nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

40 Orang Jadi Korban Perdagangan Manusia ke Taiwan, Modusnya Kuliah Sambil Kerja

Muhamad Rizky, Jurnalis · Rabu 09 Oktober 2019 13:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 09 337 2114706 40-orang-jadi-korban-perdagangan-manusia-ke-taiwan-modusnya-kuliah-sambil-kerja-uw89drnGLf.jpg (Foto: M Rizky/Okezone)

JAKARTA - Mabes Polri berhasil mengungkap kasus perdagangan orang atau human traficking dengan modus beasiswa sekolah di Taiwan sambil bekerja. Total ada 40 orang WNI jadi korban dalam kasus ini.

Wakil Direktur Tipidum Bareskrim Mabes Polri, Kombes Pol Agus Kuncoro mengatakan, 40 orang yang menjadi korban tersebut rata-rata berasal dari wilayah Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Para korban direkrut oleh agen Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal berinisial L dan R. Mereka kemudian meminta uang sebesar Rp35 juta untuk biaya administrasi sebelum berangkat ke Taiwan.

"Para tersangka ini menawarkan kepada calon korban untuk kuliah dengan diberi beasiswa sambil bekerja. Dengan hanya bermodalkan uang administrasi sebesar Rp35 juta," kata Agus di Bareskrim Polri, Rabu (9/10/2019).

Mereka yang tidak memiliki biaya untuk membayar uang administrasi akan diberi penalangan oleh para tersangka, dengan catatan sesudah para korban berkuliah sambil bekerja di Taiwan, penghasilannya sebagian akan digunakan untuk melunasi jumlah uang administrasi yang dibayarkan sebelumnya.

Ilustrasi.

Setelah setuju dan membayar uang administrasi, korban ditampung di Jakarta. Dalam penampungan itu pelaku berusaha meyakinkan korbannya dengan menghadirkan perwakilan dari Taiwan yang seakan akan mewawancarai para korban.

"Setelah semua lengkap mereka diberangkatkan ke Taiwan. Sesampainya di Taiwan mereka dipekerjakan dari Senin sampai Sabtu. Di hari Minggu, para korban akan dipertemukan perwakilan yang sebetulnya bagian dari jaringan ini untuk seolah seperti kuliah padahal hanya belajar bahasa Taiwan untuk memudahkan pekerjaannya itu sendiri," paparnya.

Namun belakangan setelah para korban bekerja selama lebih dari setahun ternyata tidak sesuai dengan harapan. Mereka hanya kuliah satu minggu satu kali dan di janjikan uang gaji Rp 27 juta.

"Tapi hanya menerima sekira Rp2 juta dan ada pula yang lebih parah karena tidak mendapatkan uang tersebut sama sekali sehingga melaporkan ke pihak yang berwajib termasuk kepada kita," tukasnya.

Adapun dalam kasus ini, kedua tersangka dijerat Pasal 4 UU 21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan/atau Pasal 83, Pasal 86 A Nomor 18/2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini