bangsa lain yang sejatinya diperhatikan. Satu di antaranya masalah pendidikan.

"Dalam masalah pendidikan misalnya. Dunia pendidikan kita yang semestinya harus bisa mencetak dan melahirkan generasi yang memiliki karakter seperti yang dikehendaki oleh Presiden Jokowi yaitu menjadi insan Pancasilais ternyata realitanya masih sangat jauh panggang dari api," tuturnya.

Ilustrasi RadikalismeIlustrasi (Foto: Okezone)

Semestinya, lanjut dia, pendidikan bisa mencetak generasi Pancasilais yang berketuhanan dan taat beragama. Selain itu, generasi Pancasilais semestinya juga dapat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, serta mencintai persatuan-kesatuan. Tetapi, saat ini, dunia pendidikan justru banyak mencetak generasi bangsa yang sekuler.

"Ternyata dunia pendidikan kita telah banyak mencetak anak-anak dan generasi bangsa yang sekuler karena pendidikan yang kita berikan kepada mereka lewat mata ajar yang ada terputus dan tidak terkait dengan Tuhan dan atau sila pertama sehingga mereka menganggap agama tidak penting dan tidak boleh dibawa-bawa ke dalam kehidupan ekonomi dan politik serta kegiatan publik lainnya," tuturnya.

"Padahal kehadiran agama bagi kita bangsa Indonesia harus menjadi sumber nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," lanjut Anwar.

Lebih lanjut, ia kembali menekankan bahwa dunia pendidikan harus dibenahi agar mampu mencetak generasi bangsa yang tunduk dan patuh kepada Tuhannya. Dengan demikian, mereka dapat memahami pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa.

"Oleh karena itu kita mengimbau kepada para pemimpin di negeri ini agar bersikap rasional dan proporsional. Jangan yang kecil dibesar-besarkan dan jangan pula yang besar dikecil-kecilkan. Hadapi semuanya secara cerdas dan realistis dengan mengedepankan rasa kebersamaan dan keadilan karena dengan cara itulah kita yakin bangsa ini akan bisa survive, maju dan berkembang," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini