nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sepertiga Wilayah di Indonesia Berpotensi Terjadi Demonstrasi saat Pelantikan Jokowi

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Rabu 09 Oktober 2019 21:18 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 09 337 2114946 sepertiga-wilayah-di-indonesia-berpotensi-terjadi-demonstrasi-saat-pelantikan-jokowi-pFcyJz1AA6.jpg Ilustrasi demonstrasi di depan Gedung DPR (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa menyebut bahwa sepertiga atau 30% wilayah Indonesia berpotensi akan terjadi aksi demonstrasi menjelang pelaksanaan pelantikan Presiden Jokwoi pada 20 Oktober 2019.

Andika telah memanggil seluruh Pangdam yang ada di Tanah Air. Dalam pertemuan itu, Andika dan jajarannya memetakan potensi terjadinya aksi demonstrasi tersebut. Namun, ia tak merinci lokasi mana saja yang berpotensi terjadinya aksi demonstrasi tersebut.

"Maksudnya 30 persen itu estimasi (terjadinya demonstrasi)," kata Andika di Mabes AD, Jakarta Pusat, Rabu (9/10/2019).

Ilustrasi

Mantan Pangkostrad itu menegaskan, TNI AD siap mengamankan rencana demonstrasi di 30 persen wilayah Indonesia. Andika pun telah menyiapkan strategi menangani demonstrasi.

Satu di antaranya, TNI menyiapkan prajurit yang wilayahnya tidak terjadi demonstrasi, disiagakan ke daerah yang bakal terjadi unjuk rasa.

"Jadi setelah diinventarisasi tadi, kami semakin tahu. Sebenarnya yang difokuskan untuk daerah ini saja. Kami sudah bersama staf umum merencanakan, siapkan di titik yang tidak rawan, untuk menyiapkan pasukan-pasukan. Jadi apabila dibutuhkan, bisa kami gerakkan ke titik yang menjadi pusat tadi," lanjut dia.

Baca Juga : TNI AD Kerahkan Seluruh Kekuatannya Amankan Pelantikan Presiden

Andika menambahkan bahwa prajurit TNI di tingkat bawah juga akan dibekali cara menangani demonstrasi yang baik guna memastikan kondusifitas menjelang pelaksanaan pelantikan Kepala Negara.

"Termasuk bagaimana bertindak, apabila kami mendapatkan pesanan atau informasi yang kira-kira kalau di jajaran bawah tidak tahu, mungkin bisa dianggap benar. Kalau itu dianggap benar itu bisa menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan," tandasnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini