nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sinyal Barter Politik Terpilihnya Bamsoet Jadi Ketua MPR Dinilai Makin Kuat

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Selasa 15 Oktober 2019 22:54 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 15 337 2117372 sinyal-barter-politik-terpilihnya-bamsoet-jadi-ketua-mpr-dinilai-makin-kuat-FKQa8sU6h5.jpg Bambang Soesatyo dan Airlangga (Foto: Okezone)

JAKARTA - Dugaan adanya 'barter politik' antara Bambang Soesatyo (Bamsoet) dan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dalam Munas Golkar pada Desember mendatang dinilai makin kuat setelah Bamsoet sebagai Ketua MPR RI dari fraksi Golkar.

Tokoh Senior Golkar yang juga Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad dalam diskusi publik menilai dugaan 'barter politik' tersebut makin terasa.

"Saya mengamati demikian adanya (ada deal antara Bamsoet dan Airlangga), saya tidak ikut di dalam setelah saya di DPD," kata Fadel, di Jakarta, Senin (14/10/2019).

Fadel menilai Bamsoet tidak akan maju dalam munas Partai Golkar setelah menduduki kursi ketua MPR RI.

"Saya mengamati dari luar kalau Pak Bamsoet diberi kesempatan oleh Golkar menjadi Ketua MPR, yang semula dulu Pak Azis Syamsuddin yang sekarang menjadi Wakil Ketua DPR, maka Bamsoet tidak akan maju pada bulan Desember nanti dalam munas Partai Golkar," kata Fadel.

Fadel

Baca Juga: Golkar Sebut Kursi MPR untuk Bamsoet Bukan Sekedar Bagi-Bagi Kekuasaan

Hal senada juga diungkapkan Pakar Politik dari LIPI, Siti Zuhro. Menurutnya, penugasan Bamsoet sebagai Ketua MPR itu berkaitan dengan pencalonannya sebagai Ketua Umum Golkar.

"Iya tadi sudah saya sampaikan (saat diskusi). Tidak mungkin kita tidak mengaitkan politik di eksternal dukungan Golkar kepada MPR gitu ya. Calonnya dengan internalnya calonnya yang juga sedang akan melakukan sukesi diinternalnya (Munas)," kata Zuhro.

Zuhro mengatakan, istilah 'barter politik' dalam sebuah kontestasi partai politik adalah lumrah dan wajar.

Peneliti Senior LIPI ini juga menambahkan bahwa Airlangga dan BS menyadari betapa pentingnya Golkar untuk tetap solid, sehingga demi kepentingan partai ke depan, apa-apa yang bisa dikompromikan itu dilakukan. Dan menurut saya itu bagus buat konsolidasi Golkar menghadapi agenda-agenda ke depan.

"Itulah politik, itulah politik praktis. Jadi siapa mendapat apa siapa akan berkuasa sebagai apa," imbuhnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini