nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BMKG Sebut Kabut Asap di Palembang Hari Ini 'Terekstrem' Sepanjang Kemarau 2019

Melly Puspita, Jurnalis · Senin 14 Oktober 2019 11:42 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 14 337 2116564 bmkg-sebut-kabut-asap-di-palembang-hari-ini-terekstrem-sepanjang-kemarau-2019-t3jorvn1QN.jpg Kabut Asap di Palembang, Senin (14/10/2019). (foto: Istimewa)

PALEMBANG - Kabut asap kian pekat di kota Palembang dan sekitarnya, beberapa bulan belakangan ini tak kunjung hilang. Bahkan, pada Senin 14 Oktober 2019 BMKG mengatakan kondisi asap di Palembang 'Terekstrem' sepanjang kemarau 2019.

Kegiatan belajar di sekolah juga mendadak diliburkan oleh pemerintah lantaran kabut asap ini. Ekstremnya kabut asap ini puncaknya sudah dirasakan oleh warga pada Minggu 13 Oktober sore kemarin.

Baca Juga: Gara-Gara Kabut Asap, Sejumlah Nelayan di Aceh Nyasar 

Kondisi ini menjadikan kondisi terekstrem selama berlangsungnya Karhutla dengan indikasi kwantitas dan jarak pandang yang terjadi. Intensitas Asap (Smoke) umumnya meningkat pada pagi hari (04.00-08.00 WIB) dan sore hari (16.00-20.00) dikarenakan labilitas udara yang stabil, tidak ada massa udara naik pada waktu-waktu tersebut.

Kabut Asap Akibat Karhutla (foto: Ist) 

"Angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari arah Timur–Tenggara dengan kecepatan 5-20 Knot (9-37 Km/Jam) mengakibatkan potensi masuknya asap akibat Karhutbunla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya," kata Kasi Observasi dan Informasi BMKG stasiun SMB II Palembang, Bambang Beni melalui keterangan resmi yang diterima Okezone, Senin (14/10/2019).

Dia menjelaskan, informasi dari LAPAN sendiri tercatat ada beberapa titik panas di wilayah sebelah Tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni pada wilayah Banyuasin 1, Pampangan, Tulung Selapan, Pedamaran, Pemulutan, Cengal, Pematang Panggang dan Mesuji.

"Total titik panas dengan tingkat kepercayaan di atas 80% untuk wilayah Sumsel sebanyak 260 titik, titik panas terbanyak pada wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir 139 titik panas dan Kabupaten Banyuasin 67 titik panas," sambung dia.

Fenomena asap sendiri diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, mengurangi jarak pandang, beraroma khas, perih di mata, mengganggu pernafasan dan matahari terlihat berwarna orange, merah pada pagi atau sore hari.

"Hal ini berpotensi memburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi (partikel basah/uap air) sehingga membentuk fenomena Kabut Asap (Smog) yang umumnya terjadi pada pagi hari," ungkap BMKG Sumsel.

Jarak Pandang Terendah pada pagi hari tanggal 14 Oktober 2019 berkisar hanya 50-150 m dari jam 06.30-08.30 WIB dengan Kelembapan pada saat itu 95-96 persen dengan keadaan cuaca Asap yang berdampak 7 penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badarudin II Palembang mengalami delay.

Secara Regional, melemahnya Badai Tropis Hagibis di Laut Cina Selatan dan masih adanya pusat tekanan rendah di wilayah tersebut mengakibatkan adanya aliran massa udara ke arah pusat tekanan rendah tersebut dari wilayah Indonesia.

Hal ini mengakibatkan tetap menurunnya potensi dan intensitas hujan di wilayah Sumsel 3 (tiga) hari ke depan (14-16 Oktober 2019). Kondisi angin timuran yang menuju pusat tekanan rendah di Samudera Hindia akan membawa uap air dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa menyebabkan potensi hujan di wilayah Sumsel bagian Barat-Utara.

Sedangkan secara Lokal, kondisi hujan akibat faktor lokal atau awan konvektif akan tetap berpotensi di wilayah bagian barat Sumsel dikarenakan kelembapan udara lapisan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan, biasanya hujan yang terjadi berlangsung sebentar, sporadis (berbeda tiap tempat) dan berpotensi petir disertai angin kencang.

"BMKG Sumsel menghimbau kepada masyarakat untuk senantiasa menggunakan masker dan berhati-hati saat bertransportasi pada pagi hari pukul 04.00-08.00 WIB dan sore hari pukul 16.00-20.00 seiring potensi peningkatan partikel udara kering di udara (asap) dan menurunnya jarak pandang," urai Beni.

Baca Juga: Pakar Kesehatan: Kualitas Udara 'Sangat Berbahaya' Akibat Asap Karhutla 

Selain itu, masyarakat disarankan untuk mengkonsumsi banyak air saat beraktifitas di luar rumah untuk menjaga kesehatan dikarenakan udara akan terasa lebih terik pada siang hari karena posisi matahari berada di ekuator (khatulistiwa).

"Tetap menghimbau untuk tidak melakukan pembakaran baik itu sampah rumah tangga maupun dalam pembukaan lahan pertanian/perkebunan, menganjurkan Sholat Istisqo seiring potensi hujan tanggal 17-18 Oktober 2019," tutur Beni.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini