nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Orang Kepercayaan Bowo Sidik Pangarso Dituntut 4 Tahun Penjara

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Rabu 16 Oktober 2019 15:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 16 337 2117711 orang-kepercayaan-bowo-sidik-pangarso-dituntut-4-tahun-penjara-OFNDHwCyDA.JPG Bowo Sidik Pangarso (Foto: Arie Dwi Satrio/Okezone)

JAKARTA - Orang kepercayaan mantan anggota DPR, Bowo Sidik Pangarso, Indung Andriani dituntut empat tahun penjara oleh jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Indung yang diduga sebagai perantara suap juga dituntut untuk membayar denda Rp200 juta subsidair satu bulan kurungan.

Jaksa penuntut umum pada KPK berkeyakinan bahwa Indung bersama-sama dengan Bowo Sidik Pangarso telah menerima suap dari Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Taufik Agustono dan Marketing Manager PT HTK, Asty Winasti.

"Menuntut agar majelis hakim Pengadilan Tipikor menjatuhkan pidana penjara selama 4 tahun, pidana denda Rp200 juta, atau subsidair 1 bulan kurungan," kata Jaksa Dian Hamisesa di Pengadilan Negeri Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (16/10/2019).

Menurut jaksa, Indung menerima uang sebesar USD128.733 dan Rp 311 juta dari Taufik Agustono dan Asty Winasti. Uang itu diterima Inung secara bertahap yang nantinya diperuntukkan untuk Bowo Pangarso.

Jaksa menilai, uang yang diberikan kepada Bowo melalui Indung bertujuan agar PT HTK dibantu mendapatkan kerja sama pekerjaan pengangkutan atau sewa kapal dengan PT PILOG.

"Menerima pemberian uang sebesar USD128.733 dan Rp311.022.932," ujarnya.

Ilustrasi Korupsi

Lebih lanjut, jaksa menjelaskan bahwa indung mengenal Bowo sejak 2003. Indung sempat menjadi staf keuangan di PT Inersia Ampak Engineer yang merupakan perusahaan milik Bowo.

Lalu, setelah Bowo menjadi anggota DPR, Indung diangkat jadi Direktur Keuangan. Sedangkan Bowo menjadi komisaris utama di perusahaan tersebut. Pada Oktober 2017, Indung dan Bowo bertemu dengan Asty bersama pemilik PT Tiga Macan bernama Steven Wang dan Rahmad Pribadi.

Dalam pertemuan itu, Asty menyampaikan PT HTK yang mengelola kapal MT Griya Borneo memiliki kontrak kerja sama dengan perusahaan sayap PT Petrokimia Gresik, bernama PT Kopindo Cipta Sejahtera (PT PCS).

Kerja sama itu terkait pengangkutan amoniak dengan kontrak selama 5 tahun, sejak 2013 sampai 2018. Namun pada tahun 2018, kontrak PT HTK diputus, setelah BUMN membentuk holding company di bidang pupuk yakni PT Pupuk Indonesia Holding Company (PT PIHC).

Pengangkutan amoniak dialihkan kepada anak perusahaan PT PIHC bernama PT PILOG. Menurut jaksa, Asty menyampaikan kepada Bowo bahwa PT HTK masih menginginkan kontrak itu berjalan.

Kemudian, Asty meminta bantuan kepada Bowo dan disepakati. Jaksa menyebut Bowo telah membantu PT HTK untuk mendapatkan ontrak tersebut. PT HTK pun memberikan fee kepada Bowo atas usahanya.

Atas perbuatannya, Indung dianggap melanggar Pasal 12 huruf b Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini