Fakta Kecanduan Gadget Bisa Bikin Anak Alami Gangguan Kejiwaan

Wijayakusuma, Okezone · Sabtu 19 Oktober 2019 07:42 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 19 337 2118981 fakta-kecanduan-gadget-bisa-bikin-anak-alami-gangguan-kejiwaan-kABPei9OQt.jpg Ilustrasi (Dok. Okezone)

Hartono menjelaskan, kecanduan game online pada dasarnya membuat sang anak memiliki halusinasi, bahwa dirinya akan menjadi pemenang dalam kompetisi game tersebut. Halusinasi tersebut semakin meningkat seiring kehadiran iming-iming reward, poin dan lain sebagainya.

"Halusinasi tanpa disertai kenyataan sebenarnya, membuat anak ini makin berkhayal. Di situlah masuk pemikiran yang tidak-tidak. Lalu timbulah sikap malas, susah diatur, gampang marah, gadget sebagai hidupnya. Itulah yang harus kita lepaskan dari dia, karena jiwanya terpengaruh oleh game online," jelasnya.

Hartono mengungkapkan sejumlah metode yang dilakukannya untuk mengobati para pasien. Diantaranya pendekatan secara persuasif, terapi wicara, pengobatan tradisional dengan ramuan, serta terapi totok saraf dan pijit urat saraf belakang.

"Kita juga beri kegiatan agama. Kita ganti gadgetnya dengan membaca Yasin atau iqro. Juga ada kegiatan olahraga seminggu 3 kali, setiap Selasa, Rabu dan Minggu pagi, seperti futsal, skiping, voli. Akhirnya perlahan dengan kegiatan yang rutin kita lakukan, merubah si pasien gadget itu menjadi normal," akunya.

Ia pun mengimbau kepada para orangtua agar berlaku tegas terhadap anak saat bermain gadget. Jangan sampai hanya karena orangtua ingin santai, sang anak diperbolehkan main gadget sesuka hati.

"Kalau sudah terlalu lama, itu akan mempengaruhi psikis dan psikologi hingga akhirnya melupakan belajar, tanggungjawab dan sebagainya. Anak diberi batas bermain. Disinilah sisi orangtua harus tegas demi menjaga jangan sampai anak kita ini kecanduan bermain gadget," tegasnya.

"Jadikanlah gadget dan medsos itu sebagai dunia pendidikan dan pusat informasi, bukan dimanage untuk game online yang dibiarkan. Anggapan biar anak tenang dengan game online, sebetulnya itu memicu si anak tanpa dia mengingat kesadaran bahwa itu sangat berpengaruh," imbuh Hartono.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini