nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jelang Pelantikan Presiden, Intelijen Diminta Inventarisir Potensi Ancaman Tanpa Kegaduhan

Fahreza Rizky, Jurnalis · Kamis 10 Oktober 2019 06:32 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 10 337 2115014 jelang-pelantikan-presiden-intelijen-diminta-inventarisir-potensi-ancaman-tanpa-kegaduhan-nrH39NqZWB.JPG Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Gatot Eddy Pramono (Foto: Okezone)

JAKARTA - Direktur Eksekutif Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menilai intelijen harus menginventarisir segala kemungkinan hingga yang terburuk terkait pengamanan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih pada 20 Oktober 2019 mendatang.

Tetapi, Fahmi memberi catatan proses inventarisir permasalahan ini jangan sampai memperluas kekhawatiran masyarakat. Intelijen diminta bekerja sesuai standar dasar menyangkut penyelidikan, pengamanan dan penggalangan. Hal itu dilakukan dalam rangka memelihara kewaspadaan.

"Bagaimanapun intelijen memang harus menginventarisir segala kemungkinan hingga yang terburuk. Jadi saya kira tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan," katanya saat dihubungi Okezone, Kamis (10/9/2019).

Polisi sebelumnya menangkap AB, dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) karena diduga terlibat dalam penyiapan bom molotov yang dilakukan oleh beberapa orang. Polisi menyebut para pelaku ingin meledakkan bom molotov tersebut di beberapa titik di Jakarta dengan tujuan menggagalkan pelantikan presiden-wapres terpilih.

Fahmi menilai narasi yang dibangun kepolisian semestinya hanya untuk internal. Sebab ketika itu disampaikan ke publik tanpa penjelasan memadai, maka itu kesannya jadi menakut-nakuti masyarakat dan menginspirasi gerakan lainnya untuk melakukan gangguan.

"Saya kira itu dicukupkan saja sebagai upaya memelihara kewaspadaan intelijen tanpa harus membuat publik ikut gaduh dan curiga satu sama lain," jelasnya.

KSAD

KSAD Jenderal Andika Perkasa (Foto: Puspen TNI)

Diwartakan sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono meminta intelijen melakukan deteksi dini kerawanan menjelang pelantikan presiden-wapres terpilih pada 20 Oktober 2019 mendatang.

Sementara itu, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa menyebut bahwa sepertiga atau 30% wilayah Indonesia berpotensi akan terjadi aksi demonstrasi menjelang pelaksanaan pelantikan Presiden Jokowi pada 20 Oktober 2019.

Andika telah memanggil seluruh Pangdam yang ada di Tanah Air. Dalam pertemuan itu, Andika dan jajarannya memetakan potensi terjadinya aksi demonstrasi tersebut. Namun, ia tak merinci lokasi mana saja yang berpotensi terjadinya aksi demonstrasi tersebut.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini