nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kapolri: JK Bukan Jenderal, tapi Lebih Tegas dari Polisi-TNI

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Jum'at 18 Oktober 2019 13:53 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 18 337 2118589 kapolri-jk-bukan-jenderal-tapi-lebih-tegas-dari-polisi-tni-LPA938QlXv.jpg Polri menggelar pengantar purnatugas untuk Wapres JK. (Foto : Okezone.com/Puteranegara Batubara)

JAKARTA – Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan sosok Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla (JK) memiliki ketegasan yang melebihi dari seorang jenderal, meskipun ia bukan sosok yang memiliki latar belakang dari kalangan TNI dan Polri.

"Kalau ada yang kurang, hanya satu. Bapak (JK-red) bukan jenderal Polri dan TNI. Tapi, keberanian dan ketegasan Bapak bersikap melebihi ketegasan jenderal," kata Tito dalam acara tradisi pengantar purnatugas Wakil Presiden di Auditorium Mutiara PTIK-STIK Polri, Jakarta Selatan, Jumat (18/10/2019).

Pernyataan Tito itu terkait kenangannya mengatasi beberapa aksi terorisme di Indonesia. Tito dari penanganan kepolisian dan JK sebagai pejabat negara kala itu.

"Saya pernah mengalami pengalaman personal yang mendalam dan tidak pernah lepas di hati saya, pertama di kasus bom di Makassar , Bom Ratu Indah dan Bom Kalla Makassar," ujar Tito.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kiri) saat konferensi pers di Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (26/9/2019). (Foto : Okezone.com/Fadel Prayoga)

Kala itu, Tito menceritakan, ia dipanggil Kapolda Sulawesi Selatan (Sulsel) terkait aksi terorisme di wilayah tersebut. Menurutnya, Kapolda Sulsel ketika itu mendapatkan perintah langsung dari JK.

"Lalu saya dipanggil Pak Kapolda, perintah Pak JK, tangkap semua. Saya berpikir ini kok dibom bukannya takut, malah suruh tangkap semua, habisi semua," kenang Tito.

Tak hanya itu, Tito menyebut juga memiliki kenangan sendiri ketika menangani konflik Poso, Sulawesi Tengah. Saat itu, aparat dan masyarakat terlibat kontak senjata dan memakan beberapa korban.

Menurut Tito, atas kejadian itu, aparat banyak disalahkan lantaran disebut melanggar hak asasi manusia (HAM). Namun, ketika itu JK menunjukkan sikap berbeda. Pasalnya, dia mendukung keputusan aparat dalam menangani konflik itu.

"Tapi ketika menghadap Bapak, pertanyaan Bapak hanya singkat saja. Apakah yang meninggal dunia itu membawa senjata? Ya kami bisa buktikan bawa senjata, kami menyita 300 senjata dan 40 ribu butir peluru. Jawaban Bapak sangat singkat, kalian benar, di negara ini tidak ada yang boleh pegang senjata selain TNI dan Polri. Saya akan back up. Itu rasanya membesarkan hati," ujar Tito.

Upacara purnatugas oleh Polri untuk JK. (Foto : Okezone.com/Puteranegara Batubara)

Bahkan, setelah konflik Poso selesai, JK ikut berperan dengan mengumpulkan para tokoh masyarakat dan agama untuk menghindari adanya konflik susulan dan berkepanjangan.

Strategi JK itu pun menjadikan situasi di Poso menjadi aman dan kondusif.


Baca Juga : Polri Beri Penghargaan Tertinggi ke Wapres JK yang Segera Purnatugas

"Bapak mendirikan pesantren setara Gontor di Poso pesisir dan sekolah teologi," tutur Tito mengakhiri kenangannya bersama JK.


Baca Juga : Kapolri Tito : Saya Fans Berat Jusuf Kalla

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini