nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Calon Menteri Jokowi di Tengah Sorotan Publik

Qur'anul Hidayat, Jurnalis · Rabu 23 Oktober 2019 07:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 23 337 2120505 calon-menteri-jokowi-di-tengah-sorotan-publik-xFxHDC7TIg.jpg Jokowi akan mengumumkan nama-nama menteri di Kabinet Kerja Jilid II hari ini, Rabu 23 Oktober 2019. (Foto: Okezone.com/Arif Julianto)

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) telah memanggil sejumlah tokoh yang dimintanya untuk jadi menteri di Kabinet Kerja Jilid 2. Mereka yang dipanggil ada yang wajah lama alias menteri Jokowi di periode sebelumnya, namun ada juga wajah baru.

Jika dikelompokkan, wajah lama yang dipanggil Jokowi adalah Airlangga Hartarto, Pratikno, Sri Mulyani, Agus Gumiwang Kartasasmita, Siti Nurbaya Bakar, Basuki Hadimuljono, Budi Karya Sumadi, Yasonna Laoly, Sofyan Djalil, Moeldoko, Tjahjo Kumolo, Bambang Brodjonegoro dan Luhut Panjaitan.

Sedangkan wajah baru adalah Mahfud MD, Christiany Eugenia Paruntu, Erick Thohir, Whishnutama, Nadiem Makarim, Fadjroel Rachman, Nico Harjanto, Jenderal Tito Karnavian, Prabowo Subianto, Edhy Prabowo, Syahrul Yasin Limpo, Juliari P Batubara, Suharso Monoarfa, Fachrul Razi, Ida Fauziah, Bahlil Lahadalia, Zainudin Amali, Abdul Halim Iskandar, Johny G Plate, Teten Masduki, dan Dr Terawan.

Jadi Sorotan

Paling mengejutkan dari nama-nama tersebut tentu saja Prabowo Subianto yang tak lain adalah rival Jokowi di Pilpres 2019. Prabowo mengaku diminta Jokowi untuk membantu pemerintah dalam urusan pertahanan.

Sikap Prabowo ini menuai kritik, terutama dari partai yang berkoalisi dengan Gerindra di Pilpres 2019. Pengurus Partai Amanat Nasional (PAN) misalnya, mengaku kaget atas sikap mantan Danjen Kopassus itu. Meskipun mereka pada akhirnya PAN menyerahkan semua keputusan pada Prabowo.

Prabowo saat tiba di Istana Negara untuk bertemu Jokowi. (Foto: Fakhrizal Fakhri/Okezone)

Kritik lainnya datang dari Persaudaraan Alumni (PA) 212. Novel Bamukmin menyayangkan sikap tersebut karena pihaknya jadi salah satu yang mengusulkan Prabowo sebagai capres.

"Yang jadi masalah adalah Prabowonya, karena ketika Pilpres kami 212 merekomendasikan Prabowo kepada masyarakat untuk dipilih sebagai presiden," ujar Novel Selasa (22/10/2019).

Sedangkan di antara wajah lama yang dipilih Jokowi, beberapa di antaranya mendapat sorotan karena dinilai masih belum berhasil menjalankan kerja dengan baik saat jadi menteri. Pertama adalah Siti Nurbaya yang menjabat Menteri LHK di Kabinet Kerja Jilid I. Siti dinilai belum berhasil mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bahkan memburuk di 2019.

Siti Nurbaya gak banget, secara karhutla gak selesai dari awal dia jabat,” tulis salah satu pengguna Twitter, @officialFilza24.

"Siti Nurbaya gagal mencehah dan menyelesaikan kasus Karhutla, kenapa dipanggil lagi," tulis @zulapr_

Siti Nurbaya.

Selanjutnya yang jadi sorotan masyarakat adalah Yasonna Laoly. Bukan hanya kinerjanya yang dikritik terkait dengan Revisi KUHP dan Revisi UU KPK yang memuncak lewat demo mahasiswa, tapi juga aksi ‘pamit-kembali’nya.

Jika resmi jadi menteri, Yasonna memang bolak-balik dari DPR dan menteri. Ketika tengah disorot soal Revisi KUHP dan Revisi UU KPK, Yasonna mengundurkan diri dari jabatan Menkumham dengan alasan akan dilantik sebagai anggota DPR. Namun belum lama dilantik, Yasonna kembali lagi dipanggil Jokowi sebagai calon menteri.

Yasonna Laoly.

Yasonna kayak si Ricis. Udah pamit, balik lagi,” sindir @Notaslimboy.

Sedangkan wajah baru yang jadi sorotan adalah Nadiem Makarim. Pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) menolak keputusan Pendiri Gojek itu untuk masuk dalam jajaran menteri Kabinet Kerja Jilid II. Bahkan, Garda akan menyampaikan aspirasinya tersebut dalam aksi demonstrasi.

Nadiem dinilai menjadi besar karena mitra-mitra ojolnya. Padahal, mitra ini belum sejahtera karena pendapatan, seperti bonus masih sering terpotong. Menurutnya, selama ini Gojek terus berkembang dan hasilnya lebih banyak dinikmati oleh korporasi.

Menteri Berprestasi Tak Dipanggil

Di antara wajah-wajah lama yang dipanggil Jokowi, tak ada Susi Pudjiastuti di antaranya. Keputusan ini kemudian menuai ‘murka’ masyarakat yang disampaikan di media sosial. Mereka mempertanyakan keputusan Jokowi yang tak kembali memilih Susi sebagai menteri, padahal prestasinya mentereng saat menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan.

Hingga Pukul 05.02 WIB, Rabu (23/10/2019), sudah ada 46,5 ribu cuitan di Twitter yang diberi tagar #WeWantSUSI yang kemudian bertengger jadi trending nomor satu di Indonesia.

Dari tagar tersebut, banyak yang menanyakan dimanakah Susi Pudjiastuti berada? Berikut cuitan para netizen.

"Hallo Mr.@jokowi, even your rival supporters agree, that she is still the best #WeWantSUSI," kutip @Ba*to**m*Z.

"#WeWantSUSI because we need HUMAN with ACHIEVEMENTS, not STUPID IMAGING!," kutip @a*f*t*h.

Bahkan masih ada yang berharap Susi Pudjiastuti hadir besok pagi saat pengumuman oleh Joko Widodo. "Would love to see Mr President bring back Ibu Susi to the cabinet tomorrow morning! #WeWantSUSI" kutip @kam*ik*.

Susi Pudjiastuti.

Sejak awal ditunjuk jadi menteri di Kabinet Kerja Jilid I, Susi memang sudah menarik perhatian masyarakat. Mulai dari gayanya yang nyentrik hingga latar belakangnya yang lulusan SMP. Namun soal prestasi, berbagai survei menempatkan Susi sebagai menteri dengan tingkat kepuasan tertinggi bagi masyarakat. Salah satu survei dilakukan Alvara Research Center, hasilnya 91,95% masyarakat puas dengan kinerja Susi.

Menteri Susi dikenal dengan kebijakan penenggalaman kapal bagi kapal yang dengan sengaja melakukan penangkapan ikan secara ilegal di perairan Indonesia. Menurutnya hal itu sangat efektif untuk menghilangkan illegal fishing dengan mengacu pada Pasal 76A UU Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Tercatat, jumlah kapal barang bukti tindak pidana perikanan yang sudah dimusnahkan sejak Oktober 2014 sampai dengan saat ini bertambah menjadi 556 kapal. Jumlah tersebut terdiri dari 321 kapal berbendera Vietnam, 91 kapal Filipina, 87 kapal Malaysia, 24 kapal Thailand, Papua Nugini 2 kapal, RRT 3 kapal, Nigeria 1 kapal, Belize 1 kapal, dan Indonesia 26 kapal.

Selain itu, ia berhasil membawa Indonesia kepada segudang pestasi yang mengagumkan. Berdasarkan hasil kajian Komisi Nasional Pengkajian Stok Ikan (Kajiskan), Maximum Sustainable Yield (MSY) per ikanan Indonesia menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, yaitu dari 7,3 juta ton pada 2015 menjadi 12,54 juta ton pada 2017 atau meningkat sebesar 71,78%.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini