nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jejak Perjuangan Cut Nyak Dien Selama di Pengasingan hingga Akhir Hayat

Rabu 06 November 2019 15:41 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 11 06 337 2126496 jejak-perjuangan-cut-nyak-dien-selama-di-pengasingan-hingga-akhir-hayat-x5kPva9eGh.jpg Cut Nyak Dien (foto: istimewa)

JAKARTA – Hari ini tepat 111 tahun meninggalnya Cut Nyak Dien. Pahlawan wanita inspiratif dari Aceh ini lahir pada tahun 1848 dari keluarga bangsawan yang agamis di Aceh Besar. Dari garis ayahnya, Cut Nyak Dien merupakan keturunan langsung Sultan Aceh.

Ketika usianya menginjak 12 tahun, Cut Nyak Dien dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga pada tahun 1862 yang juga berasal dari keluarga bangsawan. Setelah 16 tahun menikah dengan Cut Nyak Dien, Teuku Cek Ibrahim Lamnga gugur di medan perang.

Mengutip dari laman Wikipedia, pada tahun kedua kematian suami pertamanya, Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Umar. Pasangan ini dikaruniai satu orang anak bernama Cut Gambang. Namun, pada 11 Februari 1899 Teuku Umar gugur.

 cut

Ditinggal dua orang terkasih tidak membuat Cut Nyak Dien berhenti berjuang. Ia tetap maju melawan penjajah sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya.

 Baca juga: Peristiwa 6 November: Cut Nyak Dhien Meninggal Dunia

Usianya yang saat itu sudah relatif tua serta kondisi tubuh yang digerogoti berbagai penyakit, membuat salah seorang pasukannya yang bernama Pang Laot melaporkan keberadaan Cut Nyak Dien kepada Belanda. Cut Nyak Dien bisa diserahkan ke Belanda dengan syarat bahwa Belanda merawat Cut Nyak Dien dengan baik.

Takut akan keberadaannya menambah semangat perlawanan rakyat Aceh, Belanda dengan taktik liciknya menangkap dan mengasingkan Cut Nyak Dien ke Sumedang pada 1906. Selama pengasingan, Cut Nyak Dien tinggal di sebuah rumah bersama dua penjaganya. Cut Nyak Dien diserahkan kepada Bupati Sumedang dan dirawat oleh KH Ilyas.

“Sosok Cut Nyak Dien sangat berarti bagi warga Sumedang. Semasa pembuangan, Cut Nyak Dien sering mengajarkan warga membenarkan tajwid Alquran dan memberikan dakwah dalam bahasa Arab,” ujar Dadang, keluarga dari KH Ilyas yang menjaga Cut Nyak Dien.

Pada mulanya, masyarakat Sumedang mengenal Cut Nyak Dien dengan panggilan “Ibu Perbu”. Kala itu, tidak ada masyarakat yang mengetahui bahwa Cut Nyak Dien adalah pejuang besar Aceh. Hal itu disebabkan keterbatasan bahasa dan kondisi Cut Nyak Dien yang buta.

Cut Nyak Dien hanya bisa berbahasa Arab. Ia dipanggil Ibu Perbu karena kepiawaiannya mengajarkan Alquran. Tidak terlintas di pikiran bahwa guru mengaji mereka merupakan sosok pejuang besar kemerdekaan. Baru diketahui secara pasti bahwa Ibu Prebu yang dikenal masyarakat Sumedang adalah Cut Nyak Dien saat Pemda Aceh melakukan penelusuran pada 1960.

Setelah dua tahun diasingkan, Cut Nyak Dien mengembuskan napas terakhirnya pada 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang. Makam Cut Nyak Dien sering diramaikan para peziarah dari berbagai daerah. Selain memberikan doa, para peziarah dapat belajar tentang kisah hidup dan sejarah Cut Nyak Dien yang berjuang melawan penjajah sampai titik darah penghabisan.

Meskipun terpisah ratusan kilometer dari Tanah Rencong tempat ia berjuang. Cut Nyak Dien dalam pengasingannya tetap memberikan konstribusi kepada masyarakat. Perjuangan Cut Nyak Dien membuat seorang penulis Belanda, Szeky Lulof kagum dan menjulukinya Ratu Aceh. (Alifa Muthia Diningtyas)

 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini