nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sofyan Basir Dituntut 5 Tahun Penjara Terkait Suap PLTU Riau-1

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Senin 07 Oktober 2019 16:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 07 337 2113904 sofyan-basir-dituntut-5-tahun-penjara-terkait-suap-pltu-riau-1-2ShLVKd6q0.jpg Eks Bos PT PLN Sofyan Basir saat menghadiri sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (7/10/2019). (Foto : Okezone.com/Arie Dwi Satrio)

JAKARTA – Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Sofyan Basir, dituntut lima tahun penjara oleh jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain pidana badan, Sofyan Basir juga dituntut membayar denda Rp200 juta subsidair tiga bulan kurungan.

Jaksa meyakini Sofyan Basir bersalah ‎karena telah membantu mengatur pertemuan untuk membahas pemufakatan jahat berupa suap antara penyelenggara negara dan pengusaha terkait kontrak kerjasama proyek PLTU Riau-1.

‎"Menyatakan, Sofyan Basir terbukti secara sah bersalah dan melanggar Pasal 12 huruf a Juncto Pasal 15," kata Jaksa KPK Ronald Worotikan saat membacakan surat tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (7/10/2019).

Kasus Dugaan Suap PLTU Riau-1, KPK Tahan Dirut Nonaktif PLN Sofyan Basir

Jaksa menimbang hal-hal yang memberatkan maupun meringankan dalam menjatuhkan tuntutan untuk Sofyan Basir. Dalam pertimbangan jaksa, hal yang memberatkan tuntutan yakni karena perbuatan Sofyan Basir tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi.

Sementara hal-hal yang menjadi pertimbangan jaksa untuk meringankan tuntutan yakni karena Sofyan dinilai bersikap sopan selama menjalani persidangan, belum pernah dihukum, serta tidak menikmati uang tindak pidana suap.

Sebelumnya, Sofyan Basir didakwa Jaksa KPK sebagai pihak yang mengatur pertemuan untuk membahas pemufakatan jahat suap kontrak kerjasama proyek PLTU Riau-1.

Pertemuan tersebut terjadi antara Wakil Ketua Komisi VII DPR, Eni Maulani Saragih, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar, Idrus Marham, dan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johanes Budisutrisno Kotjo.

Menurut Jaksa, Sofyan Basir diduga mengetahui ‎bahwa Eni Saragih dan Idrus Marham menerima imbalan atau suap secara bertahap dari Johanes Kotjo sebesar Rp4,7 miliar. Uang tersebut disinyalir untuk mempercepat proses kesepakatan proyek Independent Power Producer (IPP) PLTU mulut tambang Riau-1.

Awalnya, Eni Saragih ditugaskan Ketua Fraksi Partai Golkar, Sety‎a Novanto (Setnov), untuk membantu Johanes Kotjo memuluskan kesepakatan kontrak kerjasama PLTU Riau-1. Eni kemudian meminta bantuan kepada Sofyan Basir.

Usai Libur Lebaran, KPK Kembali Periksa Direktur Utama PLN Nonaktif Sofyan Basir

Sofyan Basir beberapa kali melakukan pertemuan dengan Eni Saragih dan Johanes Kotjo untuk membahas proyek PLTU. Sofyan pun menyerahkan ke anak buahnya Direktur Pengadaan Strategis 2 PT PLN, Supangkat Iwan Santoso, untuk mengurus proposal yang diajukan Johanes Kotjo.


Baca Juga : Melchias Markus Mekeng Tak Penuhi Panggilan KPK

Atas bantuan Sofyan Basir, perusahaan Johanes Kotjo pun mendapatkan jatah proyek PLTU Riau-1. ‎Eni dan Idrus menerima imbalannya sebesar Rp4,7 miliar dari Johanes Kotjo karena telah membantunya.

Atas perbuatannya, Sofyan Basir didakwa melangar Pasal 12 a atau Pasal 11 juncto Pasal 15 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 56 ke-2 KUHP.


Baca Juga : 3 Kali Mangkir, KPK Ultimatum Melchias Mekeng

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini