Usut Korupsi 14 Proyek Fiktif, KPK Panggil Staf Keuangan Waskita Karya

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 17 Oktober 2019 12:38 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 17 337 2118114 usut-korupsi-14-proyek-fiktif-kpk-panggil-bagian-keuangan-waskita-karya-BsEWffVG3O.JPG Juru Bicara KPK, Febri Diansyah (Foto: Okezone.com/Arie Dwi Satrio)

JAKARTA - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemeriksaan terhadap staf keuangan Divisi II PT Waskita Karya, Wagimin. Sedianya, Wagimin akan diperiksa sebagai saksi untuk mengusut kasus dugaan korupsi terkait pekerjaan fiktif dalam 14 proyek yang digarap PT Waskita Karya.

"Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka FR (Kadiv II PT Waskita Karya, Fathor Rachman)," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (17/10/2019).

Wagimin sudah bolak-balik dipanggil penyidik KPK untuk dimintai keterangannya dalam kasus ini. Diduga, Wagimin banyak mengetahui ihwal konstruksi serta aliran uang korupsi dalam kasus ini.

Tak hanya Wagimin, penyidik juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap tiga pegawai PT Waskita Karya, yakni Benny Panjaitan, Marsudi, dan Mintadi. Ketiganya juga diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan Fathor Rachman.

Belakangan, KPK memang sedang fokus mengusut kasus ini. Pengusutan tersebut ditandai dengan intensnya pemeriksaan sejumlah saksi. Sejumlah saksi dari PT Waskita Karya diperiksa KPK untuk ditelusuri soal konstruksi kasus ini.

Sebelumnya, KPK sendiri telah mencegah lima orang untuk bepergian ke luar negeri terkait kasus ini. Kelima orang tersebut yakni, Dirut PT Waskita Beton, Jarot Subana; Kadiv II PT Waskita Karya, Fathor Rachman; General Manager (GM) Keuangan dan Resiko Divisi II PT Waskita Karya, Yuli Ariandi Siregar.

Kemudian‎, Wakil Kadiv II PT Waskita Karya, Fakih Usman; serta Direktur Sungai dan Pantai Kementerian PU, Pitoyo Subandrio. Kelimanya dicegah keluar negeri sejak 3 Mei 2019 terhitung hingga enam bulan ke depan.

Namun demikian, KPK baru menetapkan mantan Kepala Divisi (Kadiv) II PT Waskita Karya, Fathor Rachman (FR) serta mantan Kepala Bagian (Kabag) Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya, Yuly Ariandi Siregar (YAS) sebagai tersangka.

Kedua pejabat Waskita Karya tersebut diduga telah memperkaya diri sendiri, orang lain, ataupun korporasi, terkait proyek fiktif pada BUMN. Sedikitnya, ada 14 proyek infrastruktur yang diduga dikorupsi oleh pejabat Waskita Karya.

Proyek tersebut tersebar di Sumatera Utara, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Timur, dan Papua. Fathor dan Ariandi diduga telah menunjuk empat perusahaan sub kontraktor untuk mengerjakan pekerjaan fiktif pada sejumlah proyek konstruksi yang dikerjakan Waskita Karya.

Empat perusahaan sub kontraktor yang telah ditunjuk Ariandi dan Fathor tidak mengerjakan pekerjaan sebagaimana yang tertuang dalam kontrak. Namun, PT Waskita Karya tetap melakukan pembayaran terhadap empat perusahaan sub kontraktor tersebut.

Selanjutnya, perusahaan-perusahan sub-kontraktor tersebut menyerahkan kembali uang pembayaran dari PT Waskita Karya kepada sejumlah pihak termasuk yang kemudian diduga digunakan untuk kepentingan pribadi Fathor dan Ariandi.

Diduga, telah terjadi kerugian keuangan negara sekira Rp186 miliar. Perhitungan kerugian keuangan menurut Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tersebut merupakan jumlah pembayaran dari PT Waskita Karya epada perusahaan-perusahaan sub kontraktor pekerjaan fiktif.

Atas perbuatanya, dua pejabat PT Waskita Karya itu disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1, juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini