Kritisi Kenaikan Cukai Rokok, Politikus PKB: Sumber Penyakit Junk Food, Bukan Tembakau

Fadel Prayoga, Okezone · Kamis 31 Oktober 2019 00:54 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 31 337 2123875 kritisi-kenaikan-cukai-rokok-politikus-pkb-sumber-penyakit-junk-food-bukan-tembakau-1dpaKCvD64.JPG Politikus PKB, Dita Indah Sari (Foto: Okezone.com/Sarah)

JAKARTA - Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Dita Indah Sari menyatakan keberatan dan keheranannya terkait tingginya kenaikan cukai rokok yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui PMK Nomor 152 Tahun 2019 yang disinyalir bakal merugikan petani dan pekerja tembakau.

"Kemenkeu dan Kemenkes menggunakan argumentasi bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan, menimbulkan sakit jantung, kanker dan sebagainya. Maka cukai harus naik supaya harga rokok jadi mahal. Seolah-olah tembakau dan produksinya menjadi biang keladi semua penyakit. Padahal menurut kami tidak begitu," ujarnya, Rabu, 30 Oktober 2019.

Mengutip data UNICEF PBB tahun 2016, Ketua DPP PKB bidang Ketenagakerjaan itu menyebut bahwa junk food dan pola makanlah yang menyumbang peranan terbesar bagi problem kesehatan.

"12 persen anak Indonesia mengalami obesitas dan 12 persen mengalami malnutrisi justru karena pola makan yang keliru, terutama akibat konsumsi junk food," bebernya.

Seharusnya kata dia, pemerintah mengkampanyekan bahaya makan makanan junk food ini secara massif. Akan tetapi justru tembakau yang kerap diklaim sebagai penyebab penyakit jantung dan kanker.

RokokIlustrasi Rokok (Foto: Okezone/Dede Kurniawan)

"Mengonsumsi junk food telah terbukti di seluruh dunia menjadi penyebab obesitas, jantung (akibat tinggi kalori-red), dan stroke.

Di Inggris, Eropa dan Amerika Serikat pajak untuk minuman bersoda sudah diberlakukan. Juga pembatasan terhadap junk food. Harusnya juga bisa diterapkan di Indonesia," papar Dita.

Ia meminta pemerintah dalam hal ini Kemenkes tidak selalu menyoroti tembakau sebagai satu-satunya sumber masalah kesehatan. "Justru sumber penyakit terbesar masyarakat itu ialah pola makan yang keliru," tandasnya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini