Soal UU KPK, PDIP Sarankan Judicial Review Ketimbang Terbitkan Perppu

Muhamad Rizky, Okezone · Selasa 08 Oktober 2019 14:06 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 08 337 2114265 soal-uu-kpk-pdip-sarankan-judicial-review-ketimbang-terbitkan-perppu-hdQJSxHvJQ.jpg Politikus PDIP Hendrawan Supratikno (foto: Sindo)

JAKARTA - Polemik mengenai UU KPK terus bergulir. Sejumlah pihak mendesak agar Presiden Joko Widodo segera menerbitkan Perppu KPK. Namun PDIP di DPR tetap meminta agar Jokowi tidak mengeluarkan Perppu. 

Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR Fraksi PDIP, Hendrawan Supratikno mengatakan, sikap resmi fraksi PDIP menolak Perppu dan menyarankan agar perubahan UU KPK yang baru saja diketok itu dilakukan melalui judicial review atau legislasi review.

Baca Juga: Perppu KPK Dinilai Bukan Pilihan yang Tepat 

Ketika Perempuan-Perempuan Cantik Menyerukan Penolakan Perppu KPK

"Pandangan resmi kami di fraksi, sebaiknya tetap melalui judicial review dan legislative review. Sedikit memakan waktu tetapi prosesnya lebih sehat, ada di jalur hukum, bukan dengan hasil tarik menarik kepentingan politik," kata Hendrawan kepada wartawan, Selasa (8/10/2019). 

Hendrawan menjelaskan semangat awal merevisi UU KPK dilakukan sebagai lembaga super body KPK dinilai perlu check and balances. Maka dibuat dewan pengawas dengan harapan bisa menjadi penyeimbang. 

"Pada awalnya sebenarnya sederhana yaitu harapan agar sebuah lembaga hukum dengan wewenang sangat besar, bahkan disebut sebagai super body, diawasi dengan tata kelola yang sehat (good governance). Itu sebabnya dibuat Dewan Pengawas," tuturnya. 

Baca Juga: Pukat UGM Sebut Presiden Jokowi Didukung Rakyat untuk Terbitkan Perppu 

"Jadi KPK yang semula pakai sistem single tier (satu lapis) diganti dengan two tiers (dua lapis) agar terjadi proses check and balance secara internal," sambung Hendrawan. 

Ia menambahkan, sistem yang baru kali ini mampu bertahan berabad-abad dalam menjaga dan menciptakan suatu keseimbangan dalam kewenangan yang besar dan dinilai sebagai tata kelola modern yang bagus. "Sekarang banyak orang protes tapi belum baca UU revisinya," tukasnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini