nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Romantisme NU dan PDIP hingga Munculnya Istilah 'Halal Bihalal'

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Rabu 09 Oktober 2019 00:07 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 09 337 2114521 romantisme-nu-dan-pdip-hingga-munculnya-istilah-halal-bihalal-DA6rN8PD8X.JPG Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj dan Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto (Foto: Okezone.com/Achmad Fardiansyah)

JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Agil Siradj menilai ada kecocokan antara PBNU dengan pemikiran Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berhaluan nasionalis. Menurutnya, antara PBNU dan PDIP punya hubungan yang harmonis.

"Antara NU dengan PDIP yang nasionalis sangat-sangat bersahabat. Jika seandainya tidak bergandengan santri dan nasionalis, belum tentu merdeka Indonesia," kata Kiai Said saat ditemui di Pondok Pesantren Al Tsaqofah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (8/10/2019) malam.

Pada masa persiapan kemerdekaan bahkan setelah kemerdekaan lanjut Kiai Said, Bung Karno selalu banyak meminta masukan dari para kiai NU. Salah satunya adalah KH Wahab Chasbullah yang ditemui Bung Karno pada 1948. Saat itu, kondisi negara sedang berada di ambang perpecahan. Dari keduanya, lahirlah istilah 'halal bihalal' yang hingga saat ini masih dipakai masyarakat Indonesia.

Kiai Said dan Hasto

"Saat itu terminologi 'halal bihalal' muncul dari Kiai Wahab untuk menjawab permintaan Bung Karno untuk adanya silaturahmi antartokoh," ucapnya di depan para santri.

Oleh karenanya, ia dengan tegas menolak adanya konsep NKRI bersyariah. Hal ini dikisahkan saat KH Wahid Hasyim beristikharah dan setuju dihapusnya tujuh kata dari Piagam Jakarta. Dengan sebuah visi bahwa lebih penting memastikan Indonesia yang kuat terlebih dahulu.

"Bahwa NKRI, Pancasila, dan UUD 1945 sudah final. Maka lebih baik kita isi saja kemerdekaan ini dengan amal-amal Islam," ucapnya.

"Jadi persahabatan NU dengan kaum nasionalis sangat penting harus kita jaga. Kalau tidak nanti kita seperti Timur Tengah," kata Kiai Said menambahkan.

Kiai Said dan Hasto

Sementara itu, Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan, ada sejarah panjang antara Soekarnois dengan Nahdliyin. Maka itu, bisa dipahami banyak pihak yang tidak senang ketika keduanya bersatu.

"Ketika Soekarnois dan Nahdliyin bersatu, banyak pihak tidak senang. Kita harus menjawab tantangan ini bersama-sama," ucapnya.

"Maka fitnah bahwa PDI Perjuangan anti Islam sudah jelas tak benar. Bagaimana mungkin anti Islam, terbukti PDI Perjuangan dekat dengan NU," kata Hasto memungkasi.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini