Kasus Anak Kecanduan Gadget di Bekasi, Jarinya Terus Bergerak Seperti Main Game

Wijayakusuma, Okezone · Sabtu 26 Oktober 2019 11:05 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 25 337 2121902 kasus-anak-kecanduan-gadget-di-bekasi-jarinya-terus-bergerak-seperti-main-game-E0U9nmuCCx.jpg Yayasan Zamrud Biru tangani anak yang gila karena gadget (Foto: Okezone/Wijayakusuma)

PERKEMBANGAN teknologi telah menghadirkan berbagai jenis gadget yang dibutuhkan masyarakat. Di kalangan anak-anak, gadget yang berhubungan dengan game mungkin menjadi yang paling favorit. Mulai dari game dengan konsol hingga smartphone, menyediakan kebutuhan anak-anak terhadap game.

Meningkatnya kegemaran terhadap game khususnya e-sport, kerap membuat anak-anak tak bisa lepas dari gadget. Terlebih berbagai aplikasi game online kini sudah bisa didownload secara mudah di smartphone. Alhasil, pemakaian gadget berdampak buruk terhadap sebagian anak yang tak mendapat kontrol orangtua. Sang anak pun mengalami kecanduan yang berujung pada gangguan mental.

Suhartono, pendiri Yayasan Jamrud Biru yang terletak di Kampung Babakan Jalan Asem Sari II RT 03 RW 04, Kelurahan Mustikasari, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat mengatakan sudah ada 4 pasien pecandu game online yang dirawat di yayasan rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) itu.

Gila Gadget Bekasi

Salah satunya adalah Wawan Game yang sempat viral di media sosial karena tangannya yang selalu bergerak seperti sedang bermain game. Sementara 3 pasien lainnya tercatat sebagai pelajar.

"Kalau yang diterima di Jamrud Biru sudah 4 ya. Yang 3 sudah kembali pulang, sehat, tinggal 1. Cuma sudah ada 3 lagi yang konsultasi, rencana akan dibawa ke yayasan. Ini 3 dari berbagai daerah juga, kita tinggal nunggu kedatangannya. Mereka juga sama karena game online dan gadget," kata pria yang akrab disapa Hartono itu saat diwawancarai Okezone, Jum'at (25/10/2019).

Hartono mengaku tidak menggunakan obat-obatan medis dalam proses penyembuhan pasien. Ia lebih menerapkan pendekatan persuasif dan spiritual untuk memulihkan kembali kondisi kejiwaan pasien.

Lipsus Gila Gadget (Foto: Okezone)

"Jadi yang terpenting bagaimana memberikan pengobatan yang nyaman. Pertama itu memberikan relaksasi. Kedua pendekatan persuasif. Ketiga kita beri masukan kepada pasien dengan mengarah kepada keagamaan. Jadi gagdetnya kita ganti dengan buku Yasin, Qur'an dan buku-buku agama. Disitu akan terlihat tatapan pasien, oh ya ini lebih penting sebenarnya dari gadget. Jadi kita ajarkan ke arah agama yang lebih penting. Dari 3 poin itu, pasien berangsur membaik," paparnya.

Dari keseluruhan pasien pecandu gadget, Hartono menemukan beberapa kesamaan yang menjadi ciri, seperti memiliki emosi tinggi, serta kecenderungan berhalusinasi.

"Itu yang unik disitu, terlalu kelihatan banget dia menjadi seorang yang di dalam gadget, atau seorang game online atau bagaimana gitu. Dan mempunyai harapan-harapan yang semu yang sebenarnya tidak ada, cuma dia berharap seperti itu. Itulah yang kita buang pelan-pelan," akunya.

Selain itu, kata dia, ada sejumlah kegiatan olahraga yang diberikan untuk para pasien, yang diharapkan bisa mengalihkan perhatiannya terhadap game.

"Di sini ada futsal, voli, skiping, baris berbaris. Dari sisi keagamaan juga ada belajar Yasin, iqro, ayat-ayat pendek, belajar sholat. Dengan kegiatan yang padat itu, membuat si pasien itu merasa sudah melupakan gadget. Dan ilmu yang dia dapatkan dari agama lebih tinggi, dan itu adalah membuat sosok pasien gagdet ini melupakan penyakitnya," ujarnya.

Untuk proses penyembuhan setiap pasien diakui Hartono berbeda-beda, tergantung seberapa parah kecanduan yang diidap sang pasien.

Gila Gadget Bekasi

"Pengalaman yang sudah saya tangani yang paling berat itu Wawan Game ya, itu 4 bulan. Selain itu alhamdulilah cuma 1 bulan, 2-3 minggu, paling lama 1 bulan. Paling cepat itu seperti Yuda, itu 2 minggu 2 hari sudah pulang," ucapnya.

Sementara pasien dinyatakan sembuh jika sudah mengalami sejumlah perubahan, seperti raut wajah yang tak lagi stres, serta pasien yang mulai menunjukkan sikap ramah dan memiliki rasa malu.

"Dari raut wajah yang awalnya agak murung, tensi emosi dari mata mungkin agak sedikit merah, atau kelihatan jelas mukanya tidak enak lah. Tapi dengan perubahan mentalnya baik, mukanya jadi enak dan pasien lebih santun. Terus mungkin rasa malu yang tinggi, beda dari pasien yang belum ada kesembuhan. Terus bertanya pak kenapa saya ada di sini, apa dasarnya, jadi banyak tanya dan akhirnya kita terangkan. Itu awal perubahan jelas dari situ," jelasnya.

Lanjut Hartono, tak ada pemeriksaan lanjutan untuk pasien yang sudah diperbolehkan pulang. Pihak yayasan hanya menyarankan keluarga untuk aktif berkomunikasi terkait perkembangan pasien di rumah. "Seperti pak Bagio kemarin hubungi saya memberitahu kondisi anaknya Yuda sudah lebih baik," katanya.

Hartono sendiri mengaku termasuk pihak yang tak menyetujui pemberian gadget smartphone pada anak-anak. Menurutnya hal itu hanya akan memberi dampak buruk bagi perkembangan mental dan fisik anak. Alih-alih sebagai alat komunikasi, smartphone justru digunakan anak untuk bermain game yang bisa berujung kecanduan.

"Sekarang memang zaman canggih teknologi yang bisa mengarah kepada kemudahan atau instan. Tapi kembali juga kepada efek ya, semuanya yang disebut instan, ada efek baik tapi ada juga efek buruknya. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Mungkin itu menjadi suatu motto bagi orangtua," ujarnya.

Ketegasan Hartono terkait hal ini juga ditujukan kepada keluarga dan orang-orang terdekatnya. Ia melarang penggunaan gadget kepada anak dan juga ponakannya, dengan alasan tidak ingin masa depan mereka hancur akibat terpapar gadget.

"Seperti keponakan saya yang masih SD, lebih baik handphonenya saya hancurkan daripada nanti akan menghancurkan dirinya. Kalau dia hanya sekedar untuk edukasi, belajar sekolah, betul-betul teknologi ini dibuat untuk pengetahuan dan kemajuan hidup, itu harapan semua masyarakat kita. Tapi kalau hanya untuk merusak mental dan membuat orang yang menggunakan ini terobsesi dengan keadaannya atau kelakuannya, itu lebih parah," tegasnya.

"Berapa harga gadget dengan kehancuran dirinya kelak, itu lebih mahal. Boleh kita berikan gadget dengan terbatas, dengan waktu sesaat. Boleh setelah belajar kita kasih waktu setengah jam atau 10-15 menit, setelah itu dia tidur. Ke sekolah gak perlu bawa gadget. Gadget hanya diperlukan untuk anak-anak itu paling jauh hanya game. Kalau untuk komunikasi mungkin tidak seperti kita yang dewasa," paparnya.

Karenanya ia berharap pemerintah serta orangtua lebih berperan dalam membatasi penggunaan gadget kepada anak. Hal ini demi menghindari dampak buruk gadget dari anak-anak yang merupakan generasi bangsa.

"Anak-anak kita ini penerus generasi muda bangsa kita. Kalau anak-anak dari sekarang sudah rusak, mau seperti apa bangsa kita nantinya. Jadi anak-anak adalah modal kita, harus dijaga, kita perbaiki yang terlebih lagi kita bisa memotivasi anak mana yang lebih baik, mana yang tidak baik," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini