nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

RSJ Jabar Tangani Ratusan Anak Kecanduan Gadget

Kamis 17 Oktober 2019 17:08 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 17 337 2118262 rsj-jabar-tangani-ratusan-anak-kecanduan-gadget-ZD5MBobHuC.jpg Foto Ilustrasi shutterstock

BOGOR - Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Jawa Barat (Jabar) merawat ratusan anak yang mengalami gangguan jiwa, akibat kecanduan gadget atau gawai, sejak Rabu 16 Oktober 2019.

Dokter spesialis jiwa anak RSJ Jabar, Lina Budiyanti mengatakan, pihaknya sudah merawat ratusan pasien anak. Setiap bulannya, sebanyak 10 hingga 12 pasien anak harus menjalani rawat jalan maupun inap.

Hasil pemeriksaan tim medis menyatakan masalah kejiwaan yang dialami anak-anak ini disebakan penggunaan gawai yang berlebihan. Rata-rata pasien kecanduan mulai dari game online, browsing internet dan sejumlah aplikasi lainnya.

"Gejala awalnya biasanya pasien lebih banyak menghabiskan waktu atau fokus untuk bermain gawai. Pasien yang sudah kecanduan akan merasa depresi jika tidak menggunakan gadget," kata Lina, seperti dinukil dari iNews.id, Kamis (17/10/2019).

Baca juga: Inspiratif! Kisah Soebagijono Bebaskan Puluhan Penderita Gangguan Jiwa dari Pemasungan

Lina menyarankan, untuk menghindari ketergantungan gawai, sebaiknya menggunakan waktu luang untuk bersosialisasi dengan lingkungan. Selain itu juga dapat dengan cara mempererat hubungan antar keluarga dan teman.

Menurutnya, jika seseorang memiliki hubungan yang dekat dengan lingkungan seperti keluarga atau teman, maka pengawasan akan melekat. Artinya jika terlihat ada kelainan, akan lebih cepat terdeteksi. Pasien yang dibawa ke RSJ, kata Lina, biasanya sudah dalam kondisi parah karena sudah ada gangguan penyerta.

“Ini sangat disayangkan, padahal bisa dicegah. Jika belum ada gangguan penyerta itu lebih baik lagi,” katanya.

 Baca juga: Astaga! 6.000 Warga Kalimantan Selatan Alami Sakit Jiwa Berat

Lingkungan dari seseorang menurut Lina bisa dengan cepat mendeteksi kelainan pada seseorang. Misalnya seseorang biasanya bermain tapi sekarang lebih suka di kamar. Atau biasanya beraktifitas dengan keluarga tapi sekarang menyendiri.

“Jika itu diketahui lebih cepat, maka pasien bisa terhindar dari gangguan penyerta,” katanya.

Lina memgatakan tim medis berupaya mengobati masalah ketergantugan gawai dengan upaya rehabilitasi. Fenomena ketergantungan gawai ini berpotensi meningkat jika tidak segera ditangani.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini