nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BNPB: Pengeboran Panas Bumi Bukan Pemicu Gempa Ambon

Muhamad Rizky, Jurnalis · Selasa 29 Oktober 2019 14:44 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 29 337 2123128 bnpb-pengeboran-panas-bumi-bukan-pemicu-gempa-ambon-uC5RVcofKd.jpeg Ilustrasi (Foto: Ist)

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan gempa yang terjadi di Ambon dan sekitarnya bukan karena pengeboran panas bumi. Hal itu menepis adanya informasi yang menyebutkan gempa yang terjadi karena pengeboran panas bumi.

Kepala Sub Direktorat Peringatan Dini BNPB Abdul Muhari menyampaikan aktivitas gempa merupakan aktivitas dari bidang patahan. Analoginya, jika beberapa meja disusun saling bersinggungan, ketika satu sisi meja didorong maka seluruh meja akan bergerak. Bidang gempa adalah sisi meja, sedangkan episenter adalah titik awal mendorong meja.

“Pergerakan dari bidang gempa ini dipengaruhi oleh tekanan atau regangan bidang-bidang yang saling bersinggungan, bukan faktor eksternal yang bersifat lokal seperti aktivitas pengeboran” kata Muhari melalui rilis yang disampaikan Agus Wibowo, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Selasa (29/10/2019).

Baca Juga: Jokowi Akan Berkunjung dan Dialog dengan Pengungsi Gempa Maluku

BNPB meluruskan informasi gempa tersebut karena ada pemberitaan yang mengutip pendapat warga kalau pengeboran panas bumi memicu gempa Ambon dan sekitarnya beberapa waktu lalu. Media itu mengutip salah satu opini warga Suli, Kabupaten Maluku Tengah.

Ilustrasi Foto: Ist

Dalam pemberitaannya, warga Suli, Tulehu dan Liang, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) menduga aktivitas pengeboran energi panas bumi, yang dilakukan sejak 2010 di wilayah mereka merupakan salah satu faktor pemicu gempa bumi yang dialami warga, mulai dari Kota Ambon, hingga Pulau Seram.

Muhari menambahkan, sejauh ini, belum ada kajian yang memperlihatkan ada efek dari kegiatan pengeboran dalam memicu kejadian gempa bumi. Kejadian gempa Ambon adalah murni fenomena sesar aktif, bukan faktor lain.

Untuk itu, BNPB saat ini bekerja sama dengan ITB dan BMKG memasang 11 seismograf untuk melakukan pemantauan dan penelitian di wilayah Ambon dan sekitarnya. Pemantauan dan penelitian tersebut bertujuan untuk dapat memetakan dengan lebih detail karakteristik sesar aktif di Ambon agar mitigasi ke depan lebih terarah dan terukur.

Baca Juga: Gempa Maluku: 41 Orang Tewas dan 103 Ribu Masih Mengungsi

Sementara itu, Data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Gempa Maluku per 27 Oktober 2019 mencatat korban meninggal 41 jiwa, luka ringan 226, luka berat 2 dan mengungsi 103.301. Selain dampak korban, gempa juga menyebabkan kerusakan dengan total rumah rusak berjumlah 12.137 unit dengan rincian rumah rusak berat (RB) 2.712 unit, rusak sedang (RS) 3.317 unit dan rusak ringan (RR) 6.108 unit, serta kerusakan fasilitas umum dan sosial sebanyak 730 unit.

Perkiraan kerugian mencapai sebesar Rp170 miliar untuk sektor perumahan dan Rp376 miliar untuk merusakan fasilitas umum dan fasilitas sosial (fasum dan fasos).

BMKG mencatat gempa susulan per 27 Oktober 2019, pukul 22.00 WIT mencapai 1.897 kali dengan gempa yang dirasakan 214 kali. Berdasarkan informasi Posko, gempa susulan yang cukup besar terjadi pada 10 Oktober 2019 dengan M 5,2 dan berpusat pada 16 km ke arah timur laut Kota Ambon. Kedalaman gempa tersebut berada pada 10 km.

Gempa utama terjadi pada 26 September 2019 pada pukul 08.46 WIT dengan M 6,5 dan berkedalaman 10 km. Pusat gempa berada pada 42 km timur laut Kota Ambon.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini