nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengelolaan Sampah di Indonesia Harus dari Rumah Sendiri

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Selasa 08 Oktober 2019 19:51 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 08 337 2114454 pengelolaan-sampah-di-indonesia-harus-dari-rumah-sendiri-7WoxFgqiLl.jpg Tumpukan Sampah di Pintu Air Manggarai, Jakarta (foto: Okezone)

JAKARTA - Perubahan pola pikir, gaya hidup dan budaya diperlukan dalam pengelolaan sampah untuk menjaga keberlanjutan hidup dan melindungi bumi dari kerusakan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati menerangkan, masyarakat dapat memulai dengan hal-hal yang sederhana, untuk melindungi bumi dari kerusakan akibat pengelolaan sampah yang tidak benar dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya, dengan memilah sampah mulai dari rumah masing-masing.

Baca Juga: Kurangi Limbah Plastik, Warga Aceh Barat Kumpulkan 1,9 Ton Sampah 

Menurut dia, pengelolaan sampah dari sumbernya menjadi sangat penting untuk mengurangi beban pengelolaan di hilir. Untuk itu perlu adanya euforia revolusi mental pengelolaan sampah dengan merubah perilaku tidak menggantungkan kepada petugas kebersihan dan pemulung.

“Kita juga mengambil tanggung jawab untuk menjaga kebersihan mulai dari diri sendiri, mulai dari rumah sendiri dengan menerapkan prinsip mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang sampah (Prinsip 3R: reduce, reuse dan recycle) di tempat masing-masing," ujar dia.

Hambat Aliran Air, Petugas Bersihkan Sampah di Sungai 

Vivin mengatakan, perlunya komitmen yang kuat baik dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan komunitas. Peran pemerintah daerah dan dunia usaha untuk mendukung gerakan ini menjadi sangat penting.

“Pemerintah daerah diimbau dapat menyediakan pengangkutan terpilah atau terjadwal untuk sampah yg dapat dikompos, di daur ulang maupun residu. Sementara itu dunia usaha sudah mulai mendesain kemasan yang dapat didaur ulang dan tidak terbuang ke TPA maupun lingkungan,” ujarnya.

Seperti diketahui, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah meluncurkan Program Gerakan Nasional Pilah Sampah dari Rumah pada tangal 15 September 2019 di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, yang diikuti oleh sekitar 1.000 peserta yang berasal dari sejumlah Kementerian dan Lembaga, Organisasi Masyarakat, Komunitas, dan masyarakat umum.

Gerakan pilah sampah dari rumah ini, kata Vivien, merupakan lanjutan dari gerakan minim sampah yang sudah terlihat masif di masyarakat guna memastikan sampah yang tidak terkurangi dapat dipilah, dikumpulkan dan diangkut ke tempat pengolahan dan pemrosesan akhir.

“Pemilahan sampah dari rumah juga merupakan langkah untuk menyediakan bahan baku daur ulang, sehingga jumlah sampah yang dikirim ke TPA semakin sedikit karena jumlah pemanfaatan sampah semakin meningkat,” tuturnya.

Gunungan Sampah Menumpuk di Pintu Air Manggarai

Dengan rata-rata tiap orang Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 0,7 kilogram per hari, jumlah timbulan sampah di Indonesia secara nasional menjadi sebesar 175.000 ton per hari atau setara kurang lebih 65 juta ton per tahun, dengan komposi organik (sisa makanan dan sisa tumbuhan) sebesar 50 persen, plastik sebesar 15 persen, dan kertas sebesar 10 persen. Sisanya terdiri dari logam, karet, kain, kaca, dan lain-lain.

Dari total timbulan sampah plastik, yang didaur ulang diperkirakan baru 10-15 persen saja, 60-70 persen ditimbun di TPA, dan 15-30 persen belum terkelola dan terbuang ke lingkungan, terutama ke lingkungan perairan seperti sungai, danau, pantai, dan laut.

Persoalan lainnya timbul karena tercampurnya sampah organik dan sampah anorganik sehingga menimbulkan kesulitan baru untuk mengelolanya.

Lebih lanjut dikemukakan Vivien, melihat profil pengelolaan sampah nasional, sumber sampah yang utama dihasilkan dari rumah tangga sebesar 36 persen; pasar serta perniagaan memberikan kontribusi timbulan sampah sebesar 38 persen dan sisanya 26 persen berasal dari kawasan, perkantoran dan fasilitas publik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini