Kasak-kusuk Gibran Rakabuming di Pilwalkot Solo

Awaludin, Okezone · Senin 28 Oktober 2019 08:15 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 27 337 2122392 kasak-kusuk-gibran-rakabuming-di-pilwalkot-solo-E8NnhMGk8G.jpg Gibran Rakabumi saat berkunjung ke kediaman FX Hadi (foto: ist)

PUTRA sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka memastikan dirinya akan maju di Pilkada 2020 nanti, lewat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Padahal sebelumnya, Gibran dikabarkan akan maju di Pilwalkot Solo lewat independen. Diketahui DPC PDIP Kota Solo secara resmi mengajukan pasangan Ahmad Purnomo dan Teguh Prakoso ke DPP PDIP.

Pria kelahiran Solo, 1 Oktober 1987 itu tidak patah arang, dirinya pun berkonsultasi dengan beberapa senior-senior PDIP di pusat. Dari hasil konsultasi itu, beberapa senior PDIP, menyarankan bila dirinya masih bisa mendaftar melalui DPD atau DPP PDIP. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Megawati Soekarnoputri untuk meminta restu dan wejangan.

Menurut Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan, dalam pertemuan antara Gibran dan Megawati, suami mantan putri Solo, Selvi Ananda itu diberikan empat buku bacaan oleh Megawati, yakni Indonesia Menggugat; Mencapai Indonesia Merdeka; Lahirnya Pancasila dan Membangun Tatanan Dunia Yang Baru.

 Gibran

Kata Hasto, buku-buku tersebut merupakan buku Bung Karno yang bersifat wajib bagi kader PDIP untuk membacanya. Dengan demikian, Hasto pun menyebutkan pertemuan antara Gibran dengan Presiden kelima ini tak hanya silahturahmi saja tapi juga semacam kursus politik kepada putra sulung Presiden RI ini.

“Pertemuannya semacam kursus politik juga secara langsung dari Ibu Megawati Soekarnoputri kepada Mas Gibran," kata Hasto.

Menanggapi pertemuan tersebut, Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo tak mempermasalahkan jika Gibran menemui Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri tanpa meminta izinnya terlebih dahulu.

Menurut Rudy, meskipun Gibran sudah mengantongi Kartu Tanda Anggota (KTA), tak ada keharusan bagi pendiri perusahaan kuliner martabak yang disebut Markobar itu, meminta izin pada dirinya bila ingin menghadap Megawati.

 Gibran

Saat menyinggung apa yang akan dilakukan bila rekomendasi Megawati untuk kandidat Calon Wali Kota Solo jatuh ke ayah dari Jan Ethes Sri Nalendra? Rudy enggan berandai-andai.

Menurut Rudy, rekomendasi merupakan hak mutlak dari Ketua Umum PDIP. Sehingga dirinya menyerahkannya pada Megawati. Namun, secara mekanisme partai, dirinya sudah menjalankannya. Di mana, calon yang ditugaskan maju di Pilwalkot nanti secara sah sudah diusulkan seluruh instrumen partai.

Mulai dari tingkatan anak ranting, anak cabang, hingga ke tingkat DPC. Dan DPC pun sudah menyerahkan hasil pilihan kader diberikan pada Ahmad Purnomo dan Teguh Prajoso.

"Dan itu prosesnya sudah selesai, saya sudah bawa nama calon ke DPP, selesai sesuai ketentuan dari peraturan partai No 24 tahun 2017. Sekarang keputusan ada di DPP," kata Rudy.

Majunya Gibran di Pilwalkot Solo 2020 dari PDIP mendapatkan reaksi, dari salah satu tokoh berpengaruh di kota Solo, Kusumo Putro.

Menurut Kusumo, munculnya nama Gibran maju di Pilkada Solo membawa persoalan tersendiri bagi PDIP Solo. Pasalnya, ungkap Kusumo, sosok Gibran tak bisa lepas dari sosok Presiden Jokowi.

Hanya saja, sosok Gibran sangat berbeda dengan sosok Jokowi. Perbedaan itu terletak kala awal Jokowi maju sebagai Wali Kota Solo. Pasalnya kala itu Jokowi tidak pernah melamar menjadi calon wali kota, PDIP yang justru melamar Jokowi. Sedangkan Gibran, bukan PDIP yang melamar, tapi Gibran sendirinya melamar untuk dicalonkan.

"Kalau kita bicara Gibran tidak lepas kalau kita bicara Jokowi. Tapi, Gibran bukan seperti Jokowi. Ya, memang PDIP waktu itu spekulasi mengangkat Jokowi yang dari kalangan pengusaha menjadi wali kota," ucap Kusumo.

Saat itu PDIP tak punya calon, sehingga memilih Jokowi. Berbeda dengan saat ini, DPC PDIP Solo sudah memiliki calon sendiri yang diajukan ke PDIP, yakni Ahmad Purnomo.

"Kenapa muncul nama Gibran dan kenapa Gibran tetap ngeyel mendaftarkan diri melalui DPP. Dan jika DPP PDIP tidak segera mengambil sikap untuk membuat rekomendasi jatuh pada siapa, maka ini akan membuat situasi Kota Solo kurang nyaman," ucapnya.

Ia pun meminta kepada Presiden Jokowi agar turun tangan untuk meminta putranya berpikir dua kali maju di Pilwalkot dilandasi kondusifnya kota Solo. Pasalnya ketika muncul nama Gibran, di masyarakat sudah terjadi pro dan kontra. Saat ini saja, meskipun Gibran belum mendapatkan rekomendasi, kelompok-kelompok kecil, baik pendukung Gibran maupun pendukung Ahmad Purnomo dan Teguh Prakoso sudah mulai bermunculan.

"Apabila (tim pendukung) semakin berkembang tidak terbendung maka ini akan membuat situasi kota Solo kurang nyaman. Dan jika DPP PDI tidak segera mengambil sikap jelas membuat PDIP Solo terbelah," terang Kusumo.

Sambil mengutip sebuah pepatah Jawa, "Anak Polah Bopo Kepradah," sikap pembiaran Presiden Jokowi yang lebih memilih diam, akan memunculkan pemikiran di masyarakat bila Jokowi membangun kerajaan. Apalagi, menantunya sendiri pun juga mencalonkan diri di Pilkada ini juga.

Untuk itu, Kusumo meminta agar Gibran terlebih dahulu belajar menata pemerintah dengan mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif. Bila modal politik sudah ada, barulah Gibran mencalonkan diri di Pilkada.

"(Gibran) Perlu belajar, berangkat dulu dari DPRD, minimal untuk belajar tentang penataan kota. Kedua harus belajar dulu menjadi kader partai," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini