nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Begini Aturan Polisi saat Menangani Aksi Unjuk Rasa

Wahyu Muntinanto, Jurnalis · Minggu 27 Oktober 2019 01:32 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 27 337 2122198 begini-aturan-polisi-saat-menangani-aksi-unjuk-rasa-QRbNu4jMIL.jpg Ilustrasi Unjuk Rasa (Foto: Okezone/Wahyu)

DEPOK - Kabag Ops Korps Brimob Polri, Kombes Waris Agono mengatakan menangani aksi unjuk rasa terlebih dalam eskalasi besar yang mengarah kepada kerusuhan, anggota Brigade Mobil (Brimob) tidak boleh mengedepankan arogansi.

Sebab, dalam prosedur penanganan unjuk rasa tentunya pihak kepolisian membagi situasi ke dalam tiga indikator warna, yakni hijau, kuning, dan merah. Untuk warna hijau diartikan kondisi massa masih tertib, sedangkan situasi kuning dan merah berarti massa mulai rusuh dan anarkis.

"Kalau hijau hanya mengenakan pakaian prosedural dan bertopi saja petugas Sabhara Polri harus dengan tangan kosong. Kalau kuning mulai lintas ganti dengan petugas membawa tameng fiber. Jika merah, maka lintas ganti ke satuan PHH Brimob," ucap Waris di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Sabtu (26/10/2019).

Demo

Baca Juga: Jurnalis Dipersilakan Naik ke Mobil Taktis Polisi saat Liput Demo Rusuh

Akan tetapi, saat situasi sudah berubah menjadi memanas dan terjadi kerusuhan Kasatwil yang biasanya dipegang oleh Kapolres atau Kapolda setempat akan berkoordinasi meminta bantuan personel pengamanan.

"Kapolres atau Kapolda kalau menilai ada peningkatan situasi, maka meminta bantuan ke Kapolda atau Kapolri. Kemudian setelah mendapat perintah disiapkan, maka disiapkan personel dan peralatannya," paparnya.

Setelah pasukan disiapkan Komandan Brimob yang bertugas di tempat akan memeberikan arahan, peringatan, rencana tindakan kepada anggotanya. Anggota yang bertugas pun dilarang terpancing emosi, melakukan kekerasan berlebihan, membawa peralatan berlebihan.

"Misal PHH enggak boleh bawa senjata api dan senjata tajam. Maka ini sebelum operasi petugas Brimob diperiksa dulu. Tidak boleh keluar formasi, bersikap arogan, memaki, mengeluarkan kata-kata kotor, mengeluarkan tindakan di luar perintah pimpinan," imbunya.

Adapun secara teknis, lanjutnya, setelah petugas bertindak maka akan kembali ada imbauan agar massa tidak anarkis dan mau membubarkan diri. Jika imbauan tersebut tidak dihiraukan, upaya pendorongan pun dilakukan.

"Jika mendorong pakai tameng tidak bubar, maka untuk memudahkan mendorong disemprotlah air water canon. Dulu ada penggunaan air yang menyebabkan rasa gatal. Tapi setelah ada protes, maka diganti air biasa dan ini air bersih. Tetapi kalau dengan water canon tidak bubar juga, kita lanjutkan dengan gas air mata. Water canon juga berfungsi memadamkan api," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini