nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polri: Kritis Tanpa Didasari Norma Bahaya

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Selasa 15 Oktober 2019 21:22 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 15 337 2117386 polri-kritis-tanpa-didasari-norma-bahaya-wXfMTdi0Zh.jpg Brigjen Fadil Imran, Wakil Kepala Satgas Nusantara Polri (Foto: Ist)

JAKARTA - Wakil Kepala Satgas Nusantara Polri Brigjen Fadil Imran menyampaikan pesan kepada generasi milenial agar menjaga dan menjunjung etika dalam menyampaikan aspirasi. Sebab, tanpa berpegang pada norma itu bisa berbahaya. 

"Karena ada persoalan dalam konteks generasi milenial. Persoalan kritis dan terbuka tanpa didasari norma-norma, itu bahaya," katanya dalam diskusi "Pemuda untuk Pembangunan Bangsa: Tantangan Sumber Daya Dan Kepemimpinan Pemuda" yang digelar Gerakan BEM Jakarta di Gedung Joeang, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/10/2019).

Menurut Fadil, beragam tantangan yang dihadapi dalam pembangunan bangsa dan kepimpinan pemuda. Namun, dengan kekayaan sumber daya alam dan jumlah penduduk yang ada, ia meyakini Indonesia bisa menjadi negara terbesar keempat di dunia.

Ilustrasi

Selain pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan keamanan nasional turut menjadi tolok ukur masa depan sebuah bangsa. Utamanya untuk mencapai Indonesia emas pada 2045.

"Dalam teori, pertumbuhan keamanan menjadi tolok ukur, karena ada kejahatan narkoba, terorisme, kejahatan perbankan. Ini menurut saya juga menjadi tantangan kepemimpinan," tuturnya.

Generasi milenial merupakan generasi penerus dan aset bangsa untuk menciptakan peradaban bangsa yang maju. Untuk itu, kata Fadil, semua elemen bangsa harus berkolaborasi untuk mencapai Indonesia emas.

"Ruang menuju era emas tahun 2045 itu sangat terbuka. Orang akan takut sama Indonesia karena demokrasinya maju dan peradabannya maju. Mari kita berkolaborasi sesama elemen bangsa," katanya.

Baca Juga: Lewat Aplikasi, Kini Warga Kulon Progo Bisa Lapor Polisi Jika Keadaan Darurat 

Sementara itu, aktivis Demokrasi Maruarar Sirait mengajak generasi muda untuk memilih sosok pemimpin miritokrasi, dengan ciri berintegritas, bijak dan idealis. Jangan terjebak pada calon pemimpin feodal.

"Calon bukan dari keluarga darah biru agar masa depan menjadi harapan bersama. itu harus ditanamkan di Indonesia. Tidak mudah menjaga idealisme di tengah kebutuhan ekonomi keluarga. Bagaimana menjaga idealisme tapi kebutuhan ekonomi juga harus dijaga," katanya.

Anggota DPR Doli Kurnia yang hadir dalam diskusi menyoroti, persoalan era distrupsi. Menurutnya, era distrupsi harus dicermati seksama karena bisa berdampak negatif terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Harus kita cermati era distrupsi itu karena bukan hanya hal-hal teknis, tapi juga bisa mengganti hal-hal mendasar seperti kebudayaan dan ideologi. Ideologi Pancasila berganti pada ideologi liberal," tuturnya.

Dampak lainnya bisa menyasar pada persoalan agama dan kepercayaan. Contohnya, marak sel-sel dan kelompok-kelompok terorisme dengan sentimen terhadap agama tertentu.

"Islam pun mengalami penyimpangan-penyimpangan. Padahal, Islam itu sebagai rahmatan lil alamin. Tap kenyataannya sekarang ada terorisme, LGBT, seks bebas. Ini sudah mengarah pada yang ekstrem. Sangat membahayakan kehidupan bangsa kita. Pergerakan ke arah ekstrem itu dampaknya kepada anak-anak muda," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini