nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dugaan Suap di Lapas Sukamiskin, Kemenkum HAM Lakukan Audit Internal

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Jum'at 18 Oktober 2019 12:54 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 18 337 2118567 dugaan-suap-di-lapas-sukamiskin-kemenkum-ham-lakukan-audit-internal-nxdkyZEDZP.JPG Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen (Foto: Okezone.com/Arie Dwi Satrio)

JAKARTA - Pasca ditetapkannya lima orang tersangka baru oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus suap di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, Inspektorat Kementerian Hukum dan HAM akan segera melakukan audit internal.

Langkah itu diambil karena dari lima orang yang ada, salah satunya masih aktif menjabat sebagai Kepala Divisi Pemasyarakatan Kepulauan Riau (Kepri).

Inspektur Jenderal Kemenkum HAM RI, Jhoni Ginting menyebutkan pihaknya akan bergerak cepat untuk menangani masalah yang saat ini terjadi. Namun untuk langkah awal, pihaknya akan melakukan pengecekan dulu.

“Senin besok (21 Oktober 2019) saya akan cek kebenaran ini terlebih dahulu," ungkap Ginting, Jumat (18/10/2019).

Baca juga: Mantan Kalapas Sukamiskin Kembali Jadi Tersangka Suap, Ini Kata Pengacara

Mengenai apakah akan segera menonaktifkan Deddy Handoko lantaran namanya disebut sebagai tersangka baru oleh KPK, Ginting mengaku akan mengambil tindakan secepatnya. Mengingat, yang bersangkutan sendiri saat ini masih menjabat sebagai Kepala Divisi Pemasyarakatan Kepulauan Riau.

"Kalau benar sudah menjadi tersangka, sesuai aturan diberhentikan sementara," tegasnya.

Bahkan, lanjut Ginting, bila memang memungkinkan, nantinya audit internal juga akan dilakukan. Hal ini mengetahui siapa saja yang terlibat dalam aksi suap yang dibongkar KPK selama ini.

Kalapas SukamiskinKalapas Sukamiskin, Wahid Husen (Foto: Okezone)

Baca juga: Wahid Husein dan Wawan Jadi Tersangka Gratifikasi Fasilitas Lapas Sukamiskin

"Senin saya cek SPDP-nya apa sudah diterima kesekjenan atau belum. Karena untuk urusan mutasi ada di sana," beber dia.

Audit internal yang dilakukan Inspektorat Kemenkum HAM juga untuk membokar suap tas mewah yang sebelumnya diberikan Wahid kepada Dirjen Pemasyarakatan, Sri Puguh Utami. Terlebih KPK juga masih mengusut mengenai pemberian tas mewah merek Louis Vuitton dari aksi pemberian sejumlah fasilitas di Lapas Sukamiskin, Bandung.

Saat itu, dalam persidangan kasus mantan Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen disebut telah memberikan tas mewah kepada Sri Puguh sebagai kado ulang tahun. Tas bernilai ratusan juga itu berasal dari terpidana Fahmi Darmawansyah yang dititipkan lewat Wahid untuk diberikan pada Juli 2018 lalu dan diserahkan melalui ajudan Sri, Hendry Saputra.

Sebelumnya diberitakan, KPK menetapkan lima tersangka baru kasus dugaan suap terkait pemberian fasilitas di Lapas Sukamiskin, Bandung. Penetapan merupakan hasil pengembangan dari operasi tangkap tangan terhadap eks Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen pada 2018.

"Dalam penyidikan tersebut sekaligus ditetapkan 5 orang tersangka," kata Wakil Ketua KPK, Basaria Pandjaitan, Rabu 16 Oktober 2019.

Kelima tersangka itu ialah, mantan Kalapas Sukamiskin Wahid Husen (WH), mantan Kalapas Sukamiskin Deddy Handoko (DHA), dan tiga tersangka pemberi, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan (TCW), mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin (FA) (status tersangka gugur karena Fuad wafat dalam proses penyidikan), dan Direktur Utama PT Glori Karsa Abadi, Rahadian Azhar (RAZ).

Suap yang diberikan kepada mantan kalapas itu untuk keperluan izin berobat ke luar lapas, negosiasi dengan pihak lapas, hingga komunikasi dengan pihak swasta di luar lapas. Di mana Deddy dan Wahid menerima suap berupa mobil dan uang. Keduanya dijerat dengan Pasal 12 a atau b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-undang Tindak Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini