nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polisi Sebut Buzzer Tak Masalah Selama Positif

Muhamad Rizky, Jurnalis · Selasa 08 Oktober 2019 19:27 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 08 337 2114442 polisi-sebut-buzzer-tak-masalah-selama-positif-64YBs4PxNW.jpg Kombes Asep Adi Saputra (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes (Pol) Asep Adi Saputra merespons soal pernyataan Kepala Staf Presiden Moeldoko terkait buzzer media sosial pro pemerintah yang belakangan ramai di publik.

Asep menjelaskan, buzzer adalah sebuah frase yang berarti sebagai dengung untuk menyebarluaskan suatu konten atau narasi yang bisa digunakan secara positif maupun negatif.

Menurut Asep, selama buzzer tersebut digunakan secara positif maka hal itu masih boleh untuk dilakukan.

"Sepanjang itu konstruktif dan positif tidak ada hal-hal yang melanggar hukum itu tidak persoalan membawa kebaikan," kata Asep di Jalan Antasari, Jakarta Selatan, Selasa (8/10/2019).

Buzzer

Baca Juga: Kasus Grup Whatsapp STM, 5 Orang Ditangkap dari Kreator hingga Buzzer

Namun kata Asep sebaliknya apabila buzzer tersebut berupaya untuk menebarkan konten yang memang melawan aturan hukum, maka perlu untuk di tertibkan.

"Tetapi buzzer yang memiliki niat tidak baik seperti menyebarkan hoax, ujaran kebencian dan sebagainya itu melanggar hukum dan akan kami tindak secara proporsional," paparnya.

Buzzer media sosial pro pemerintah belakangan mencuat di media masa. Kepala Staf Presiden Moeldoko mengklaim bahwa keberadaan buzzer pro Jokowi tersebut tidak dalam satu komando.

Menurut dia, para buzzer tersebut merupakan orang-orang yang berada di dalam relawan Jokowi saat Pilpres 2014 dan Pilpres 2019 sehingga menjadi pendukung fanatik Jokowi lewat medsos.

Moeldoko ingin para buzzer di dunia maya bisa mencari diksi lain bila ingin mengkritik seseorang dengan tidak mengecilkan dan menyerang pribadinya. Selain itu, ia pun meminta para buzzer untuk pensiun dalam membangun opini-opini di medsos.

Jokowi dan Moeldoko diketahui sudah pernah mengumpulkan para buzzer pendungnya setelah Pilpres 2019 lalu. Dalam kesempatan itu, pemerintah sudah meminta relawan di dunia maya itu lebih bersifat dewasa dan tidak emosional.

"Tapi kan kadang-kadang sekali lagi ini kan komunikasi yang sudah terlanjur polarisasi. Komunikasi yang sudah terpolar, jadi perlu memang masing-masing menyadari lah bagimana membangun lagu situasi yang enjoy. Jangan politik diwarnai dengan tegang, politik diwarnai dengan saling menyakiti. Menurut saya nggak pas lah," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini